Loading...

Sunday, February 21, 2010

Pertolonganku Datangnya Dari Tuhan


-->

PERTOLONGANKU DATANGNYA DARI TUHAN

“Nyanyian ziarah. Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku? Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi. Ia takkan membiarkan kakimu goyah, Penjagamu tidak akan terlelap. Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga Israel. TUHANlah Penjagamu, TUHANlah naunganmu di sebelah tangan kananmu. Matahari tidak menyakiti engkau pada waktu siang, atau bulan pada waktu malam. TUHAN akan menjaga engkau terhadap segala kecelakaan; Ia akan menjaga nyawamu. TUHAN akan menjaga keluar masukmu, dari sekarang sampai selama-lamanya” ( Mazmur 121)

Mazmur yang kita renungkan dan baca ini berbentuk “Nyanyian Ziarah”. Bahasa Ibrani yang dipakai untuk kata “ziarah” dalam terjemahan Alkitab Lama adalah “hammalot”. Sifat “ ziarah”dalam tradisi keagamaan di Israel berbeda maknanya dengan budaya Indonesia. Dalam budaya Indonesia, “ziarah” itu dihubungkan dengan peristiwa kematian dan dalam suasana dukacita, dan atau tempat-tempat keramat. Sementara “ziarah” dalam tradisi keagamaan di Israel memiliki makna :
Perjalanan umat Israel menuju Bait Allah di Zion-Yerusalem. Dalam perjalanan seperti itu, secara pribadi ataupun bersama kaum keluarga, Israel pasti menghadapi berbagai tantangan pisik dan psikis, akan tetapi perasaan rindu bertemu Allah dalam Bait Kudus-Nya menghapus seluruh penderitaan. Oleh karena itu Israel tidak merasakan penderitaan sebagai hambatan yang menghalangi perjalanaan, tetapi tantangan yang menambah semangat untuk segera berjumpa dengan TUHAN Allahnya. Semangat itu menggelora di dalam hati umat karena kerinduan akan perjumpaan dengan Allah. Dengan demikian perjalanan “ziarah” ke rumah Allah itu penuh suasana sukacita, yang diungkapkan melalui nyanyian disertai alat-alat musik.

Dalam Mazmur 121 ini pemazmur menceritakan penghayatannya sepanjang perjalanan “ziarah”. Kali ini “ziarah” dilakukan secara pribadi. Pemazmur 121 menceritakan seluruh perjalananan “ziarah” hidupnya sebagai tradisi iman yang diwariskan kepada setiap pembaca mazmur. Pemazmur mengungkapkan pergumulannya sepanjang perjalanan ziarah : “ Darimanakah akan datang pertolonganku ?” ( Mazmur 121:1 ). Sebagai manusia, pemazmur mengalami tantangan dan ancaman dalam perjalanan. Kekuatiran, kebingungan, keputusasaan karena penderitaan telah membuat mata hatinya tidak memandang kekuasaan Allah. Keptusasaan telah mengacaukan kendali kehidupannya. Pemazmur tidak mengerti : “ Apakah tujuan Allah di dalam penderitaannya” ? Kepedihan hati telah membuat Pemazmur buta dan tidak dapat membaca maksud dan rencana Allah baginya. Dalam hal seperti itu iblis atau setan dapat menggunakan suasana batin untuk menggoda Pemazmur. Tetapi Allah yang berdaulat berdasarkan kasih setia-Nya yang kekal, menyatakan pemeliharaan-Nya ke atas kehidupan Pemazmur.
Pemazmur mengatakan : “ Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung, dari manakah akan datang pertolonganku?” ( Mazmur 121:1 ). Mengapa harus menatap ke gunung ? Bagi orang Israel, gunung adalah tempat yang tinggi. Lebih tinggi dari segala sesuatu. Mengkiaskan tempat Allah berdiam. Gunung yang dimaksudkan adalah tempat Allah bersemayam. Zion, Gunung TUHAN. Di sana Allah bersemayam. Kesanalah mata Pemazmur diarahkan, sebab dari sanalah datang sumber pertolongan. Katanya : “ Pertolonganku ialah dari TUHAN…..” ( Mazmur 121:2, bandingkan juga Mazmur 124:8)
Pemazmur mengulangi pernyataan tentang keyakinnanya dalam pengalimatan berbeda tapi maknanya, seperti : “ Darimanakah akan datang pertolonganku? “ ….”Pertologanku ialah dari TUHAN” . Sebuah kalimat tanya tak bertanya ( resiprokal) yang digunakan Pemazmur menegaskan dan memastikan keyakinan imannya kepada TUHAN Allah Israel sebagai Penjaganya, terutama pemelihara Israel. Begitu pula dalam ayat Mazmur 121 : 3b dan Mazmur 121: 4a : “ Penjagamu tidak terlelap (ayat 3b), sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga Israel ( ayat 4 ).
Setelah Pemazmur dan seluruh Israel beristirahat dari pekerjaan seharian, mereka masuk ke bait Allah untuk mengucap syukur di penghujung sore, karena TUHAN Allah melaksanakan dan menyelenggrakan pekerjaan-Nya atas kehidupan umat-Nya. Ia menjaga, memelihara dan melindungi Israel, sebagai kaum pengembara di bumi, “ dari sekarang sampai selama-lamanya” ( Mazmur 121:8b).
Meskipun Israel bekerja seharian penuh, banyak derita, tantangan dan bahaya mengancam kehidupan, tetapi TUHAN Allah adalah Penolong setia menjaga dan memelihara umat-Nya. Sama seperti leluhur Israel : Abraham, Ishak dan Yakub adalah pengembara yang dipelihara dan di jaga TUHAN Allah, demikian juga TUHAN Allah melakukannya atas keturunan mereka. Mengapa TUHAN Allah memelihara dan menjaga Israel ? Karena Dia setia terhadap perjanjian kasih karunia-Nya kepada umat-Nya, Israel. Penyertaan itu membangkitkan dan membangun iman dan pengharapan di tengah penderitaan.

Saudara-saudaraku yang diberkati dan disayangi TUHAN !

Kita adalah umat TUHAN Allah. Tuhan Yesus berkata : “ Mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia “ ( Yohanes 17:16 ). Umat Israel dan kita gereja Kristen adalah umat Allah dan merupakan seorang musafir yang berjalan di atas bumi. Allah mengutus gereja dan orang Kristen bersaksi tentang Injil Kerajaan Allah. Ada 2 hal yang dapat kita tarik dari renungan Firman Tuhan ini :
  • Pertama : terkait pada kehidupan pribadi. Kita adalah hasil pekerjaan Allah. Kita ada di bumi mulai dari kelahiran. Kita mengembara di bumi, menikah, bekerja dan akhirnya wafat. Banyak peristiwa dan suasana kehidupan dialami sepanjang pengembaraan. Suka dan duka silih berganti. Akan tetapi keyakinan iman kepada TUHAN Allah di dalam nama Kristus Yesus sajalah yang membuat Allah menyelamatkan kita.

  • Kedua : terkait pada kehidupan persekutuan. Gereja adalah hasil karya TUHAN Allah. Gereja adalah wujud persekutuan TUHAN Allah dengan manusia hanya karena iman di dalam Kristus Yesus. Dalam perjalanan pemberitaan Injil Tuhan, Gereja mengalami berbagai kesulitan dan penderitaan. Namun percaya akan pemeliharaan TUHAN Allah atas kehidupannya.

Kita bersyukur kepada TUHAN Allah, oleh karena kesetiaan-Nya kepada ikatan perjanjian-Nya dengan leluhur orang beriman. Dia melanjutkan pemeliharaan-nya ke atas kehidupan setiap umat Kristen dan gereja-Nya.

Soli Deo Gloria

No comments:

Post a Comment