Sunday, January 30, 2011

KUDUSKANLAH HARI SABAT : Mengapa Umat Kristen Beribadah Di Hari Minggu ? Dan Bukan Di Hari Sabtu ?


KUDUSKANLAH HARI SABAT : Mengapa Umat Kristen

Beribadah Di Hari Minggu ? Dan Bukan Di Hari Sabtu ?

( Ulangan 5:1-15 )


“Tetaplah ingat dan kuduskanlah hari Sabat, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu.” ( Ulangan 5:12 )


Sabat (Sabath) adalah sebutan untuk angka/bilangan tujuh ( 7 ). Sabat itu bukan nama hari. Sabat itu sebutan terhadap angka, sama seperti Ehad ( Bahasa Ibrani) yang adalah sebutan untuk bilangan/angka. Misalnya angka 1 dalam bahasa Jawa : Eka, Siji, Esa, Tunggal. Tradisi tentang sabat disumberkan pada peristiwa perintah TUHAN tentang IBADAH UMAT. Allah memberikan contoh yang positif kepada manusia, bahwa ia harus beritirahat setelah bekerja. Waktu istirahat itu harus dipakai secara bertanggung jawab. Dalam waktu itu manusia melihat dan membina hubungan keintiman dengan Allah. Ia harus menyembah dan memuliakan nama TUHAN yang telah memberi waktu kerja kepadanya.

Pada sisi lain “Waktu Istirahat” itu pun penting bagi manusia. Di dalam waktu itu ia berhenti sementara dari proses kerja untuk memulihkan tenaga yang terkuras. Dia harus menikmati waktu relaks, agar menghimpunkan tenaga (energi) baru dalam melanjutkan pekerjaannya. Ia kembali melihat dan membina hubungan baik, mungkin saja selama bekerja terjadi ketegangan dengan rekan sekerjanya.

Kerja itu bermanfaat, jikalau ia dilakukan dengan rasa syukur kepada Tuhan, dan di dalam suasana persaudaraan dengan rekan sekerja. Oleh karena itu, tiap orang perlu berpartisipasi menciptakan iklim yang kondusif, agar kerja dapat mencapai hasil optimal dengan kualitas yang maksimal. Dalam hal seperti itu WAKTU ISTIRAHAT amat diperlukan, agar si pekerja dapat menata seluruh hubungan dengan dirinya dalam proses bekerja.


Jemaat yang Tuhan Yesus kasihi !


Dalam perkembangannya SABAT menjadi Hari Ibadah yang ditetapkan pada masyarakat Israel. Persoalan paling krusial adalah : Mengapa Orang Kristen Protestan berbeda dengan Aliran Advent dalam menetapkan Hari Ibadah ? Mengapa bukan di hari Sabtu ? Mengapa harus di hari Minggu ?

Ibadah Kristen berpusat pada Kristus Yesus dan karya-Nya. Puncak dari seluruh karya Kristus Yesus selama di atas bumi adalah “ Kematian dan Kebangkitan-Nya”. Kematian dan Kebangkitan Kristus menandai dan memaknai kemenangan Allah atas kuasa kegelapan (maut). Dalam Kematian Kritus Yesus, Allah masuk dan berperang melawan semua kuasa-kuasa yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, yang ada di dalam dunia nyata sekarang ini, maupun yang ada di dunia seberang sana. Perang Ilahi itu berakhir dalam KEBANGKITAN Kristus Yesus. Kebangkitan Kristus memproklamasikan kuasa Allah yang mampu menaklukkan kuasa kegelapan (maut). Itulah yang dirayakan sebagai hari kemenangan.

Kristus Yesus disalibkan pada Hari Jumat siang dan Dia bangkit pada subuh Hari Minggu (Ahad). Oleh karena itu, Gereja di segala abad dan tempat (kecuali Gereja Advent) menetapkan Hari Minggu sebagai WAKTU ISTIRAHAT pada seluruh Warga Gereja, agar mereka mengucap syukur dan memuliakan Allah di dalam nama Kristus Yesus.

Penetapan WAKTU ISTIRAHAT pada HARI PERTAMA DALAM TIAP MINGGU menegaskan kembali :


  1. PENGAKUAN IMAN GEREJA tentang : “ Pada Hari yang Ketiga ( terhitung setelah Paskah) telah bangkit dari antara orang mati….”

  1. KRISTUS YESUS adalah pusat IBADAH JEMAAT. Beribadah pada HARI MINGGU sama artinya dengan merayakan terus-menerus dan berulang-ulang penyelamatan Allah di dalam karya Kristus.

  1. IBADAH MINGGU tidak terlepas dari PELAYANAN KESAKSIAN GEREJA kepada manusia dan dunia tentang Kristus Yang Tersalib dan bangkit. Kata Yesus : “ Setiap kali kamu melakukannya, kamu memberitakan kematian-Ku sampai Aku datang”. Ucapan itu tidak saja berkaitan dengan penyelenggaraan Sakramen Perjamuan, akan tetapi secara umum berhubungan langsung dengan seluruh Ibadah Gereja. Ibadah apa saja yang dilakukan Gereja bertujuan memberitakan Kristus Yesus kepada dunia dan manusia.

  1. Dengan demikian HARI MINGGU adalah Hari Yang ditetapkan TUHAN, menurut keyakinan Gereja, sebagai WAKTU ISTIRAHAT. Agar seluruh Warga Gereja berpartisipasi ke dalam Ibadah untuk mengucap syukur dan berterimakasih karena keselamatan yang diterimanya, dan karena berkat yang dinikmati sepanjang seminggu bekerja.

Itulah makna Ibadah Minggu bagi Gereja disepanjang sejarah. Amin.


Sumber : “ Sabda Guna Dharma “ GPIB


Sunday, January 16, 2011

Ditengah Kesedihan Ada Sukacita


Ditengah Kesedihan Ada Sukacita


“Ketika itu Yusuf tidak dapat menahan hatinya lagi di depan semua orang yang berdiri di dekatnya, lalu berserulah ia: "Suruhlah keluar semua orang dari sini." Maka tidak ada seorang pun yang tinggal di situ bersama-sama Yusuf, ketika ia memperkenalkan dirinya kepada saudara-saudaranya. Setelah itu menangislah ia keras-keras, sehingga kedengaran kepada orang Mesir dan kepada seisi istana Firaun. Dan Yusuf berkata kepada saudara-saudaranya: "Akulah Yusuf! Masih hidupkah bapa?" Tetapi saudara-saudaranya tidak dapat menjawabnya, sebab mereka takut dan gemetar menghadapi dia. Lalu kata Yusuf kepada saudara-saudaranya itu: "Marilah dekat-dekat." Maka mendekatlah mereka. Katanya lagi: "Akulah Yusuf, saudaramu, yang kamu jual ke Mesir. Tetapi sekarang, janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu. Karena telah dua tahun ada kelaparan dalam negeri ini dan selama lima tahun lagi orang tidak akan membajak atau menuai. Maka Allah telah menyuruh aku mendahului kamu untuk menjamin kelanjutan keturunanmu di bumi ini dan untuk memelihara hidupmu, sehingga sebagian besar dari padamu tertolong. Jadi bukanlah kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah; Dialah yang telah menempatkan aku sebagai bapa bagi Firaun dan tuan atas seluruh istananya dan sebagai kuasa atas seluruh tanah Mesir. Segeralah kamu kembali kepada bapa dan katakanlah kepadanya: Beginilah kata Yusuf, anakmu: Allah telah menempatkan aku sebagai tuan atas seluruh Mesir; datanglah mendapatkan aku, janganlah tunggu-tunggu. Engkau akan tinggal di tanah Gosyen dan akan dekat kepadaku, engkau serta anak dan cucumu, kambing domba dan lembu sapimu dan segala milikmu. Di sanalah aku memelihara engkau -- sebab kelaparan ini masih ada lima tahun lagi -- supaya engkau jangan jatuh miskin bersama seisi rumahmu dan semua orang yang ikut serta dengan engkau. Dan kamu telah melihat dengan mata sendiri, dan saudaraku Benyamin juga, bahwa mulutku sendiri mengatakannya kepadamu. Sebab itu ceritakanlah kepada bapa segala kemuliaanku di negeri Mesir ini, dan segala yang telah kamu lihat, kemudian segeralah bawa bapa ke mari." Lalu dipeluknyalah leher Benyamin, adiknya itu, dan menangislah ia, dan menangis pulalah Benyamin pada bahu Yusuf. Yusuf mencium semua saudaranya itu dengan mesra dan ia menangis sambil memeluk mereka. Sesudah itu barulah saudara-saudaranya bercakap-cakap dengan dia.”

( Kejadian 45 :1-15 )


Bukan perpisahan yang aku tangisi, tetapi pertemuanlah yang aku sesali. Inilah ungkapan yang menyedihkan dari orang yang akan berpisah. Namun Yusuf menangis justru oleh sukacita yang meluap karena ia dapat kembali berjumpa dengan saudara-saudaranya. Ia melihat peristiwa masa lalu sebagai campur tangan Allah oleh karena itu ia tidak marah atau dendam atas perbuatan jahat saudara-saudaranya itu di masa yang lalu. Allah telah mengubah rencana jahat saudara-saudaranya, menjadi rancangan damai sejahtera. Peristiwa itu tidak terjadi dalam satu hari, tetapi memakan waktu bertahun-tahun.

Dalam kehidupan orang beriman, mungkin kita juga seringkali mengalami peristiwa-peristiwa yang menyedihkan, yang membawa penderitaan yang berkepanjangan. Dalam proses itu, jika kita tetap setia dalam keyakinan iman dan percaya bahwa Allah menyertai kita, maka hidup kita pun akan berakhir dengan kemenangan dan sukacita.

Peristiwa tragis dalam hidup ini memang sering menjadi salah satu bentuk ujian bagi kesetiaan iman kita kepada Allah. Bisa jadi bahwa orang beriman pun suatu ketika kalah dalam ujian kesetiaan seperti ini. Mungkin karena keyakinannya mulai goyah, karena ada keraguan bahwa Tuhan masih menyertai hidupnya. Atau bahkan kita akhirnya menyalahkan Tuhan, “ Ah…mengapa Tuhan memberikan penderitaan yang berat dalam kehidupanku ?” Benarkah Tuhan mengasihi aku ?

Dari kehidupan Yusuf, kita belajar untuk tetap setia dan percaya kepada Allah. Ia sesungguhnya tidak akan membiarkan umat-Nya berada dalam kungkungan kuasa gelap yang membinasakan. Mungkin Ia sedang merencanakan suatu kehidupan yang damai sejahtera bagi umat-Nya. Jadi, walaupun rupa-rupa penderitaan kita alami dalam kehidupan di dunia ini, pertahankanlah keyakinan iman kita kepada-Nya.


Doa: Bapa yang terkasih, Tuhan Yang Maha Penyayang dan penuh belaskasihan. Ya Tuhan, berilah kami kekuatan di kala susah melanda hidup kami. Di dalam nama Tuhan Yesus kami memohon dan bersyukur kepada-Mu. Amin.


Tuesday, January 4, 2011

Kesaksian Dan Kisah Nyata Islam Masuk Kristen : “ Kesaksian Mohammed Ahmed Hegazy ( Mantan Muslim Mesir ) “


Kesaksian Dan Kisah Nyata Islam Masuk Kristen : “ Kesaksian Mohammed Ahmed Hegazy ( Mantan Muslim Mesir ) “

KESAKSIAN MOHAMMED AHMED HEGAZY (MANTAN MUSLIM MESIR)



Pengacara-pengacara Islam konservatif datang untuk mendukung Pemerintah Mesir minggu lalu dalam acara pengadilan seorang Muslim yang ingin beralih memeluk agama Kristen. Murtadin bernama Mohammed Ahmed Hegazy menuntut Pemerintah Mesir ke pengadilan dengan tuduhan melarang dirinya mengganti nama agama Islam di KTP jadi agama Kristen. Tindakannya menghebohkan seluruh negara. Pengacara-pengacara Islam yang berhubungan erat dengan imam radikal Youssef al-Badry menghadiri acara dengar kasus di tanggal 2 Oktober 2007 di Kairo dan secara resmi bergabung membela pihak Pemerintah, demikian dilaporkan Hegazy pada Compass.

Pengacara Hegazy membenarkan bahwa Magdy al-Anany dan setidaknya tiga pengacara Muslim fundamentalis mengajukan diri mendukung Pemerintah. Al-Badry adalah seorang dari beberapa imam di Mesir yang menyatakan pada media nasional Mesir agar Hegazy dibunuh. Hal ini terjadi setelah Hegazy mengumumkan kasusnya di awal bulan Agustus. Islamis radikal ini juga menuntut pengacara Hegazy yang lama, yakni Mamdouh Nakhla, dengan tuduhan menyebabkan perpecahan. Karena kritik dan ancaman mati dari publik, Nakhla menarik kembali kasus Hegazy beberapa hari sebelum diumumkan.

Muslim-muslim fanatik mulai mengganggu Hegazy dan istrinya yang lagi hamil, yang juga merupakan seorang murtadin. Mereka menerima telpon penuh amarah sehingga keduanya menyembunyikan diri. ‘Hal ini sangatlah sensitif,’ kata pengacara Hegazy yang baru, Rawda Ahmad, kepada Compass melalui penerjemah. ‘Untuk pertamakalinya Muslim beralih ke Kristen ingin mengubah nama agama di KTP nya.’

Meskipun hukum Islam tidak melarang peralihan kepercayaan dari Islam ke Kristen, tapi tidak ada UU yang mengijinkan perubahan nama agama secara resmi. Muslim yang beralih ke Kristen biasanya menyembunyikan identitas diri agar tidak disiksa dan dipaksa balik ke Islam lagi oleh sanak saudaranya sendiri dan polisi.

“Saya sakit hati karena di negaraku sendiri, masyarakat telah jadi begitu radikal sehingga aku tidak berhak murtad,” kata Hegazy pada Compass minggu ini.

Hegazy dan istrinya yang bernama Zeinab berharap bahwa anak pertama mereka yang akan lahir di bulan Januari, akan lahir dengan akte kelahiran beragama Kristen. Mereka terpaksa menjalani perkawinan dengan cara Islam, karena status resmi mereka tetap Muslim. Hegazy dan istri tahu bahwa dengan memiliki KTP Kristen, maka anak mereka dapat mengambil mata pelajaran Kristen di sekolah, menikah di gereja, dan terang-terangan menghadiri kebaktian Kristen tanpa takut dijahati. Saat ini, ancaman-ancaman dari fanatik-fanatik Muslim telah memaksa keduanya untuk tetap bersembunyi, dan bahkan Hegazy sendiri jadi tidak bisa datang ke pengadilan untuk mendengarkan kasusnya minggu lalu.

Pasangan murtadin ini mengatakan pada Compass bahwa dia dan istri sehat-sehat saja, tapi frustasi karena dikurung di rumah. “Rasanya seperti dipenjara dan tidak ada jalan ke luar,” katanya. Hegazy berkata bahwa dia tidak percaya polisi tahu di mana dia bersembunyi. Dia berkata pada Compass bahwa polisi telah menahan beberapa murtadin di dua bulan terakhir, mengintrogasi mereka untuk tahu di mana Hegazy bersembunyi. Media Islam mengritik Hegazy di beberapa bulan terakhir, dengan menyatakan dia murtad gara-gara uang, ancaman, dan tekanan luar negeri untuk mengacaukan Mesir.

‘Media pro Pemerintah sangat menyerang Hegazy,’ demikian dikatakan wakil Informasi Hak Azasi Manusia Jaringan Arab (HAMI) hari ini. ‘Hal ini tentunya berakibat buruk pada kasusnya, membuatnya jadi lebih ke keputusan politik.’ Tapi anehnya, pengadilan dengar kasus minggu lalu tidak disorot media Mesir. Acara dengar kasus di distrik Kairo bernama al-Doqi berjalan singkat. Hakim Muhammad Husseini menunda kasus sampai tanggal 13 November, dan ini memberi waktu bagi pengacara baru untuk mengambil alih kasus dari pengacara lama. Ahmad dan Gamal Eid dari HAMI harus punya ijin resmi dari Hegazy untuk mewakili kasusnya atau mengajukan tuntutan baru, demikian dikatakan juru bicara HAMI. Di bulan April, hakim Husseini menolak 45 kasus orang-orang Kristen yang jadi mualaf, tapi lalu balik lagi ke Kristen. Kasus-kasus mereka sekarang masih tertahan di pengadilan. Sejak tahun 2004, beberapa lusin Kristen Koptik yang beralih jadi mualaf telah menang kasus pengadilan sehingga bisa balik lagi memeluk agama Kristen. Tapi Hegazy merupakan Muslim Mesir pertama yang menuntut perubahan hukum.


Diajarkan untuk Membenci Orang-orang Kristen


Sekarang Hegazy berusia 24 tahun. Dia berkata bahwa dia pertama kali mengambil keputusan untuk jadi Kristen di usia 16 tahun. “Ayahku adalah Muslim KTP, tapi dia benci banget sama orang-orang Kristen dan Yahudi karena dia percaya begitulah yang diajarkan oleh Islam,” kata Hegazy dalam pernyataan di sebuah website. “Sewaktu kecil, aku diajar untuk tidak mengasihi dan tidak menghormati orang-orang Kristen, tapi malah mengancam mereka dengan keras karena Tuhan benci mereka.”

Sebagai remaja, Hegazy masuk sekolah tinggi untuk dilatih menjadi Imam Islam tapi dia tidak suka dengan hukum Islam terhadap wanita dan berbagai hal. Sewaktu menginjak usia 16 tahun, dia masuk kelas yang memiliki tujuh murid Kristen. Saat itulah dia mulai berpikir serius tentang agama Kristen. “Itulah saat pertama kali aku hidup dekat dengan orang-orang Kristen, dan hidup mereka bagaikan sinar terang bagi diriku,” kata Hegazy. Suatu hari dia meminjam sebuah buku Kristen dari rekan kelasnya dan membaca pertobatan Saulus. Kisahnya membangkitkan minat dalam dirinya untuk mengetahui lebih jauh tentang agama Kristen. Hegazy berkata bahwa dia dengan cepat yakin akan kebenaran Kristen dan ingin memeluk agama tsb.

“Yesus muncul padaku beberapa kali sewaktu aku membaca Alkitab,” katanya. ‘Ayahku sangat marah ketika mengetahui aku pergi ke gereja dan membaca buku-buku Kristen.’

Polisi keamanan negara segera menangkapnya dan menyiksanya selama tiga hari. Mereka bahkan menggunakan seorang pendeta Koptik Ortodoks untuk membujuknya kembali ke Islam, tapi usaha itu gagal. Akhirnya dia dikembalikan ke rumahnya, dan ayahnya mengira dia telah kembali jadi Muslim. Hegazy berkata dia terus aktif dengan iman Kristennya, menulis dan menerbitkan puisi-pusinya. Polisi kembali menangkapnya di tahun 2002 dan menahannya selama 10 minggu di kamp konsentrasi di mana dia bertemu para murtadin lainnya.


Konsekuensi Nyata


Hegazy tahu bahwa perjuangannya akan berat. “Aku letakkan keyakinanku dalam Tuhan, dan aku merasa aku harus teguh,” kata Hegazy. “Ini adalah kewajibanku terhadap diriku, keluargaku, semua Muslim yang murtad dan memeluk Kristen, dan semua Kristen.”.

Tapi meskipun ada kemungkinan kasusnya menang di Mesir, hal ini bisa mendatangkan akibat buruk bagi masyarakat Kristen Mesir. Untuk membuat kasus pindah agamanya jadi resmi di mata hukum, maka orang-orang Kristen harus membuat dokumen gereja di pengadilan. Hal ini berbahaya bagi orang-orang Kristen yang membantunya jadi murtad.

“Aku hanya bisa berkata bahwa aku punya dokumen-dokumen yang menunjukkan bahwa aku dan istri telah dibaptis, dan aku bisa menunjukkannya di pengadilan,” katanya. Dia tidak mau memberitahu di gereja mana dia dibaptis dan menunjukkan dokumen tersebut. Meskipun tidak ada laporan resmi, jumlah Koptik Kristen Mesir mencapai 8 sampai 15% dari populasi Mesir. Jumlah yang murtad ke Kristen tidak diketahui.


ISTANBUL, October 10- 2007 (Compass Direct News)


Sumber : Situs My Family