Loading...

Sunday, January 11, 2009

TEOLOGI BAPTISAN MENURUT IMAN KRISTEN


TEOLOGI BAPTISAN
MENURUT IMAN KRISTEN

“ Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,”(Matius 28 : 19) 


I. Pendahuluan

Baptisan adalah merupakan salah satu ajaran Gereja yang paling prinsipil. Dalam confessi (yakni rumusan ajaran kepercayaan atau doktrin) gereja- gereja protestan Calvinis dan Lutheran (GBKP, HKBP, GPIB, GKPS,dsb) ditegaskan adanya 3 ciri khas “Gereja yang benar” antara lain :
  1. Apabila dilaksanakan pemberitaan Firman Tuhan yang murni dan benar.
  2. Apabila berlangsung pelayanan Sakramen yaitu, Baptisan Kudus dan Perjamuan Kudus.
  3. Apabila masih dijalankan Hukum Siasat Gereja yang didasarkan atas kasih Kristus untuk melindungi kemurnian kehidupan warga gereja serta menjaga pemberitaan Firman yang benar.
Karena baptisan merupakan ajaran dan dogma Gereja yang sangat prinsipil, maka wajib diketahui, dipahami, dimengerti dan dihormati oleh setiap orang percaya.Dogma dirumuskan berdasarkan kepercayaan, keyakinan dan imannya terhadap penyataan Allah sebagaimana tertulis dalam Alkitab. Warga jemaat harus sedemikian yakin dan percaya akan sakralitas baptisan yang dia terima. Baptisan berkekuatann rohani untuk empat hal, antara lain : (1) Keampunan dosa ; (2) Kelahiran kembali ; (3) Kelepasan dari kematian dan cengkraman(ikatan) iblis; (4) Keselamatan kekal.
Dewasa ini merajalela ajaran baru yang mengatakan bahwa baptisan bayi (anak-anak) yang dilaksanakan di dalam gereja-gereja Protestan,gereja Katolik tidak syah (valid) dan tidak Alkitabiah. Mereka mengajarkan bahwa baptisan yang syah (valid) dan menurut Alkitab adalah ketika seorang telah menjadi dewasa dan harus “diselamkan” ke dalam sungai, kolam, danau, bak air, dll.Oleh karena itu, kita perlu memberi penjelasan yang bersifat teologis dan alkitabiah tentang arti, makna, hakekat dan kedudukan baptisan yang dilaksanakan oleh gereja-gereja Protestan sebagai institusi (lembaga Kristus). Tujuannya untuk meneguhkan iman semua warga gereja tentang nilai dan berkat yang dia terima melalui baptisan, dan dengan demikian tak seorangpun dari mereka jatuh kepada tipuan dan rayuan sesat yang meminta mereka menerima kembali baptisan berulang-ulang, hanya oleh karena ketidaktahuannya tentang makna baptisan ini.
Sekarang kita telah selesai membahas tentang ketiga bagian utama pengajaran Kristen yang umum yaitu : Kesepuluh Firman Allah, Pengakuan Iman Rasuli, dan Doa Bapa Kami (Lihat Bab 10,11 dan 12).Sebagai tambahan, kita masih harus berbicara tentang kedua sakramen yang Kristus tetapkan. Paling tidak secara singkat, orang Kristen hendaknya menerima petunjuk umum mengenai hal-hal ini. Sebab tanpa kedua sakramen ini, tak seorang pun dapat menjadi orang Kristen (Baptisan Kudus dan Perjamuan Kudus). Sakramen adalah tanda dan meterai yang kudus serta kasatmata, yang telah ditetapkan oleh Allah. Melalui penerimaan sakramen, diterangkan-Nya dan dimeteraikan-Nya kepada kita secara lebih jelas lagi janji Injil, yaitu bahwa Dia menganugerahkan kepada kita pengampunan semua dosa dan hidup yang kekal, hanya berdasarkan rahmat, karena kurban Kristus yang satu- satunya, yang telah terjadi di kayu salib.
Pertama-tama kita akan memperhatikan Baptisan, yang melaluinya kita menjadi umat Kristen. Supaya dapat dimengerti dengan benar,kita akan membahasnya secara terinci dan hanya memperhatikan apa-apa yang harus diketahui. Biarlah para ahli yang menjelaskan bagaimana Baptisan itu harus didukung dan dipertahankan terhadap bidat-bidat dan ajaran sesat.

II. Etimologi Baptisan

Kata Baptisan berasal dari kata Yunani, yaitu bapto, atau baptizo yang memiliki arti membersihkan atau membenamkan atau mencelupkan yang artinya :
  1. to dip : mandi, masuk ke dalam air,mencedok air
  2. immerce : membenamkan, mencelupkan
  3. to cleance or purify by washing = membersihkan atau memurnikan melalui pembasuhan
Dari makna kata baptisan tersebut jelaslah kepada kita bahwa pembersihan dalah makna yang penting dari sakramen baptisan. Alkitab menggunakan sitilah baptis” baik secara literal maupun secara figuratif. Sebagaimana yang dinyatakan dalam makna kiasan (metafora) di dalam Kis 1:5, dimana dinyatakan kelimpahan dari anugerah yaitu Roh Kudus. Dan juga di dalam Luk 12:50, dimana makna baptisan disini menyatakan penderitaan Kristus dalam kematian-Nya.
Sebaliknya di dalam Perjanjian Baru, pada pihak lain akar kata dari asal mula kata baptisan (etimologi baptisan) diambil kata baptizo, tidak menuntut selam, misalnya pembaptisan Roh juga digambarkan sebagai “pencurahan” (Kis 2:33, bd Yes 36:25,26). Dalam istilah gerejawi, bagaimanapun juga, ketika istilah baptis, baptisan digunakan tanpa kata yang bersyarat, adalah bermaksud menunjuk kepada sakrament pembersihan yang mana olehnya jiwa disucikan dari dosa dan pada saat yang sama air tersebut dicurahkan (dituangkan) kepada tubuh. Banyak istilah lain dari baptisan telah digunakan sebagai deskripsi sinonim untuk baptisan baik di dalam Alkitab dan umat Kristen mula-mula seperti permandian kelahiran kembali, pencerahan, tanda materai dari Allah, air Allah untuk hidup yang kekal, sakramen Trinitas, dan sebagainya. Di dalam bahasa Inggris, istilah Kristen adalah biasa digunakan untuk baptis. Maksudnya kata Kristen menunjuk hanya kepada akibat dari baptisan, yaitu menjadikan seseorang menjadi umat Kristen.

III. Defenisi Baptisan

Katekismus gereja Roma (Ad parochos, De bapt.,2,2,5) mendefenisikan baptisan sebagai berikut : “ Baptisan adalah sakramen kelahiran kembali oleh air di dalam firman.”(per aquam in verbo). St. Thomas Aquinas memberikan istilah ini : “Baptisan adalah penyucian luar daripada tubuh, yang diselenggarakan dengan ketentuan firman”.
Secara umum para teolog kemudian membedakan defenisi sakramen ini secara formal yaitu antara fisik dan metafisik.Oleh para teolog sebelumnya, mereka mengerti formula sakramen ini mengungkapkan tindakan penyucian dan upacara doa Tritunggal. Kemudian oleh para teolog defenisi baptisan adalah : Sakramen kelahiran kembali” , atau pernyataan Kristus yang mana kita lahir kembali kepada kehidupan rohani. Istilah “regenerasi” atau kelahiran kembali membedakan baptisan dari setiap sakramen lainnya, karena meskipun penebusan dosa memperbaharui manusia secara rohani (spiritual), agaknya ini lebih dimaksudkan kepada suatu kesadaran membawa kembali dari kematian daripada suatu kelahiran kembali secara jasmani (rebirth).
Baptisan menjadikan kita sebagai orang Kristen; dan itu diartikan bahwa kita sudah dilahirkan dari air dan Roh Kudus kepada hidup oleh anugerah. Sedangkan baptisan disisi lain ditentukan untuk memberikan anugerah kepada manusia suatu hidup rohani yang mula-mula, untuk mengubah mereka dari status seteru (musuh) Allah, menjadi status pengangkatan sebagai anak-anak Allah. Pengertian baptisan menurut katekismus Roma, adalah kombinasi dari pengertian phisik dan metaphisik. Sakramen “kelahiran kembali” (regenerasi) adalah esensi metaphisik dari sakramen, sedangkan esensi phisiknya diungkapkan oleh bagian kedua dari defenisi baptisan yaitu pencucian dengan air (unsurnya) disertai dengan doa Trinitas Kudus (formulanya). Dengan demikian baptisan adalah : peristiwa sakral (suci) yang mana kita dilahirkan kembali dari air dan Roh yaitu kita menerima suatu kehidupan baru dan rohani dan menerima martabat pengangkatan sebagai anak-anak Allah dan ahli waris kerajaan sorga”.
Tuhan Yesus Kristus telah menetapkan permandian lahiriah (baptisan Kudus) ini disertai janji yaitu : sebagaimana tubuh kita pasti dibasuh secara lahiriah oleh air, yang biasa dipakai untuk menghilangkan kotoran tubuh, sepasti itu pula kita telah dibasuh dengan “darah dan Roh-Nya “ dari kecemaran jiwa kita, yaitu mendapat pengampunan semua dosa kita dari Allah, berdasarkan rahmat, karena darah Kristus yang telah ditumpahkan-Nya bagi kita pada kayu salib, dan pembaruan oleh Roh Kudus serta pengudusan oleh-Nya menjadi anggota tubuh Kristus . (Bdk Kis 2:38, Mat 28:19, 1 Pet 3:21, Rm 6:3-4).

IV. Formula dan Unsur Baptisan
IV.1 Formula Baptisan

Formula satu-satunya dan diharuskan dari baptisan yang valid (syah) adalah : “ Aku membaptismu(atau orang ini dibaptis) dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.” Ini adalah formula baptisan yang diberikan oleh Kristus kepada murid-murid-Nya( Mat 28 : 19). Di dalam pelayanan sakramen baptisan kudus tentunya penting menggunakan kata “baptis”, jikalau tidak upacara baptisan tersebut tidak valid (syah). Hal ini adalah yang tetap dilakukan oleh gereja-gereja baik Latin dan Yunani untuk membuat pemakaian kata baptis sebagai bentuk formula baptisan. St. Ambrose (De Myst, IV) menyatakan : “Kalau seorang telah dibaptis tidak di dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dia tidak akan mendapat pengampunan dari dosa-dosanya.” St. Cyprian, menolak validitas dari baptisan yang diberikan hanya dalam nama Kristus saja, dimana ia menegaskan bahwa pemberian nama dari seluruh Pribadi Allah Tritunggal diperintahkan oleh Tuhan. ( in plena et adunata Trinitate ). Dan bapak-bapak gereja percaya bahwa para rasul membaptis orang percaya dengan formula nama Allah Tritunggal (Bapa dan Anak dan Roh Kudus) karena itu diperintahkan langsung oleh Tuhan Yesus Kristus sebagai kepala gereja sebelum Dia terangkat kesorga (Bdk.Mat 28 :19, Mark 16 : 16-20). Pernyataan yang sama banyak dinyatakan oleh penulis-penulis primitif, seperti St.Jerome (IV,in Matt), Origen (de Princ., i,ii), St.Athanasius (Or.iv,Contr.Ar), St.Augustine (De Bapt.,vi,25).

IV.2 Unsur Baptisan

Dalam sakramen baptisan unsur alami yang digunakan adalah air yang benar. Beberapa dari bapak-bapak gereja mula-mula, seperti Tertullian (De Bapt.,i) dan St. Augustine menyebutkan adalah bidat-bidat yang menolak air secara keseluruhan sebagai unsur pokok dari baptisan”. Alkitab adalah begitu positif di dalam pernyataannya yaitu menggunakan air alami dan benar untuk baptisan. St. Augustine secara positif menyatakan bahwa tidak ada baptisan tanpa air (Tr.XV in Joan). Tidakkah kita melihat apa yang dikatakan Kristus begitu jelas dalam injil Yoh 3:5 ?
Unsur alamiah dalam baptisan adalah air. Para teolog mengatakan kepada kita secara konsekuen bahwa biasanya orang akan menyatakan bahwa air adalah unsur yang sah (valid) untuk baptisan, apakah air dari air laut, air minum, air sumur,air sungai, jernih atau keruh, segar atau asin, panas atau dingin. Air yang diperoleh dari es yang mencair adalah valid (sah).

V. Baptisan Mengganti Sunat

Apa yang diwujudkan pada Perjanjian Lama oleh tanda sunat, pada masa kini diwujudkan oleh tanda baptisan. Ada kesejajaran. Baptisan pun merupakan tanda perjanjian, tanda materai janji Allah akan pengampunan dosa. Sunat adalah tanda bahwa orang selalu terikat dengan Allah (“ Aku akan menjadi Allahmu”). Demikianlah halnya dengan baptisan (Mat 28:19). Dengan kata lain, menjadi manusia Allah Tritunggal, karena terikat dengan Bapa, Anak dan Roh Kudus.
Dalam Kejadian 17 menunjukkan bahwa sunat pertama-tama mewujudkan tanda rohani. Kedua, mempunyai arti kebangsaan. Bahwa sunat bersifat kebangsaan, yang mencirikan keanggotaan bangsa Israel, tidak dapat disangkal. Umat Israel pemilik sunat tersebut disamakan dengan bangsa Israel (PL). Dalam Kej 17 : 10,11,13,14 sunat disamakan dengan perjanjian yang dibuat oleh Abraham (Bnd Kis 7:8). Artinya, sunat menandai gerakan yang penuh kasih karunia dari Allah menuju manusia. Selanjutnya Perjanjian Lama berbicara tentang sunat sebagai materai”( Rm 4:11) atas pemberian kebenaran Allah. Karena itu sunat menjadi tanda kasih karunia dimana Allah memilih dan menandai orang-orang milik-Nya. Abraham adalah pokok zaitun yang asli yang ditanam TUHAN YAHWEH. Sebagai bapak orang beriman, Abraham dipilih Allah dan memberikan tanda perjanjian” dengan keturunannya yaitu sunat”. Keturunan Abraham adalah bangsa Israel, umat pilihan Allah. Perjanjian sunat bekerja atas dasar kesatuan rohani antar anggota rumah tangga dan kepalanya( Bdk.Kel 38:8, Im 10:14, Im 12:2-6,Ul 13:6). Yang artinya atas dasar kesatuan rohani antar anggota rumah tangga dan kepalanya ini, maka seisi rumah baik laki-laki maupun perempuan menjadi anggota dari perjanjian tersebut dan menjadi umat Israel yaitu umat pilihan Allah, keturunan Abraham (Bil 18:19). “ Perjanjian itu diadakan antara Aku dan engkau serta keturunanmu turun-temurun” (Kej 17:7). Allah memisahkan bangsa Israel umat pilihan-Nya dari bangsa lain supaya anak laki-laki Israel tidak mengambil wanita kafir menjadi istrinya dan juga anak perempuan Israel haruslah kawin dengan seorang dari salah satu kaum yang termasuk suku ayahnya yaitu suku Israel (Bdk.Bil 36:8). Dalam perjanjian sunat, hanya anak laki-laki keturunan Abraham yang disunat yang akan menjadi kepala dalam rumah tangganya sebagai milik pusaka TUHAN. Sunat Israel adalah pertanda kedudukan di hadirat Allah, dan bahwa kasih karunia Allah mendahului perbuatan manusia”. Dalam masa Perjanjian Lama, pergaulan dengan Allah dan pengampunan dosa serta hidup yang kekal hanya bisa diwujudkan oleh orang yang “bukan hanya bersunat, tetapi juga mengikuti jejak iman Abraham, bapa leluhur kita, pada masa ia sebelum disunat”( Bdk. Rom 4:12, Yoh 4:1-26, Yoh 8:56). Perjanjian Allah dengan Abraham tidak dihentikan, tetapi tanda perjanjian itu yakni sunat,yang diberikan Allah dalam Kejadian 17 ,itulah yang dihentikan.
Dalam suratnya kepada jemaat di Galatia, Paulus melawan kaum penyesat,bidat-bidat (Bdk. Gal 2:4,8 16-21). Mereka menuntut sunat bagi orang Kristen. Bukan dalam pengertian arti sunat, melainkan tanda lahiriah yang mereka alami, yakni sunat (Bdk. Rm 2:28,29). Apa yang diwujudkan pada Perjanjian Lama oleh tanda sunat,pada masa kini diwujudkan oleh tanda baptisan sebagai materai dari kebenaran berdasarkan Iman. Ada kesejajaran. Baptisan pun tanda perjanjian, tanda materai janji Allah akan pengampunan dosa. Jika kita memperhatikan cara Paulus membandingkan sunat dan baptisan, maka jelas bahwa bagi orang Kristen, baptisan telah ditetapkan untuk menggantikan sunat.( Bdk. Rm 6:1-14, Kolose 2 : 11-12 ). Dalam baptisan baik baptisan bayi (anak-anak) orang percaya maupun baptisan dewasa (orang kafir yang bertobat dan percaya oleh penginjilan) jelaslah terlihat bahwa :” Bukan kita yang yang memilih Tuhan, melainkan Tuhanlah yang memilih kita“(Bdk.Yoh 15:16). Dalam karya pelepasan-Nya, Allah senantiasa berjalan di depan manusia. Sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita, Ia telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus ( Eff 2:1-10).
Dibawah ini saya akan mencatumkan perbandingan antara sunat dan baptisan sbb:

Perjanjian Lama :
 
  • Sebelum Kristus
  • Sunat
  • Sifat sementara : Hukum Taurat 
  • Anak-anak Allah ( Bapa )
  • Hamba-hamba Taurat
  • Belum akil balig
  • Terbatas pada Israel ( Yahudi )
  • Posisi khusus untuk tanah Kanaan 
Perjanjian Baru : 

 • Sesudah kelahiran Kristus
• Baptisan
• Sifat tak sementara : Injil yang kekal (kelepasan)
• Anak-anak Allah (Bapa)
• Akil balig, dewasa
• Baik “Yahudi dan Yunani”
• Gereja tersebar di seluruh dunia

Baptisan yang diterima Tuhan Yesus (baptisan Kristus) bukanlah untuk pertobatan dan penyucian tetapi untuk memasukkan Yesus ke dalam maut dan kematian (melaksanakan kehendak Allah) dan merupakan penobatan atau pengurapan-Nya untuk memulai tugas-tugas dan misi pelayanan-Nya di dunia ini. Di dalam Ibrani 2:14 : “Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut “. Maka ,setiap orang yang dibaptis menerima kebenaran dan kehidupan kekal berdasarkan iman, karena ia bersama dengan Kristus. Jadi, hanya oleh iman saja seseorang dapat memperoleh apa yang ditandakan dan dimateraikan melalui baptisan berkenaan dengan dikuburkan dan dibangkitkan bersama dengan Kristus, yaitu janji-janji Allah : kemenangan atas maut,kemenangan atas iblis,pengampunan dosa,kemurahan Allah, Kristus seutuhnya, karunia Roh Kudus dan pemberian-pemberian-Nya yaitu kekuatan untuk menekan manusia lama, kebahagiaan yang kekal dan kesukaan yang kekal.

VI. Pembaptisan Yesus Menurut Alkitab

Pembaptisan Yesus menurut Alkitab, diambil dari Injil Matius (3:1-17) :”Pada waktu itu tampillah Yohanes Pembaptis di padang gurun Yudea dan memberitakan: "Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat. Sesungguhnya dialah yang dimaksudkan nabi Yesaya ketika ia berkata: "Ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya." Yohanes memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, dan makanannya belalang dan madu hutan. Maka datanglah kepadanya penduduk dari Yerusalem, dari seluruh Yudea dan dari seluruh daerah sekitar Yordan. Lalu sambil mengaku dosanya mereka dibaptis oleh Yohanes di sungai Yordan. Tetapi waktu ia melihat banyak orang Farisi dan orang Saduki datang untuk dibaptis, berkatalah ia kepada mereka: "Hai kamu keturunan ular beludak. Siapakah yang mengatakan kepada kamu, bahwa kamu dapat melarikan diri dari murka yang akan datang? Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan. Dan janganlah mengira, bahwa kamu dapat berkata dalam hatimu: Abraham adalah bapa kami! Karena aku berkata kepadamu: Allah dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu ini! Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang datang kemudian dari padaku lebih berkuasa dari padaku dan aku tidak layak melepaskan kasut-Nya. Ia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api. Alat penampi sudah ditangan-Nya. Ia akan membersihkan tempat pengirikan-Nya dan mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung, tetapi debu jerami itu akan dibakar-Nya dalam api yang tidak terpadamkan." Maka datanglah Yesus dari Galilea ke Yordan kepada Yohanes untuk dibaptis olehnya. Tetapi Yohanes mencegah Dia, katanya: "Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu, dan Engkau yang datang kepadaku?" Lalu Yesus menjawab, kata-Nya kepadanya: "Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah." Dan Yohanespun menuruti-Nya. Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: "Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan."

VII. Makna Baptisan Yesus

Banyak pertanyaan muncul di sekitar baptisan Yesus oleh Yohanes Pembaptis. Bila baptisan dimaksudkan sebagai lambang pencucian dosa, apakah itu berarti Yesus juga berdosa? Apakah baptisan Yesus itu melambangkan pertobatan dia dari dosa-dosanya? Kalau ia pun berdosa, bagaimana ia bisa menjadi "penebus dosa" manusia? Para teolog menyimpulkan bahwa baptisan Yesus mempunyai makna yang lain. Baptisan ini dimaksudkan untuk memasukkan Yesus kedalam maut( kematian ) dan untuk menerima dan melaksanakan tugas dan kehendak Allah (Bdk Mat 3 :14-15, Luk 12:50, Ibr 2:9). Tetapi kita orang Kristen dibaptis supaya kita memiliki jaminan/tanda (materai) dari Allah bahwa kita telah turut mati dalam kematian Kristus dan telah turut bangkit dalam kebangkitan Kristus.(Bdk Rom 6 :1-11, Kol 2 : 11-15 ).
“Demikianlah hendaknya kamu memandangnya : bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus “ (Rom 6:11).
Melalui ayat firman Tuhan diatas (Rom 6:11), Rasul Paulus menerangkan, menguraikan dan menjelaskan hakekat baptisan dimana setiap orang Kristen yang telah dibaptis di dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus (Mat 28:19) telah menerima baptisan Kristen =pengikut Kristus, yaitu umat Kristen, sebagaimana Rasul Paulus menyebut dirinya seorang “Kristen” yaitu pengikut Kristus (Bdk. 2 Kor 12:2,Kis 11:26, 1Kor 11:1). Ada 3 jenis baptisan dalam Alkitab yaitu :
1. Yohanes membaptis orang Yahudi dengan air (Baptisan Yohanes)
2. Pendeta membaptis orang Kristen dengan air (Baptisan Kristen )
3. Tuhan Yesus membaptis orang Kristen dengan Roh Kudus ( Baptisan Roh Kudus ).
Artinya bahwa di dalam baptisan ada kekuatan rohani (anugerah Allah) yaitu : jaminan pengampunan dosa, keselamatan(tanda,materai segel, cap keselamatan),kelahiran baru/kelahiran kembali, kelepasan dari cengkraman iblis, materai dari kebenaran berdasarkan iman.

Bagaimana baptisan yang diterima oleh Yesus Kristus?. Baptisan kepada Kristus di sungai Yordan adalah sangat lain sekali. Baptisan Yesus bukan baptisan proselit( kepada Yahudi), bukan pula pertobatan dan penyucian. Tetapi baptisan Yesus berisi dua hal, yaitu :
  • Pertama, baptisan itu memasukkan Yesus ke dalam maut dan kematian, untuk menerima tugas dan kehendak Allah menggenapi Hukum Taurat Musa dan nubuat kitab para nabi (Bdk. Mat 3 :14-15, Luk 12:50, Kej 3:15, Yes 53, Ibr 2:9)
  • Kedua, merupakan penobatan atau pengurapan-Nya untuk memulai tugas-tugas misi pelayan-Nya di dalam dunia ini.
(….Demikianlah hendaknya kamu memandangnya…..). Jadi apabila kita menolak baptisan berarti kita menolak Firman Allah, iman dan Kristus yang mengarahkan kita pada Baptisan .

VIII. Dasar Baptisan : Sabda Kristus

Pertama, yang terpenting kita ketahui ialah kata-kata yang mendasari baptisan. Segala sesuatu yang hendak dikatakan tentang baptisan berkaitan dengan kata-kata yang diucapkan Kristus dalam pasal terakhir injil Matius (Mat 28:19) : “ Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.” Demikian pula dalam pasal terakhir Injil Markus ( Mark 16:16) : “ Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. Jadi baptisan adalah perbuatan Allah dan perintah Allah sendiri. Baptisan yang diterima Tuhan Yesus (baptisan Kristus) bukanlah untuk pertobatan dan penyucian dosa tetapi untuk memasukkan Yesus ke dalam maut dan kematian (melaksanakan kehendak Allah) dan merupakan penobatan atau pengurapan-Nya untuk memulai tugas-tugas dan misi pelayanan-Nya di dunia ini dan untuk menggenapi kitab Taurat Musa dan kitab para nabi ( Bdk Kej 3:15, Ul 18:15, Yesaya 53). Di dalam Ibrani 2:14 : “Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut “. Maka ,setiap orang yang dibaptis menerima kebenaran dan kehidupan kekal berdasarkan iman, karena ia bersama dengan Kristus. Jadi, hanya oleh iman saja seseorang dapat memperoleh apa yang ditandakan dan dimateraikan melalui baptisan berkenaan dengan dikuburkan dan dibangkitkan bersama dengan Kristus, yaitu janji-janji Allah : kemenangan atas maut,kemenangan atas iblis,pengampunan dosa,kemurahan Allah, Kristus seutuhnya, karunia Roh Kudus dan pemberian-pemberian-Nya yaitu kekuatan untuk menekan manusia lama, kebahagiaan yang kekal,hidup yang kekal dan kesukaan yang kekal.

Soli Deo Gloria 


6 comments:

  1. kristen tolol....masih pinteran anjing....

    ReplyDelete
    Replies
    1. kyk pintar aja lu,,,
      pinteran babi dari u,,,wkwkwwkwkwkwk

      Delete
  2. emang sih.............oon

    ReplyDelete
  3. Amanat dalam formula baptisan ”dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus” tersebut disampaikan oleh Tuhan Yeshua sendiri sebelum kenaikan-Nya kesurga. Kalau amanatnya adalah ’dalam nama Bapa’ dan ’Anak’, tentunya seseorang yang melayani pembaptisan harus menyebutkan siapa nama yang dimaksud. Kalau Yeshua yang berkata ’Bapa’ artinya Dia (sebagai orang Yahudi) sudah tahu siapa nama Bapanya, yang adalah nama Tuhan sesembahan dalam agama Yahudi yaitu YHWH (baca Yahweh), bukan nama illah lainnya. Sedangkan yang dimaksud nama ’Anak’ adalah nama Dia sendiri atau Yeshua . Sedangkan Roh Kudus adalah Roh Yahweh. Bagi setiap orang yang melayani pembaptisan tentunya harus jelas menyebutkan siapa nama yang benar dalam formula baptisan tersebut, tidak sekedar mengikuti kata-kata ’dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus’. Sebagai contoh bila ada seseorang berkata :”Sebut saja nama bapakmu, pasti apa permintaanmu akan dituruti”, tentu orang tersebut akan menyebut nama bapaknya misalnya : ”Yochanan, bapak saya memerintahkan saya untuk mengambil mobil ini”. Kalau hanya ”Bapak saya memerintahkan dst”, pasti orang yang belum mengenal akan bertanya : ”siapa nama bapakmu”? Oleh karenanya dalam membaptis harus jelas dan benar menyebutkan siapa nama-Nya yang digunakan sebagai meterai baptis tersebut. Kalau hanya mengucapkan sebutannya saja, tanpa disebutkan namanya, meterai yang digunakan juga tidak ada namanya alias meterai yang kosong tidak bermakna. Oleh karenanya formula baptisan yang selaras dengan kehendak Tuhan Yeshua adalah :: ” Aku membaptismu (engkau dibaptis) dalam nama Bapa Yahweh, Yeshua Sang Putra dan Ruakh HaQodesh’ Jika yang disebut adalah nama lainnya, maka meterai baptis yang digunakan adalah meterai sesuai dengan nama tersebut. Kalau kita hanya mengucapkan Bapa atau Anak, tidak jelas, karena kata Bapa dan Anak adalah sebutan, bukan nama (Proper name), sama seperti Presiden, Gubernur, Ibu, Tante, Kakek, Ayah, Cucu dll. Meskipun berasumsi bahwa yang membaptis maupun yang dibaptis ”sudah tahu yang dimaksud dengan kata Bapa, dan kata Anak” Perlu dipahami bahwa di alam supra natural, pada saat kita dimeteraikan dalam sebuah nama, maka nama itulah yang akan memiliki jiwa kita. Jadi kita harus tahu persis siapa nama yang digunakan dalam meterai baptisan, jangan sampai kita merasa sudah berada dalam pemilik nama yang benar tetapi sesungguhnya jiwa kita dimiliki oleh nama lain yang tidak sesuai dengan nama yang dikehendaki dalam pikiran Tuhan Yeshua. Ini berarti lepaslah keselamatan jiwa kita. Oleh karenanya jika seseorang yang telah dibaptiskan dengan formula nama yang tidak seperti dikehendaki oleh Tuhan Yeshua, jika berkehendak jiwanya berada dalam genggaman nama Bapa Yeshua yaitu Yahweh Elohim, maka kepadanya harus dibaptiskan dalam nama Bapa Yahweh, Yeshua Sang Putra dan Ruakh HaQodesh. Tindakan ini bukan masuk dalam katagori baptis ulang, karena tidak mengulang baptis dengan menggunakan formula baptisan yang sama dengan formula lama , tetapi adalah Baptis baru, karena sesungguhnya belum dibaptiskan dengan formula baptisan yang sesuai dengan yang dikehendaki oleh Tuhan Yeshua. Oleh karena baptisan lama tidak diberlakukan lagi, padahal sudah terlanjur jiwa dimeteraikan dalam nama yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan Yeshua, maka agar baptisan baru menjadi sah, perlu dilakukan tindakan untuk menganulir/mencabut meterai lama, sebelum dilakukan pembaharuan baptis dalam nama yang sesuai dengan kehendak Tuhan Yeshua. Tindakan ini dapat dilakukan sebelum ritual baptis dilayankan. Artinya dilakukan ’pemutihan’ terlebih dahulu sebelum dilakukan pembaptisan baru.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau sudah dibaptis di gereja pada waktu bayi,pada waktu dewasa di dalam nama Tritunggal ( Bapa, Anak dan Roh Kudus) ke tiga oknum Allah,baptisan itu sudah sempurna dan sah dan tidak perlu diulangi lagi,karena Alkitab mengatakan satu (1) baptisan untuk pengampunan dosa. Jadi kita harus kembali ke Alkitab Firman Allah dan mau hidup dan tinggal di dalam ajaran Kristus...Efesus 4:3-6" Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera:satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu,satu Tuhan, satu iman, satu baptisan,satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua."...

      Delete
  4. yg saya tahu BAPTISAN itu kok mirip yah dgn TRADISI UMAT HINDU, dimana umat hindu pd hari tertentu perayaan keagamannya mandi di sungai gangga dgn tujuan mandi tersebut membersihkan diri dr kekotoran bathinnya.
    jadi BAPTISAN itu jiplakan dr tradisi umat hindu yg di modifikasi menurut kalian, BENAR NGA? Hayo ngaku aja, MALU YAH.
    Siapa2 org yg dimateraikan?
    JAWABNYA ADA DI WAHYU 7 DAN 14.
    ngarang aja kalian, malu yah.

    ReplyDelete