Loading...

Wednesday, December 1, 2010

Mengapa Kita Perlu “Saat Teduh “ Untuk Merenungkan Firman Tuhan ?


Mengapa Kita Perlu “Saat Teduh “ Untuk Merenungkan Firman Tuhan ?


“Tetapi Yesus menjawab: "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah." ( Matius 4:4 )


Kata Pengantar


Bagi orang-orang Kristen yang tinggal di Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia, Alkitab merupakan sesuatu yang mudah dan murah untuk dimiliki. Namun, kenyataan tersebut tidak berlaku di semua tempat di Indonesia. Di beberapa daerah di Indonesia, masih banyak orang Kristen yang kesulitan memperoleh Alkitab. Kalaupun ada, mahal harganya. Sekalipun orang-orang Kristen di kota-kota besar telah dibekali dan membekali diri dengan Alkitab, tidak semuanya telah sungguh-sungguh membaca Alkitabnya. Padahal kesempatan ia memiliki Alkitab sendiri sangatlah besar, dibandingkan saudara-saudaranya di daerah yang lain. Ada banyak faktor penyebab mengapa orang-orang Kristen di kota-kota besar tidak membaca Alkitabnya secara rutin. Ada faktor kemalasan. Ada yang beralasan sibuk dengan kegiatan sehari-hari. Ada juga yang beralasan tidak tahu cara membaca Alkitab dengan benar. Ada juga yang mengalami kesulitan dalam memahami berita Alkitab dari masa lalu untuk diterapkan pada masa kini. Dan sejumlah alasan lainnya. Pada kesempatan kali ini, artikel ini akan membahas tentang Saat Teduh. Topik ini sengaja dipilih untuk membekali warga jemaat dengan pengetahuan praktis untuk melakukan saat teduh, baik secara pribadi maupun berkelompok. Selain itu, diharapkan warga jemaat termotivasi untuk melakukan saat teduh secara rutin.

Pengertian dasar saat teduh


Jika ditinjau dari segi makna kata, maka istilah "saat teduh" menunjuk pada segi waktu dan juga suasana atau keadaan. Saat teduh adalah masa di mana suasana/keadaan yang terjadi bersifat teduh dan tenang. Dengan pengertian tersebut, tentu ada banyak saat teduh dalam hidup kita. Misalnya: sebelum tidur di malam hari, sewaktu bangun pagi-pagi sekali, sewaktu sendirian di rumah peristirahatan, setelah mendengarkan kotbah dalam kebaktian Minggu dsb. Pada perkembangan selanjutnya, istilah "saat teduh" itu dipakai untuk menunjuk pada waktu di mana orang Kristen menenangkan diri dalam masa yang teduh dan tenang untuk membaca Alkitab dan merenungkannya. Beberapa puluh tahun yang lalu, banyak orang Kristen yang memakai buku renungan berjudul "Saat Teduh" sebagai alat bantu merenungkan Firman Tuhan. Oleh karena itu, banyak orang yang kini menyebut Saat Teduh terhadap tindakan membaca, merenungkan isi Alkitab dan berdoa.
Jadi, dapat dikatakan bahwa Saat Teduh itu adalah kegiatan orang percaya dalam membaca, merenungkan Firman Tuhan dan berdoa yang dilakukan dalam masa yang suasananya teduh dan tenang.



Mengapa bersaat teduh?


Barangkali ada yang bertanya,"Mengapa saya harus bersaat teduh?" Sekilas, mungkin pertanyaan itu terdengar bodoh. Tetapi, pertanyaan itu baik untuk ditanyakan dan dipertanyakan. Mengapa? Karena banyak orang yang saat ini masih membeo. Melakukan apa yang disuruhkan orang kepadanya tanpa bersikap kritis dan yang parah adalah ketika ia tidak tahu untuk apa ia melakukannya.

Pertanyaan itu baik, karena mendorong kita untuk mencari tahu alasan mengapa orang Kristen harus bersaat teduh. Alasan pertama : Adalah bahwa kita harus bersyukur kalau sampai dengan saat ini, kita masih memiliki kesempatan untuk memiliki Alkitab sendiri. Ada banyak orang Kristen yang tidak bisa membeli Alkitab. Bahkan ada juga banyak orang Kristen yang harus sembunyi-sembunyi dalam mencari dan membaca Alkitab (mis: orang Kristen di Republik Rakyat China).


Alasan kedua : Kita harus bersyukur bahwa Alkitab pada masa kini ditulis dalam bahasa yang kita mengerti. Bahkan, kini tersedia banyak terjemahan Alkitab ke dalam berbagai bahasa yang dapat kita manfaatkan untuk memperkaya pembacaan kita terhadap Firman Tuhan. Bukan berarti sejak dulunya sudah begitu. Dulu, Alkitab hanya boleh dibaca oleh para pastor dan ditulis dalam Bahasa Latin, yang tidak populer di kalangan umat kebanyakan. Martin Luther, seorang tokoh reformator gereja, menilai situasi tersebut tidaklah sehat. Oleh karera itu, ia coba menerjemahkan Alkitab ke dalam Bahasa Jerman, sehingga Firman Tuhan itu bisa dibaca, dikenal dan juga dilakukan oleh umat. Upayanya itu diikuti oleh yang lainnya, sehingga kini muncul Alkitab dalam berbagai bahasa. Alkitab menjadi dekat dengan manusia, karena ia ditulis dalam bahasa yang bisa kita mengerti. Bukankah itu adalah anugerah?


Alasan ketiga : Karena Alkitab itu memiliki banyak fungsi yang baik untuk membekali kehidupan orang percaya, terutama ketika saat ini problematika kehidupan yang kita hadapi bertambah luas dan kompleks.

Dalam 2 Tim. 3:16, diungkapkan beberapa fungsi dari Alkitab, yaitu:

1.
Mengajar. Apa yang diajarkan oleh Alkitab? Tentu saja kita dapat belajar tentang Allah yang menyatakan diri, karya dan kehendak-Nya sampai saat ini kepada umat manusia. Kita pun dapat belajar tentang respon manusia, baik yang positif maupun negatif, terhadap Allahnya.

2. Menyatakan kesalahan Di dalam Alkitab terdapat kebenaran yang sifatnya universal dan kekal. Oleh karena itu, dengan membaca yang benar (Alkitab), maka kita dapat tahu apa yang salah.

3. Memperbaiki kelakuan. Dengan mengetahui apa yang salah, maka kita diajak untuk memperbaiki kelakuan kita. Tidak hanya kelakuan bahkan juga pola pikir dan tutur kata kita juga.

4. Mendidik orang dalam kebenaran. Ini adalah fungsi yang tidak kalah pentingnya. Sebagai orang percaya, kita diharapkan untuk setia pada kebenaran dan karenanya berupaya untuk hidup dalam kebenaran itu. Alkitab dapat menolong kita untuk mengenal kebenaran dan mendidik kita untuk setia pada kebenaran.

Saat teduh pribadi dan kelompok


Berdasarkan pengertian di atas, maka saat teduh pada dasarnya dapat kita lakukan secara pribadi ataupun berkelompok. Tentu saja itu dilakukan berdasarkan kebutuhan. Bagi mereka yang belum berkeluarga, tentu bersaat teduh dilakukan secara pribadi. Kalaupun dilakukan secara berkelompok, ia dapat melakukannya bersama orang tua atau teman-temannya. Ada juga orang yang bersaat teduh secara berkelompok, misalnya: bersama keluarga, kelompok tumbuh bersama, teman-teman sekantor, dsb. Bersaat teduh secara berkelompok memiliki nilai lebih dibandingkan saat teduh pribadi, karena di dalamnya, kita bisa saling berbagi tentang Firman Tuhan, pengalaman hidup dsb., sehingga hal itu dapat saling memperkaya. Bukan berarti saat teduh pribadi itu nilainya kurang. Tidak ! Ia tetap berharga untuk dilakukan. Bagi mereka yang telah berkeluarga, sangatlah baik jika saat teduh dilakukan secara berkelompok. Selain nilai lebih di atas, saat teduh keluarga juga dapat mempererat ikatan kekeluargaan dan kebersamaan di antara sesama anggota keluarga. Di situlah wadah dan kesempatan kita dapat saling berkomunikasi, menguatkan dan juga bertumbuh.

Waktu dalam bersaat teduh


Sebenarnya tidak ada waktu yang paling baik dalam bersaat teduh, karena pada dasarnya kita dapat membaca dan merenungkan Firman Tuhan kapan saja. Sekalipun demikian, pemilihan waktu yang tepat akan sangat menentukan proses saat teduh yang kita lakukan.
Kalau begitu, kapan waktu yang tepat itu? Tentu itu tergantung dari diri kita masing-masing. Yang penting, ada suasana teduh dan tenang saat kita bersaat teduh. Suasana yang demikian akan sangat menolong kita untuk berkonsentrasi dan mendapat sesuatu dari Firman yang kita baca (Bdk.. Mat. 6:6). Dalam Mrk. 1:35, dikisahkan tentang Tuhan Yesus yang berdoa pada pagi-pagi sekali sewaktu hari masih gelap. Tempat yang dipilih pun adalah tempat yang tenang. Di situlah Ia dapat berkonsentrasi dalam bersaat teduh untuk mendapatkan kekuatan spiritual guna melanjutkan karya-Nya di dunia.
Bukan berarti bahwa kita harus bersaat teduh pada pagi-pagi sekali, sama seperti Tuhan Yesus. Bagaimana dengan mereka yang harus pergi ke kantor pagi-pagi sekali? Kapan waktu mereka bersaat teduh? Lagipula, Tuhan Yesus juga biasa berdoa pada malam hari, saat suasananya mendukung (Bdk . Mat. 14:23). Oleh karena itu, yang penting bukan kapannya, tetapi waktu yang tepat; tepat karena ada suasana teduh dan tenang, tepat karena kita bisa dengan sungguh-sungguh membaca Alkitab untuk mencari tahu apa kehendak-Nya bagi kita, tepat karena kondisi fisik kita masih memungkinkan untuk berdoa kepada-Nya. Kalau waktu yang tepat itu adalah pagi hari, ya... lakukanlah pada pagi hari. Kalau waktu yang tepat itu adalah malam hari, sebelum tidur, ya... lakukanlah pada malam hari. Yang penting, kita tetap melakukan saat teduh di waktu yang tepat.


Tempat bersaat teduh


Sejalan dengan pembahasan di atas tentang waktu dalam bersaat teduh, maka tidak ada tempat yang paling baik dalam bersaat teduh. Dalam Alkitab, Tuhan Yesus berkali-kali berdoa di sebuah bukit, di tempat yang sunyi (Bdk. Mat. 14:23; Mrk. b:46; Luk. 6:12). Mengapa bukit menjadi tempat favorit-Nya? Yang pasti, bukit dipilih bukan karena tempat itu lebih tinggi dan karenanya lebih dekat ke sorga atau dengan kata lain doanya lebih cepat didengar oleh Allah Bapa.

Tempat itu dipilih karena menyediakan suasana yang teduh dan tenang. Suasana itu adalah prasyarat bagi saat teduh yang baik dan berkualitas. Lagipula, dalam kesempatan yang lain, Tuhan Yesus menyuruh para pendengar-Nya untuk berdoa di kamar yang terkunci (Mat. 6:6).Di balik pengajaran itu, sebenarnya terkandung pemahaman bahwa saat teduh itu harus dilakukan dalam suasana yang teduh, tenang, serta bukan dalam semangat untuk memamerkan kepada orang lain bahwa diri kita adalah orang yang saleh, yang ditunjukkan dengan seringnya berdoa (bersaat teduh). Jadi, dapat dikatakan bahwa tempat yang baik dalam bersaat teduh adalah tempat yang menyediakan suasana teduh dan tenang. Oleh karena itu, kita tidak terikat pada kamar di rumah kita. Kita juga bisa bersaat teduh di villa saat retreat pribadi misalnya. Hal yang penting adalah bahwa tempat itu haruslah mendukung kita bersaat teduh secara berkualitas.



Langkah-langkah praktis dalam bersaat teduh


Sebenarnya, ada sejumlah langkah praktis untuk melakukan saat teduh, misalnya: diawali dan diakhiri dengan nyanyian. Tetapi secara umum, bersaat teduh dapat dilakukan dengan langkah demikian:


a. Berdoalah. Sebelum kita membaca dan merenungkan Firman Tuhan, diharapkan kita berdoa terlebih dahulu. Kita berdoa supaya Roh Kudus memberi penerangan kepada kita, sehingga bagian Alkitab yang kita baca sungguh-sungguh memberi arti dan makna bagi hidup kita. Kita pun dimampukan untuk memahami berita Alkitab dari masa lalu untuk diterapkan pada masa kini. Jadi, untuk memahami isi Alkitab diperlukan bantuan Allah sendiri, tidak bisa dan tidak boleh bergantung pada pengertian diri sendiri.

b. Bacalah.
Ada baiknya, kita memiliki daftar bacaan harian. Saat ini, ada daftar bacaan harian yang diterbitkan oleh LAI selama setahun (biasanya juga dicantumkan dalam warta jemaat mingguan). Atau, kalau kita tidak mempunyainya, kita dapat memanfaatkan daftar bacaan yang tertera dalam buku renungan yang biasa kita pakai (spt: Sabda Bina Umat ( Renungan Pagi Dan Malam GPIB), Saat Teduh, Renungan Harian, Santapan Harian ). Jika kita sudah tahu bagian Alkitab mana yang harus kita baca, maka kita dapat segera membacanya. Dalam membaca Aikitab, tentu kita tidak boleh tergesa-gesa, sehingga kita tidak bisa menangkap maknanya. Membaca Alkitab tidak sama seperti membaca buku komik, yang dapat dibaca sekilas saja.

c. Renungkanlah. Seusai kita membaca Alkitab, ada baiknya kita merenungkan terlebih dahulu hal-hal di bawah ini. Ada baiknya kita tidak langsung membaca buku renungan yang kita punyai. Buku itu hanya menolong kita saja. Oleh karena itu, yang penting adalah proses pemaknaan secara pribadi terhadap teks Alkitab yang kita baca. Pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dapat menolong kita untuk merenungkan teks Alkitab itu secara pribadi, yaitu:

1. Apa saja yang kubaca. ada peristiwa apa? Hal apa yang menarik? Siapa yang menjadi tokoh atau pusat berita? Adakah kaitan dengan ayat atau perikop sebelumnya?

2. Apa pesan yang Allah sampaikan kepadaku melalui nas tadi. adakah janji terungkap di sana? Apakah Allah memberi peringatan dalam ayat itu? Adakah teladan yang bisa kita pelajari? Dst.

3. Apa responku adakah hal-hal spesifik dalam hidupku kini yang disoroti oleh pesan Firman Tuhan tsb.? Apa responku terhadap firman itu agar menjadi bagian dari hidupku?

d. Bandingkanlah hasil perenungan pribadi kita dengan buku renungan yang kita miliki. Kalau ternyata hasilnya berbeda, jangan kecil hati. Bukan berarti kita salah dalam memahami pesan Firman Tuhan. Perbedaan itu justru memperkaya pemahaman yang bisa kita dapat dari teks Alkitab yang dibaca. Lagipula, setiap orang dewasa harus memiliki perjumpaan secara pribadi dengan Tuhan melalui Alkitab yang ia baca. Dan pengalaman perjumpaannya itu adalah sahih.

e. Berdoalah kembali di akhir perenungan kita. Kita berdoa supaya pesan Firman Tuhan itu dapat terus kita ingat dan lakukan. Kita pun boleh mendoakan berbagai hal lainnya, seperti : kegiatan di sepanjang hari yang akan kita lalui (kalau saat teduh dilakukan pagi hari); kegiatan yang sudah kita lakukan (pada malam hari); keluarga yang kita kasihi dsb.

f. Periksalah apakah kita sudah melakukan pesan Firman Tuhan itu dalam kehidupan sehari-hari. Jika kita bersaat teduh di pagi hari, maka kita dapat memeriksa diri kita pada malam harinya. Jika kita bersaat teduh di malam hari, maka kita dapat memeriksa diri pada keesokan malamnya saat kita bersaat teduh kembali. Langkah ini menjadi penting, sebagai proses evaluasi diri dan juga mengingatkan kita untuk terus termotivasi melakukan dan memberlakukan Firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Penutup


Bersaat teduh bukanlah sebuah tindakan yang sekali jadi, yang dengannya kita dapat langsung mengerti apa kehendak Tuhan bagi kita. Ia adalah proses yang harus kita lakukan secara berkesinambungan. Oleh karena itu, bersaat teduh sebaiknya dilakukan secara kontinyu, sehingga dengan demikian kita semakin akrab dengan Alkitab dan yang lebih penting adalah kita menjadi peka akan apa yang menjadi kehendak-Nya untuk kita lakukan dan berlakukan.


Soli Deo Gloria (= segala kemuliaan hanya bagi Allah)


Sumber : Buletin Pembinaan Iman ( Sahabat Surgawi )


10 comments:

  1. Wednesday, 30 June 2010 09:33 Nasional

    http://kristolog.blogspot.com/

    just sharing..
    soli deo gloria..
    jesus love you, no matter who or what you are..

    ReplyDelete
  2. http://tintakesufian.blogspot.com/2009/06/dr-yahya-yopie-waloni-sth-mth-mantan.html

    satu lagi utuk dilihat buat para umat muslim dimanapun kau berada.

    salam kasih damai. syallom..
    Soli Deo Gloria..

    ReplyDelete
  3. Jesus loves you...no matter who or what you are..

    http://www.youtube.com/watch?v=T0_BxKTkgCQ&feature=related

    ReplyDelete
  4. This is what islam teaches us, to be GOOD to all people.
    Be good, kind, helpful and merciful to please ALLAH Ta'ala.
    " those who have mercy on people are granted ALLAH's mercy"
    we should all start learning more about our religion for it is the cause of our pride.

    http://www.youtube.com/watch?v=-4WFR5Icdco&feature=related

    ReplyDelete
  5. Aku keberatan bila alkitab dikatakan kitab yg kekal, dimana dalam setiap penerbitan selalu ada revisi. Dua kitab yg aku miliki terbit th 1991 dan yg satu terbit th 1995 sudah ada revisi, coba lihat salah satunya I Raja-raja 4:26 dari empat ribu kandang menjadi empat puluh ribu kandang. Apa ini dapat dikatakan kitab suci ?

    ReplyDelete
  6. Do you believe that Moslem/Islam is the true religion in this universe ? Do you believe that Islam/Moslem is peace religion ? I am not sure and never ! The Muhhammad him self could not save his life. And the Al-Quran is not the Reveletion of God. But it contains the opini of Muhammad him self and with his friend and then he proclaimed that Al-Quran is the Revelation of God. Muhammad is not true prophet of God. Because prophet and apostle never come from Arab land. There is no salvation and eternal life in Islam/Moslem. But Lord Jesus who come from heaven and heaven belong to Him said : I am the way, and the truth and the life. No one come to the Father except through Me. Only Lord Jesus could give us salvation and eternal life. In Him we are saved and secured.

    ReplyDelete
  7. napa bingung sih..........Injil tuh bukan kitab tapi buku karangan manusia.....aku juga bisa ngarang kok.........

    ReplyDelete
  8. ya iay ya....Injil karangan Paus ada......karangan Terry Jones juga ada................mau?

    ReplyDelete
  9. ya ampun ngomong sembarangan, ntar kmu merasakan pedihnya hukuman di neraka, mending bertobat, daripada menyesal di kemudian hari, bwt org muslim, aq g benci ma kalian, tapi kalian g berhak menghujat agama lain

    ReplyDelete
  10. aku gak benci sama Non Muslim juga kok...........karena agama ku menyuruh ummatnya menghargai perbedaan kaeyakinan..........dalam Islam aturannya sudah jelas semua kok........kalo ada orang Muslim seperti itu karena ulahnya sendiri..........gak ada hubungannya dengan agama..........orang Kristen banyak juga yang menghina Islam...........coba baca aja di koment2 blog ini

    ReplyDelete