Loading...

Tuesday, July 20, 2010

Berpeganglah Pada Firman Tuhan


Berpeganglah Pada Firman Tuhan


“Bagianku ialah TUHAN, aku telah berjanji untuk berpegang pada firman-firman-Mu. Aku memohon belas kasihan-Mu dengan segenap hati, kasihanilah aku sesuai dengan janji-Mu. Aku memikirkan jalan-jalan hidupku, dan melangkahkan kakiku menuju peringatan-peringatan-Mu. Aku bersegera dan tidak berlambat-lambat untuk berpegang pada perintah-perintah-Mu. Tali-tali orang-orang fasik membelit aku, tetapi Taurat-Mu tidak kulupakan. Tengah malam aku bangun untuk bersyukur kepada-Mu atas hukum-hukum-Mu yang adil. Aku bersekutu dengan semua orang yang takut kepada-Mu, dan dengan orang-orang yang berpegang pada titah-titah-Mu. Bumi penuh dengan kasih setia-Mu, ya TUHAN, ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku”. ( Mazmur 119:57-64 )


Ada oleh-oleh cerita dari orang-orang yang baru kembali dari ziarah ke Yerusalem, yaitu bahwa ketika ingin naik ke puncak gunung Sinai, orang harus berpegang pada “tongkat Musa” (replika). Kalau seseorang tidak berpegang pada tongkat Musa (replika) maka sudah pasti ia tidak akan bisa naik sampai ke puncak Sinai. Dari cerita ini jelas bahwa ada semacam paham yang berkembang bahwa replika tongkat Musa mengandung kekuatan (kuasa) yang dapat memberi semangat dan daya dorong bagi mereka yang memegang saat naik ke gunung Sinai.

Paham ini mirip dengan cerita di daerah tertentu di Indonesia yaitu bahwa ketika seorang anak ingin keluar dari kampung untuk pergi merantau maka ayah atau opanya biasa memperlengkapinya dengan pegangan melalaui “ mandi air kembang” atau “tali kain” di pinggang atau “ gelang akar bahar” di tangannya. Pemandian air kembang atau benda-benda yang dipakai itu adalah sebagai pegangan baginya karena dipahami berisi kekuatan atau kuasa yang dapat melindungi dari rencana jahat dan dapat membuat hidup berhasil di tanah rantau.

Pada masa hidupnya, Pemazmur tidak mau mengambil bagian dalam kekuatan atau kuasa seperti yang ditawarkan melalui paham-paham tersebut di atas. Pegangan berupa benda atau mantera-mantera yang terkait dengan dunia dan alam gaib tidak akan mampu menyelamatkan. Hanya Tuhan dan Firman-Nya yang menjadi pegangan dan andalannya. Karena itu, Ia berkata : “ Bagianku ialah TUHAN, aku telah berjanji untuk berpegang pada firman-firman-Mu”.

Mari lepaskan semua pegangan yang mungkin masih ada, baik benda atau “opo-opo”, “jimat”, “penjaga badan”, “ajian pelaris”, “ajian penjaga rumah”, “fu-fu, “mantera” atau “susuk” dan bersegeralah jangan berlambat-lambat untuk menjadikan Tuhan bagian hidup kita serta berpegang pada Firman-Nya. Itulah yang akan menyelamatkan dan membuat hidup kita berhasil.


Soli Deo Gloria


1 comment:

  1. 'KIAMAT DAN KEADAANNYA'

    http://www.scribd.com/doc/36025155/Surat-Kepada-Yang-DiPertuan-Agong-Dan-Mufti-Mufti

    ReplyDelete