Loading...

Monday, January 12, 2009

OPINI ANALISIS ATAS PENGARUH SESAT DA VINCI CODE

OPINI: ANALISIS ATAS

PENGARUH SESAT DA VINCI CODE

BENARKAH JESUS PERNAH MENIKAH ???


Penulis membuat tulisan ini adalah sebagai tindakan apologet atau reaksi dari sebuah lembaga gereja untuk menghempang fenomena penyesatan dan sinkretisme (pencampur –adukan agama) yang actual baru-baru ini. Tetapi tidak lebih dari sebuah kesan yang didapatkan selama membaca novel Dan Brown dan menonton film “The Davinci Code” yang masih terus diputar di bioskop-bioskop di kota besar di Indonesia. Pada mulanya penulis merasa geli dan acuh dengan spekulasi filsafat ini, tetapi lama kelamaaan, penulis merasakan ada beban moral bukan sebagai seorang pendeta protestan saja, tetapi beban moral sebagai seorang pengikut Jesus setia. Beban itu didorong juga sebagai seorang muda yang tidak menyukai bisnis controversial, yang dipakai sebagai ajang untuk mengumpulkan popularitas dan materi, seperti fenomena Harry Potter dan The Lord of the ring. Penulis berharap , kiranya pembaca bijaksana dalam memegang teguh keyakinan anda yang tulus yang telah diaminkan sejak semula tanpa diombang-ambingkan dongeng-dongeng yang tidak akurat dan faktual.


Yesus Menikah?

Judul di atas memang sudah pernah dipakai W.E. Phillips : Was Jesus Merried ? (New York, Harper and Row, 1970), tetapi beliau lebih banyak memakai tafsiran psikologis daripada analisa konteks social pada saat itu, sehingga banyak ayat-ayat yang dipaksakan dalam mendukung kesimpulan bahwa Jesus bagi W.E. Phillips agaknya pernah menikah. Tetapi menurut beberapa pakar – pakar yang lebih teliti seperti C.H. Dodd dan Kelly J.N.D : Early Christian Doctrines (New York, Harper & Row , 1958), memberikan kesimpulan bahwa teori tentang pernikahan Jesus adalah sebuah teori dangkal yang memakai “The Hermeneutic Suspecion” ( Penafsiran yang Mencurigai) tanpa ada dukungan fakta yang berarti, penafsir-penafsir nakal yang menyimpulkan bahwa Jesus pernah menikah dengan Maria Magdalena (nama aslinya disebut Miriam dari Migdal atau Magdala, yaitu sebuah desa kecil di Barat Laut Galilea)dan melahirkan Sarah (yang diselamatkan tentara Templar ke Perancis), adalah yang memakai teori sumber Qumran (ditemukan 1945) dan Nag Hammadi (ditemukan 1950) yang ditemukan di gurun pasir Yudea pada tahun 1950, sedangkan yang menyatakan bahwa Jesus sama sekali hanya mempunyai hubungan spiritual antara Guru / Rabbi dengan muridnya adalah penafsir yang sah yang memakai teori sumber tertua yaitu Quelle (Bhs Jerman artinya “sumber) dan Sumber Didache (sumber tradisi tertua yang berisi pengajaran dan hal-hal liturgis) pada awal abad 2 M.

Teori Sumber adalah sebagai salah satu alat ukur resmi dalam memahami dasar-dasar eksegese (penafsiran dari dalam teks, sedangkan untuk bereksegese, siapapun bisa melakukan penafsiran liar yang lari dari teks aslinya. Seperti dalam film garapan Ron Howard yang menceritakan bahwa Prof Robert Langdon, sebagai Prof Kriptologi dari Harvard, Amerika, yang menemukan kejanggalan kematian rekan seniornya, mencoba berdiskusi tentang kaitan kematian itu dengan lukisan Leonardo Davinci. Akhirnya Prof. Leigh Teibing membuat kesimpulan tentang kaitan antara kelompok Opus Dei dari Roma Vatikan, sebagai ordo nonstructural yang dipakai Paus untuk melakukan missi rahasia. Sorotan terhadap Ordo Opus Dei yang dikenal loyal dan superfanatik ini, diceritakan Dan Brown sebagai dalang pembunuhan beberapa pakar yang mengetahui rahasia dibalik beberapa lukisan Leonardo Davinci (1452- 1529 M), yang adalah mantan Pastor katolik yang dipecat karena kekritisannya terhadap disiplin gereja. Cerita ini berkembang terus, sampai akhirnya Sophia sebagai rekan Robert Langdon penasaran dengan kode Davinci yang ditemukan mereka. Akhirnya cerita ini memberi kesan spekulatif yang menyatakan bahwa bukan tentang di mana posisi mayat Maria Magdalena saja yang paling utama, tetapi menjaga keyakinan hidup. Novel Dan Brown, bagi penulis bukan untuk menekankan issu tentang hubungan Jesus dengan Maria Magdalena, tetapi mungkinkah issu itu dapat merobohkan keyakinan yang sudah ada ? Novel atau Film yang setia dengan teks asli tersebut, terkesan sedang mempermainkan pembaca dalam menggumuli wacana-wacana omong kosong yang jauh melenceng dari fakta sejarah yang ada.

Novel Dan Brown sebenarnya berbasiskan Agama Gnostik, yaitu suatu agama yang muncul di Roma Yunani sejak abad ke 2 BC – 5 M. Agama Gnostik ini melahirkan banyak injil-injil gnostik yang beredar untuk mengimbangi kekuatan Kekristenan pada abad ke-2 M. Injil yang tertua yang diterbitkan agama gnostik adalah Injil Thomas, dan kemudian Filipus, Maria Magdalena dan Injil Barabas. Tetapi tak satupun dari Injil-injil kanon atau resmi beredar di kalangan gereja mula-mula pada awal abad ke-2 yang mengakui atau menyaksikan bahwa injil Gnostik di atas adalah sebuah injil, karena pada umumnya injil Gnostik tidak berkaitan langsung tentang penyelamatan manusia melalui Jesus Kristus, tetapi berisi tentang nilai-nilai asketis dan individu untuk dapat menyelamatkan diri sendiri, dengan keluar dari tubuh fana yang disebut penjara jiwa yang bebas, melalui cara-cara asketis, yaitu hidup tidak menikah dan menyiksa diri dengan puasa. Demikian juga dengan dasar dari tulisan Davinci Code adalah berasal dari Injil Filipus dan Injil Maria Magdalena yang ditemukan di Nag Hammadi Mesir pada tahun 1950, adalah injil yang berbahasa Koptik Mesir, bukan berasal dari Bahasa Aram, yaitu bahasa yang dipakai pada zaman Jesus. Sehingga kedua Injil Gnostik yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Inggris ini tidak dapat dipakai sebagai dasar yang kuat dalam menafsir kehidupan Jesus. Contohnya Peristiwa Pernikahan di Kana, ditafsirkan dalam Injil Maria Magdalena adalah sebagai peristiwa pernikahan Jesus sendiri dengan Maria Magdalena, padahal sudah jelas dalam Injil Johannes dan Lukas, bahwa Jesus adalah sebagai tamu yang diundang bersama dengan ibunya Maria. Contoh kedua , yaitu peristiwa kehadiran kebangkitan Jesus dari kubur dan menjumpai Maria Magdalena ditafsirkan sebagai cara Jesus untuk menjumpai istrinya, padahal Maria Magdalena bukan sendirian tetapi bersama teman wanitanya datang untuk menaburkan wewangian bagi mayat yang ternyata sudah bangkit mengalahkan maut itu. Masih banyak lagi contoh-contoh yang sangat melenceng dari teks kanon, yang dianggap tak mungkin diuraikan satu persatu di Koran ini.

Selain itu Prof Leigh Teibing, seperti dalam novel Da Vinci Code itu, mengungkapkan bahwa dalam Konsili (Sinode Godang atau Muktamar bagi orang Indonesia) Nicea yang berlangsung pada tahun 325 M, disebutkan telah dicampuri kaisar atau pemerintah Roma (politik) pada saat itu, sehingga keputusan agama yang beranggotakan para uskup agung dari berbagai belahan dunia pada saat itu, telah mengumpulkan injil-injil tak resmi dan membakarnya, serta menetapkan dari 80 injil yang beredar di kalangan Kristen pada saat itu, hanya keempat Injil (Injil Matius, Injil Markus, Injil Lukas dan Injil Yohannes) yang resmi diakui sebagai Injil yang bias dibaca dan disebarluaskan. Sedangkan kodex Filipus dan kodex Maria Magdalena tidak pernah dianggap sebagai injil dan harus dipunahkan. Keputusan ini menurut “Davinci Code” adalah keputusan yang menindas dari sang penguasa, karena dianggap melindungi iman umat Kristen agar tidak terkontaminasi dengan ajaran yang merongrong wibawa gereja Katolik pada saat itu. Sebenarnya pendapat Davinci Code di atas ada benarnya juga, bahwa gereja serius menjaga iman umatnya, tetapi TIDAK BENAR BAHWA KONSTANTINE yang mempengaruhi para uskup untuk memutuskan perkara agama yang tidak dipahaminya, karena Kaisar Konstantin pada saat itu belum resmi dibaptis. Konstantin hanya bertindak sebagai negarawan yang memfasilitasi akomodasi Konsili Nicea, tetapi sama sekali tidak memadai pengetahuannya dalam perdebatan dogma , sehingga keputusan Konsili itu adalah murni sebagai keputusan tokoh agama bukan tokoh politik, karena sejak awalnya, agama dan politik tidak bisa dicampur adukkan. Prinsip hidup : “Dari Kaisar kembalikan ke Kaisar, dari Tuhan kembalikan ke Tuhan” masih tetap berpengaruh pada saat itu. Keputusan untuk “membuang “ injil Gnostik pada saat itu didasarkan pada pertimbangan bahwa injil –injil tersebut tidak pernah menekankan keselamatan yang dibawa oleh Jesus Kristus melalui cerita kematian, kebangkitan dan kenaikannya ke sorga.

Lukisan Leonardo Davinci yang berjudul “The Last Supper” (Perjamuan Terakhir), yang sekarang banyak dipakai atau digantungkan di dinding gereja atau rumah-rumah pribadi , adalah lukisan yang dianggap Dan Brown sebagai rahasia lukisan Leonardo yang paham secara mendalam tentang gossip yang beredar di kerahiban Katolik, bahwa yang duduk di sebelah kanan Jesus bukan Johannes, murid kesayangannya, tetapi Maria Magdalena. Penafsiran lukisan ini membuktikan bahwa Davinci , si jenius nakal itu, telah menggoreskan issu yang didengar. Tetapi lukisan yang dibuat pada abad 15 M itu tidaklah dapat dianggap benar-benar terjadi pada abad 1 M, karena Davinci, menurut Dan Brown, sebagai tokoh yang menganggap issu itu pernah ada, yang berpijak pada Injil Maria Magdalena. Bagi penulis pribadi lukisan itu tidak seharusnya ditafsirkan melenceng dari teks aslinya, karena jika Davinci melukis Maria Magdalena, dimanakah murid yang kedua belas yang juga ikut dalam
Perjamuan Terakhir ?
. Selain itu , dilaporkan Iraeneus, teolog gereja pada abad ke 2 M, bahwa Johannes memang mempunyai kulit putih dan berperilaku lembut, sehingga tidak ada cukup bukti bahwa Maria Magalena menggantikan Johannes dan meja perjamuan.

Kesimpulan

Penulis memang melihat, bahwa novel fiksi dan film documenter “The Davinci Code” sarat dengan kesimpulan-kesimpulan yang premature, yang dibuat bukan untuk membantah ajaran yang ada, tetapi lebih, lebih menonjolkan aspek retoris dan sensasional belaka, sehingga dapat menuai uang dari gossip picisan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan itu. Syukurlah Jesus, Sang Guru , yang menekankan Kasih itu selalu mengajak umat kristiani yang tersinggung, untuk dapat tenang dan memberi berkat kepada musuh, yang menyebarkan ajaran sesat tentang tokoh Jesus. Bagi penulis pribadi, novel fiksi atau film “The Davinci Code” tidak akan mampu menggoyahkan keyakinan yang sudah berakar dan berbuah: karena Ia tidak pernah menikah dengan siapapun selama 33 tahun hidup di dunia ini.

11 comments:

  1. http://sahabat-gembala.blogspot.com/2009/01/opini-analisis-atas-pengaruh-sesat-da.html


    Keputusan untuk “membuang “ injil Gnostik pada saat itu didasarkan pada pertimbangan bahwa
    injil –injil tersebut tidak pernah menekankan keselamatan yang dibawa oleh Jesus Kristus
    melalui cerita kematian, kebangkitan dan kenaikannya ke sorga.

    di dalam Isi Torah , Zabur dan Injil yang asli ( barnabas ) memang tiada pernah disebutkan Jesus sbg tuhan..Jesus / isa adalah nabi. . . maka dari itu, paus paulus dan sekutu Iluminatinya mencoba merubah injil dan mentuhankan nabi isa... sehingga dari 12 murid nabi isa, hanya 4 yang diakui dan dijadikan injil dalam perjanjian baru..

    ReplyDelete
  2. Dead Sea Sea Scroll itu lebih tua dari Quelle. Dua tokoh dalam menerapkan metode ini adalah Prof. Eliezer Sukenik dan Prof. Albright. Menilik bentuk aksaranya, Albrght dan Cross, muridnya, menyimpulkan naskah-naskah Qumran yang paling muda tidak lebih dari tahun 135M dan paling tua berasal dari abad II SM ( antara tahun 225 – 200 SM ). Berarti Dead Sea Scroll lebih otentik. Check dulu sebelum menulis! Yesus tuhan orang kristen memang pernah menikah.

    ReplyDelete
  3. Cerita gereja Mesir dan sampai di mana penindasan yang mereka derita: pertama dari orang-orang Romawi pagan kemudian dari tangan gereja Roma. Agar ibu kota imperium Roma juga menjadi ibu kota agama baru, maka para uskupnya melakukan penindasan terhadap jemaat-jemaat Kristen di Mesir dan menuduh mereka kelompok heretik (bid'ah). Tidak diragukan lagi bahwa siksaan yang diderita oleh umat Koptik Mesir di tangan gereja Roma adalah lebih berat daripada yang mereka terima sebelumnya. Inilah barangkali sebabnya kenapa mereka menyambut tentara Islam saat tiba di Mesir pada tahun 640 M. di bawah pimpinan Amr bin `Ash setelah mengusir tentara Romawi dan mengembalikan gereja-gereja Mesir kepada uskup-uskup Koptik.

    ReplyDelete
  4. saya umat kristen protestan dan umur saya 24 tahun saya tinggal di manado, saya ingin bertanya soal hari sabat yang dikuduskan ALLAH. sebenarnya hari sabat itu hari sabtu apa hari minggu? soalnya saya sudah membaca yang ada dalam alkitab mengenai hari sabat... dalam : Matius 28:1, Markus 16:9, Lukas 24:1, Yoh 20:1, Yohanes 20:19, sedangkan umat kristen protestan beribadah pada hari minggu. saya mohon pencerahannya karena saya tidak bisa menjelaskan kepada teman2 jika mereka mempertanyakan pertanyaan ini. sebelumnya terimakasih...

    ReplyDelete
    Replies
    1. semua hari adalah hari Tuhan,,,jadi tidak perlu bingung kenapa hari minggu bukan sabtu? jika mau, setiap haripun bisa pergi kegereja,,,karena
      yang terpenting bukan harinya, tapi yang terpenting adalah hati yang sungguh-sungguh datang kepada Tuhan Yesus,,,ingin memuji dan memuliakan Tuhan Yesus,,sekiranya jawaban ini bisa membuat anda tidak bingung lagi,,,terimakasih

      Delete
  5. Injil menjelaskan hari beribadat adalah hari sabath (sabtu ) bukan minggu (boleh baca Injil).hari minggu adalah hari orang2 romawi menyembah Dewa Matahari. agar agama Kristen bisa diterima oleh orang romawi yang paganisme maka kaisar Romawi merubah hari beribadat Kristen dari hari Sabath ke hari minggu. artinya Kristen tuh tidak lagi berpedoman kepada ajaran Injil tapi berdasarkan Konsili-konsili atau kesepakatan. berarti sama juga dengan menyembah matahari.

    ReplyDelete
  6. YANG JELAS KRISTEN SEKARANG TELAH TERCAMPURI AGAMA PAGAN!!!

    ReplyDelete
  7. Amin Amin Amin, Haleluyah Hosana Glory to Anonymous - God bless you!

    ReplyDelete
  8. haleluyah haleuluyah.....kayak orang Indian aja yah......

    ReplyDelete
  9. Tidak kira mau ibadah hari bila-bila pun boleh,yang penting kepercayaan kepada Tuhan Jesus Kristus sebagai Juruselamat dan satu-satunya jalan untuk memasuki kerajaan Allah iaitu Syurga!

    ReplyDelete
  10. Kemuliaan bagi Allah di tempat Maha Tinggi yang adalah Yesus Kristus sendiri Sang Juru Slamat umat manusia, untuk semua pengikut Kristus yaitu umat Kristiani dimanapun berada bahwa kita sudah dikuatkan oleh Allah sendiri yaitu manusia Yesus sebagai Kristus karena Allah didalam Kristus dan Kristus adalah Yesus Allah itu sendiri artinya kita sebagai pengikut Yesus Kristus mengimani bahwa Yesus Kristus sendiri adalah Allah Yang Maha Esa yang membawa kita kepada Allah (Yoh.14:6)dan Kristus ada didalam diri saya dan semua umat Kristiani yang mengimani kepada Yesus Kristus, janganlah hati kita menjadi tawar oleh setiap cobaan dan hal-hal yang menyesatkan karena Kasih Kristus tidak pernah berubah dari dulu sekarang dan selama-lamanya dan Roh Kudus sentantiasa turun atas kita semua, amin.

    ReplyDelete