Sunday, July 5, 2009

TUHAN, Gembalaku Yang Baik


TUHAN, Gembalaku Yang Baik

Mazmur Daud

( Mazmur 23)


“Mazmur Daud. TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah. Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa”. (Mazmur 23 : 1-6 )


TUHAN . Mazmur ini, yang bersumber dari pikiran Tuhan dan diilhamkan oleh Roh Kudus, yang mengungkapkan perhatian dan pemeliharan-Nya yang tekun atas mereka yang mengikut Dia. Mereka merupakan sasaran kasih Ilahi yang sangat dihargai-Nya. Dia mempedulikan masing-masing mereka sebagaimana seorang ayah mempedulikan anak-anaknya dan sebagaimana seorang gembala mempedulikan domba-dombanya.


GEMBALAKU. Dengan mempergunakan metafora yang sering terdapat dalam Perjanjian Lama/PL ( Bdk Maz 28:9, Maz 79:13, Maz 80:2, Maz 95:7, Yes 40:11, Yer 31:10, Yeh 34:6-19), Allah menyamakan diri-Nya dengan seorang gembala untuk melukiskan kasih-Nya yang besar bagi umat-Nya. Tuhan Yesus sendiri menggunakan metafora yang sama untuk menyatakan hubungan-Nya dengan umat-Nya ( Bdk Yoh 10:11-16, Ibr 13:20, 1 Ptr 5:4, Why 7:17 ). Dua kebenaran ditekankan disini yaitu :

  1. Allah, melalui Kristus dan oleh Roh Kudus, demikian memperhatikan setiap anak-anak-Nya sehingga Ia ingin mengasihi, memelihara, melindungi, membimbing, dan dekat dengan anak itu, sebagaimana dilakukan oleh seorang gembala yang baik dengan domba-dombanya sendiri ( Bdk Yoh 10 :11,14)
  2. Orang percaya adalah domba-domba Tuhan. Kita adalah milik-Nya dan menjadi sasaran khusus kasih sayang dan perhatian-Nya. Sekalipun “ kita sekalian sesat seperti domba” (Bdk Yes 53:6), Tuhan telah menebus kita dengan darah-Nya yang tercurah ( Bdk 1 Ptr 1:18-19), dan kini kita menjadi milik-Nya. Selaku domba-domba Allah kita dapat menagih janji-janji Mazmur ini waktu kita menanggapi suara-Nya dan mengikut Dia ( Bdk Yoh 10:3-5, Yoh 10:28).

TAKKAN KEKURANGAN AKU. “ Takkan kekurangan “ artinya :

  1. Aku tidak kekurangan apapun yang diperlukan bagi pelaksanaan kehendak Allah dalam kehidupanku ( Bdk 3 Yoh 2).
  2. Bahwa aku akan puas dengan pemeliharaan Gembala yang Baik serta perhatian-Nya kepadaku bahkan pada saat-saat mengalami kesulitan pribadi, karena aku mengandalkan kasih dan komitmen Allah kepadaku ( Bdk Yoh 10:11, Flp 4 : 11-13)

IA MEMBARINGKAN AKU. Kehadiran dan kedekatan sang Gembala membuat aku dapat “membaringkan diri” dengan tenang, bebas dari segala ketakutan. Roh Kudus selaku Penghibur, Penasihat, dan Penolong meyampaikan perhatian dan kehadiran Kristus sebagai Gembala dalam hidupkku ( Bdk Yoh 14:16-18, 2 Tim 1:7)

  1. Istirahatku yang aman dalam kehadiran-Nya akan dialami “ di padang yang berumput hijau”, yaitu di dalam Yesus Kristus dan Firman Allah, yang dibutuhkan untuk kehidupan yang berlimpah ( Bdk Yoh 6: 32-35,63, Yoh 8:31, Yoh 10:9, Yoh 15:7)
  2. “Ia membimbing aku ke air yang tenang” dari Roh Kudus-Nya ( Bdk Maz 1:3, Yer 2:13, Yoh 7:37-39).

IA MENYEGARKAN JIWAKU. Ketika aku menjadi putus asa ( Bdk Maz 42 : 12), Gembala yang Baik membangkitkan dan menghidupkan kembali jiwaku melalui kuasa dan kasih karunia-Nya ( Bdk Ams 25:13). “Ia membimbing aku” dengan Roh Allah ( Bdk Rm 8:14) pada jalan yang benar, yang sesuai dengan jalan kekudusan-Nya (Bdk Rm 8:5-14). Tanggapanku adalah ketaatan : aku mengikuti Gembala dan mendengarkan suara-Nya ( Bdk Yoh 10”3-4), aku tidak akan mengikuti “suara orang-orang asing” ( Bdk Yoh 10:5).


ENGKAU BESERTAKU. Pada saat-saat bahaya, kesulitan dan bahkan kematian, aku tidak takut bahaya, Mengapa ? Karena “Engkau besertaku” di dalam setiap situasi kehidupan ( Bdk Mat 28:20 ). “Gada” (tongkat pendek) menjadi senjata pertahanan atau disiplin, melambangkan kekuatan, kuasa dan wibawa Allah ( Bdk Kel 21:20, Ayb 9:34). “Tongkat” (tongkat ramping panjang yang salah satu ujungnya melengkung) dipakai untuk mendekatkan domba-domba dengan gembalanya, menuntunnya pada jalan yang benar atau meyelamatkannya dari kesulitan. Gada dan tongkat Allah menjamin kasih dan bimbingan Allah dalam kehidupan kita ( Bdk. Maz 71:12, Maz 86 :17).


MENYEDIAKAN HIDANGAN. Allah digambarkan sebagai memperhatikan semua kebutuhanku di tengah-tengah berbagai kekuatan jahat yang berusaha merusak kehidupan dan jiwaku ( Bdk Rm 8:31-39) yang dapat diterangkan sebagai berikut :

  1. Hari lepas hari aku dihadapkan pada Iblis dan dikelilingi masyarakat fasik, namun aku dibekali dengan cukup kasih karunia untuk hidup dan bersukacita di hadapan Allah ( Bdk. 2 Kor 12 :9-10). Aku bisa makan di meja Tuhan dalam iman, ucapan syukur, dan harapan, tenteram dan terlindung oleh darah yang tercurah dan tubuh yang terluka dari Gembala Yang Baik ini ( Bdk 1 Kor 11:23).
  2. “Mengurapi kepalaku dengan minyak” mengacu kepada perkenan dan berkat khusus dari Allah melalui Roh Kudus sebagai urapan Allah atas tubuh, pikiran dan rohku ( Bdk Efesus 5:18)
  3. “Pialaku penuh melimpah” secara harafiah berarti, “Pialaku memberiku minuman berlimpah “. Piala disini menunjuk kepada piala seorang gembala yang merupakan sebuah batu besar yang dilubangi dan dapat berisi 150-188 liter air dan menjadi tempat minum domba-domba.

KEBAJIKAN DAN KEMURAHAN ( Versi Inggris NIV- Kebajikan Dan Kasih ). Dengan sang Gembala yang menemani aku sepanjang jalan hidup ini, aku akan menerima pertolongan, kemurahan dan dukungan. Tidak perduli apa yang terjadi aku dapat mempercayai Gembala Yang Baik akan bekerja melalui segala sesuatu demi kebaikanku ( Bdk Rm 8:28 , Yak 5 :11). Sasaran dari mengikuti sang Gembala serta mengalami kebaikan dan kasih-Nya ialah agar pada suatu saat aku akan bersama Tuhan selama-lamanya (Bdk 1 Tes 4:17), melihat wajah-Nya ( Bdk Why 22:4), dan melayani Dia sepanjang masa di rumah-Nya, rumah Bapa sorga yang mulia ( Bdk Why 22:3, Yoh 14:2-3 ).


Soli Deo Gloria


TUHAN, KAU GEMBALA KAMI


LAGU PUJIAN :Kidung Jemaat No. 407


Tuhan, Kau Gembala kami,

Tuntun kami domba-Mu

B’rilah kami menikmati

Hikmat pengurbanan-Mu

Tuhan Yesus, Juru’slamat

Kami ini milik-Mu,

Tuhan Yesus, Juru’slamat,

Kami ini milik-Mu


Kau Pengawal yang setia,

Kawan hidup terdekat

Jauhkan kami dari dosa,

Panggil pulang yang sesat,

Tuhan Yesus, Juru’slamat

Kami mohon, bri berkat

Tuhan Yesus, Juru’slamat

Kami mohon, bri berkat


Janji-Mu, Kau t’rima kami,

Walau hina, bercela

Yang berdosa Kausucikan,

Kaubebaskan yang lemah.

Tuhan Yesus, Juru’slamat,

Kini kami berserah.

Tuhan Yesus Juru’slamat

Kini kami berserah


Kehendak-Mu kami cari,

Ingin turut maksud-Mu

Tuhan, isi hati kami

Dengan kasih-Mu penuh.

Tuhan Yesus, Juru’slamat,

Tak terhingga kasih-Mu

Tuhan Yesus, Juru’slamat,

Tak terhingga kasih-Mu


Daftar Pustaka :

ALKITAB PENUNTUN HIDUP BERKELIMPAHAN ( FULL LIFE STUDY BIBLE)


Friday, July 3, 2009

Kesaksian " Hindu SIKH Masuk Kristen " , Ny Balwinder Singh

KESAKSIAN “HINDU SIKH MASUK KRISTEN” :

“ Ny Balwinder Singh”


Kalau pada hari ini saya boleh mengaku pada kebenaran Alkitab dan mengaku Yesus Kristus sebagai Tuhan Dan Juruselamat, hal ini memang sungguh ajaib. Saya katakan ajaib karena saya dulunya tidak pernah bisa mengerti mengapa seorang manusia sampai boleh disebut Tuhan oleh orang-orang Kristen. Saya adalah seorang manusia yang dulunya tidak pernah merasa simpati sama kepercayaan orang-orang Kristen. Malah pernah saya di dalam hati mentertawakan Alkitab sebagai buku yang tak bernilai, tak menarik hati saya untuk membacanya. Saya pandang remeh sekali sama Alkitab. Saya mengatakan semua agama baik kecuali Kristen, yang men-Tuhan-kan manusia, dan menjamin dosa manusia bisa ditebus manusia yang bernama Yesus. Saya merasa tak masuk akal. Namun apa jadi, Allah menunjukkan kebenaran yang sungguh daripada-Nya.

Di dalam keluarga saya, ada seorang kakak ipar saya beserta suaminya yang baru menjadi pengikut Yesus Kristus. Mereka selalu bersaksi pada saya tentang kuasa Yesus, tapi saya tidak pernah bisa masuk akal, tak mahu saya percaya. Malah saya selalu menyadarkan mereka supaya mereka kembali ke agama semula yaitu SIKH. Saya katakan : “ Agama Kristen ini jeleknya banyak, terutama sekali suka mengagamakan orang yang sudah beragama “. Tanpa setahu saya, suami saya rupanya sudah lama menjadi pengikut Kristus, beliau merahasiakan dari saya karena takut akan keretakan rumah tangga kami. Lebih kurang setahun setelah perkawinan kami, beliau menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat semasa beliau bekerja di Balikpapan tanpa diketahui oleh saya.

Saya benar-benar benci mendengar nama Yesus dulunya, apa lagi menyebut nama tersebut, saya rasa lucu dan jijik. Demikian bencinya sampai timbul niat dan usaha saya mahu menyebarkan agama Sikh ke kalangan orang Kristen supaya mereka boleh mengerti Tuhan itu bagaimana sebenarnya. Tetapi Tuhan tidak sampaikan maksud saya ini. Dalam pada itu kakak ipar saya ini tak hentinya bersaksi tentang Yesus. Saya malah mahu muntah mendengar cerita-ceritanya tentang : “Kesembuhan “. Saya merasa aib besar telah menimpa keluarga saya dengan beralih kepercayaannya itu. Jiwa saya merasa tidak tenteram lagi. Pikiran saya sering terganggu karena situasi rumah sering tegang. Saya merasa berdosa kalau tidak dapat berbuat sesuatu untuk agama saya (SIKH). Hati saya mulai bertanya pada Tuhan : “Ya.., Tuhan, aib macam apakah ini yang menimpa keluarga kami ? Benarkah Yesus itu Tuhan ? Ya, Tuhan, kalau benar Yesus itu Tuhan tolong tunjukkan pada saya kuasanya itu . Ya, Tuhan saya tidak mahu menyembah sesuatu yang salah ! Saya hanya ingin tunduk pada-Mu ya Tuhan, yang mencipta langit dan bumi.

Dalam beberapa hari kemudian, anak saya yang pertama tiba-tiba saja menjadi sakit panas sekali tubuhnya. Begitu panasnya, ia terus menjadi kuyu, tak berdaya. Saya menjadi takut karena anak saya tersebut lagi menderita Tuberclosis dan sedang menjalani pengobatan bulan ke III (tiga). Anehnya tiba-tiba sekitar pukul 12:00 siang, saya bilang suami : “ Ayo, kita coba ke gereja minta di doa’ in karena dokter spesialisnya buka praktek sore pukul 17:00, nanti bisa lebih berbahaya kalau dibiarin sampai sore”. Suami saya tidak mahu, masak orang sakit ke gereja ? Mestinya dibawa ke dokter dong ! Tapi heran hati saya begitu ingin ke gereja. Karena suami melarang, saya lantas bawa ke dokter spesialis yang lagi menangani penyakitnya. Herannya, dokter lagi keluar kota, 2 hari baru pulang. Saya jadi bingung, saya harus kemana sekarang ? Mahu ke spesialis lain timbul rasa khawatir disamping saya mempunyai uang hanya pas untuk membayar checking. Saya tidak punya uang untuk membayar bajaj kecuali ongkos becak untuk pulang Rp. 250. Akhirnya saya berjalan kaki menuju ke rumah family saya dengan tujuan beliau bisa menghantar saya dengan kendaraannya untuk spesialis lain. Tapi apa jadinya, bibi tersebut baru saja keluar menemani tetangga yang sakit mahu melahirkan anak. Dalam perjalanan pulang dari rumah bibi, saya berpikir terus, pulang atau ke gereja ? Kalau pulang bagaimana nanti malam jika terjadi apa-apa misalnya step, kalau saya ke gereja, apa nanti kata orang ? Dalam keadaan bingung, tiba-tiba timbul keinginan besar dan keberanian untuk ke gereja. Saya ambil bajaj dan langsung ke gereja dengan uang untuk checking tersebut. Dalam perjalanan hati saya berperang terus, ditengah perjalanan melewati kuil Sikh hati saya ingin saya berhenti di situ tapi ada suara dihati berkata : “Disana tak pernah ada kesembuhan spontan tanpa obat dan tapa nazar “. Hati berperang, tapi mulut tak dapat bersuara. Tibalah saya dimuka gereja. Saya masuk perlahan-lahan. Saya ingin bertemu dengan bapak Pendeta yang pernah mendoakan kakak saya hingga sembuh secara ajaib. Tapi pendetanya keluar, saya hampir pulang. Lantas mereka berkata kami juga bisa berdoa karena yang menyembuhkan hanya Tuhan. Secara tegas saya tekankan bahwa saya bukan orang Kristen, dan kalau saya bisa berada di tempat ini pada saat ini saya sendiripun heran, dan mereka hanya tersenyum mendengar pengakuan saya.

Ketika diajak berdoa terlebih dahulu diberitakan firman pada saya : “ Bahwa upah dosa ialah maut tapi kasih karunia Allah adalah hidup kekal di dalam Kristus Yesus”. Ketika berdoa, saya tidak tahu mengapa saya menangis, saya menangis dengan penuh keharuan. Doa itu begitu indah. Saya belum pernah mendengar doa yang begitu indah yang sanggup menghancurkan hati saya, dan menghancurkan kekerasan hati saya. Selesai berdoa saya pamit mahu pulang. Baru saja di muka pintu gereja saya lagi menunggu bajaj, saya jamah dahi dan tubuh anak saya, ajaib panasnya hilang total. Saya tertegun melihat kuasa nama Yesus. Ketia di bajaj anak saya sudah mulai ngomong seperti tidak ada sakit tadinya. Setiba di rumah semua pada heran melihat kesembuhan yang begitu drastis. Saya memperoleh satu perasaan sepulang dari gereja yang belum pernah saya dapati sebelumnya yaitu perasaan damai. Sampai saat ini tak dapat saya lupakan rasa damai yang saya dapat itu. Satu kesaksian dari saya, lagi hidup saya berubah dalam saya mengiring Tuhan Yesus. Hati pemarah yang saya dapati sejak ayah saya meninggal tiba-tiba jadi hilang. Saya mendapat satu kekuatan yang baru karena sekarang saya menyembah Allah yang saya kenal. Begitulah besar kasih Allah pada saya. Kebencian saya disambut dengan kasih anugerah keselamatan dalam Yesus Kristus. Amin.


Thursday, July 2, 2009

Hanya Allah Yang Sanggup


HANYA ALLAH YANG SANGGUP


“Pada tahun yang kedua pemerintahan Nebukadnezar bermimpilah Nebukadnezar; karena itu hatinya gelisah dan ia tidak dapat tidur. Lalu raja menyuruh memanggil orang-orang berilmu, ahli jampi, ahli sihir dan para Kasdim, untuk menerangkan kepadanya tentang mimpinya itu; maka datanglah mereka dan berdiri di hadapan raja. Kata raja kepada mereka: "Aku bermimpi, dan hatiku gelisah, karena ingin mengetahui mimpi itu." Lalu berkatalah para Kasdim itu kepada raja (dalam bahasa Aram): "Ya raja, kekallah hidupmu! Ceriterakanlah kepada hamba-hambamu mimpi itu, maka kami akan memberitahukan maknanya." Tetapi raja menjawab para Kasdim itu: "Aku telah mengambil keputusan, yakni jika kamu tidak memberitahukan kepadaku mimpi itu dengan maknanya, maka kamu akan dipenggal-penggal dan rumah-rumahmu akan dirobohkan menjadi timbunan puing; tetapi jika kamu dapat memberitahukan mimpi itu dengan maknanya, maka kamu akan menerima hadiah, pemberian-pemberian dan kehormatan yang besar dari padaku. Oleh sebab itu beritahukanlah kepadaku mimpi itu dengan maknanya!" Mereka menjawab pula: "Silakan tuanku raja menceriterakan mimpi itu kepada hamba-hambanya ini, maka kami akan memberitahukan maknanya." Jawab raja: "Aku tahu benar-benar, bahwa kamu mencoba mengulur-ulur waktu, karena kamu melihat, bahwa aku telah mengambil keputusan, yakni jika kamu tidak dapat memberitahukan kepadaku mimpi itu, maka kamu akan kena hukuman yang sama; dan aku tahu bahwa kamu telah bermufakat untuk mengatakan kepadaku hal-hal yang bohong dan busuk, sampai keadaan berubah. Oleh sebab itu ceriterakanlah kepadaku mimpi itu, supaya aku tahu, bahwa kamu dapat memberitahukan maknanya juga kepadaku." Para Kasdim itu menjawab raja: "Tidak ada seorang pun di muka bumi yang dapat memberitahukan apa yang diminta tuanku raja! Dan tidak pernah seorang raja, bagaimanapun agungnya dan besar kuasanya, telah meminta hal sedemikian dari seorang berilmu atau seorang ahli jampi atau seorang Kasdim. Apa yang diminta tuanku raja adalah terlalu berat, dan tidak ada seorang pun yang dapat memberitahukannya kepada tuanku raja, selain dari dewa-dewa yang tidak berdiam di antara manusia." Maka raja menjadi sangat geram dan murka karena hal itu, lalu dititahkannyalah untuk melenyapkan semua orang bijaksana di Babel. Ketika titah dikeluarkan supaya orang-orang bijaksana dibunuh, maka Daniel dan teman-temannya pun terancam akan dibunuh. Lalu berkatalah Daniel dengan cerdik dan bijaksana kepada Ariokh, pemimpin pengawal raja yang telah pergi untuk membunuh orang-orang bijaksana di Babel itu, katanya kepada Ariokh, pembesar raja itu: "Mengapa titah yang begitu keras ini dikeluarkan oleh raja?" Lalu Ariokh memberitahukan hal itu kepada Daniel. Maka Daniel menghadap raja dan meminta kepadanya, supaya ia diberi waktu untuk memberitahukan makna itu kepada raja. Kemudian pulanglah Daniel dan memberitahukan hal itu kepada Hananya, Misael dan Azarya, teman-temannya, dengan maksud supaya mereka memohon kasih sayang kepada Allah semesta langit mengenai rahasia itu, supaya Daniel dan teman-temannya jangan dilenyapkan bersama-sama orang-orang bijaksana yang lain di Babel. Maka rahasia itu disingkapkan kepada Daniel dalam suatu penglihatan malam. Lalu Daniel memuji Allah semesta langit. Berkatalah Daniel: "Terpujilah nama Allah dari selama-lamanya sampai selama-lamanya, sebab dari pada Dialah hikmat dan kekuatan! Dia mengubah saat dan waktu, Dia memecat raja dan mengangkat raja, Dia memberi hikmat kepada orang bijaksana dan pengetahuan kepada orang yang berpengertian; Dialah yang menyingkapkan hal-hal yang tidak terduga dan yang tersembunyi, Dia tahu apa yang ada di dalam gelap, dan terang ada pada-Nya. Ya Allah nenek moyangku, kupuji dan kumuliakan Engkau, sebab Engkau mengaruniakan kepadaku hikmat dan kekuatan, dan telah memberitahukan kepadaku sekarang apa yang kami mohon kepada-Mu: Engkau telah memberitahukan kepada kami hal yang dipersoalkan raja." ( Daniel 2:1-23 )


Ada orang yang beranggapan bahwa doa adalah pelarian. Seharusnya orang bukan berdoa, melainkan berjuang. Apa pendapat anda terhadap anggapan demikian ? Ancaman hukuman mati untuk para cendikiawan karena tidak mampu menceritakan dan menafsirkan mimpi Nebukadnezar, jelas meresahkan hati Daniel. Ia harus melakukan sesuatu ! Jika tidak, maka bukan hanya dia, tetapi ketiga temannya dan seluruh cendikiawan di Babel terancam hukuman mati. Maka ia tidak tinggal diam. Ia mencari tahu penyebab raja mengeluarkan perintah hukuman mati itu. Setelah memahami masalahnya, Daniel tahu bahwa ada satu jalan keluar. Apa yang tidak mungkin dilakukan oleh orang berilmu, ahli jampi, ahli sihir, dan para Kasdim ( Daniel 2 : 2) adalah mungkin dilakukan oleh Allah Israel. Allah Israel adalah Allah Yang Maha Tahu. Daniel percaya bahwa mimpi Raja Nebukadnezar berasal dari Allah, dan karena itu hanya dapat ditafsirkan oleh Allah juga. Dalam situasi sulit yang tidak dapat diatasi dengan pikiran manusia, iman keempat hamba-Nya ini bertumbuh semakin kuat. Tidak ada jalan lain, Daniel dan ketiga rekannya memohon belaskasihan Allah. Doa mereka kemudian terjawab. Allah menyingkapkan isi mimpi raja dan tafsiran maknanya kepada Daniel (Daniel 2: 19). Tentu saja Daniel segera memuji-muji Allah atas hikmat-Nya ( Daniel 2:20-23).

Krisis itu memperlihatkan perhatian Allah pada umat-Nya. Meski mereka berada di pembuangan, Allah tidak meninggalkan mereka. Disisi lain, peristiwa itu memperlihatkan bahwa dewa sesembahan Babel beserta para penyembahnya tidak mempunyai kemampuan dan pengetahuan atas masalah yang tidak terlihat. Namun apa yang tak mungkin bagi manusia dan diluar pemikiran manusia, adalah mungkin bagi Allah. Bahkan dalam cara yang tak pernah diperkirakan siapapun. Hanya Allah yang sanggup menyingkapkan segala rahasia dan misteri. Maka tak ada respons lain bagi kita selain bergantung pada-Nya dalam setiap masalah, yang tak terpecahkan sekalipun.


Tuesday, June 23, 2009

Kesaksian Seorang Ayah : " Lima Hari Bersama Anakku Timothy"


KESAKSIAN DAN PENGALAMAN PRIBADI SEORANG AYAH : “LIMA HARI BERSAMA ANAKKU, TIMOTHY


Hari Pertama, Sabtu, 8 April 2000



Suatu hal yang sangat kami nanti-nantikan selama ini akhirnya terwujud menjadi kenyataan. Isteri saya yang mengandung anak kedua kami memasuki masa persalinannya. Karena posisi bayi yang tidak sebagaimana mestinya, isteri saya harus menjalani operasi caesar, yang dijadwalkan dilaksanakan hari ini. Sebenarnya kami harus datang ke R.S. Husada pk. 06.00 pagi pada hari ini, tetapi empat jam sebelum itu ternyata ketuban isteri saya pecah, sehingga kami harus segera berangkat. Walaupun hal seperti ini pernah kami alami pada waktu menjelang kelahiran anak pertama, kami tetap merasa sedikit panik dibuatnya. Betapa tidak? Air ketuban yang dikeluarkan isteri saya banyak sekali dan kami jadi agak khawatir kalau-kalau proses persalinan harus segera dilakukan pagi subuh ini juga. Setelah ditangani oleh para suster jaga, proses persalinan ternyata masih bisa ditunda sampai waktu yang sudah disepakati untuk caesar, yaitu pk. 09.00 pagi. Saya merasa sangat lega, sehingga walaupun tidak terlalu pulas saya dapat meneruskan tidur di bangku-bangku yang ada di depan lift lantai lima Graha Husada.

Sekitar pk. 05.30 pagi saya bangun dan menghubungi mertua saya dengan ponsel (handphone). Karena keadaan masih dapat terkendali, maka saya putuskan untuk tidak menghubungi hingga pagi hari, agar mereka tidak menjadi khawatir. Ternyata sebelum saya menghubunginya, beliau sudah lebih dulu menelepon ke rumah dan menjadi sangat khawatir setelah diberitahu pembantu kami bahwa kami sudah berangkat ke rumah sakit sekitar pk. 02.00 pagi. Memang terkadang maksud baik bisa kurang pas hasilnya bila implementasinya kurang tepat waktu dan keadaan. Cuma dua yang saya rasa sangat perlu untuk dihubungi pagi itu. Yang pertama sudah, yang kedua adalah seorang ibu pendeta yang sudah sejak tahun 80-an saya kenal. Ketika itu saya masih aktif sebagai pengurus di Komisi Remaja. Beliau saya kenal sebagai figur yang sangat tegas, tapi juga sekaligus penuh perhatian. Beliau jugalah yang memberkati pernikahan kami hampir lima tahun yang lalu. Saya sebetulnya cuma mengharapkan dukungan doa dan ucapan yang menguatkan lewat telepon dari ibu pendeta, tapi ternyata Tuhan lebih mengerti apa yang saya butuhkan. Sekitar jam 8.00, ibu pendeta datang dan terus mendampingi kami. Saya mengira sesudah mendoakan isteri saya pada waktu mau masuk ruang operasi beliau akan pamit, tapi nyatanya tidak. Saya yakin bahwa Tuhan sudah membimbing ibu pendeta untuk terus berada bersama kami sampai operasi caesar selesai. Pada saat operasi berlangsung, datang pula kakak perempuan saya dan saudara-saudara dari isteri saya.

Menit demi menit berlalu, dan tidak pernah sama sekali terlintas di benak saya hal yang terjadi kemudian. Sekitar dua puluh menit sesudah pk. 09.00 pagi, beberapa suster beserta seorang dokter keluar menemui saya dengan membawa anak yang baru dilahirkan isteri saya. Sambil memperlihatkan anak saya yang baru lahir itu, dokter anak yang menanganinya memberitahukan saya akan kondisi fisik anak saya yang memiliki beberapa kelainan. Mama mertua saya menangis tersedu-sedu. Saya sedih dan kaget. Dokter juga bertanya kepada saya apakah anak yang lahir ini akan dirawat intensif atau seadanya saja. Tentu saja saya segera memutuskan untuk dirawat intensif, bagaimanapun keadaannya sekarang dan apapun resikonya nanti. Yang pertama-tama saya khawatirkan adalah bagaimana perasaan isteri saya bila dia mengetahui hal ini. Selagi isteri saya belum sadar dari operasi, anak kami dibawa ke tempat untuk merawat bayi prematur. Walaupun cukup umur, tapi karena beratnya yang hanya 1,8 kg dan panjang 40 cm, anak kami dikategorikan sebagai bayi prematur. Dokter kemudian mengatakan bahwa ari-ari yang menghubungkan anak kami dengan plasenta ibunya kecil sekali, sementara dekat tali pusat bayi ada pembengkakkan usus. Hal ini yang mengakibatkan fisik anak kami kecil sekali, yaitu karena makanan yang diterimanya jadi sedikit.

Memang Tuhan sudah menyiapkan segala yang terbaik. Ibu pendeta langsung menghibur serta menguatkan saya dan mengingatkan agar tetap tabah dan kuat, jangan saling menyalahkan dengan isteri dan tidak perlu bertanya MENGAPA, terlebih lagi menyalahkan Tuhan. Beliau juga mengingatkan saya agar juga menyiapkan diri untuk hal terburuk yang mungkin terjadi, yaitu apabila Tuhan mengambil kembali anak kami ini. Hati saya sangat menangis dan hancur waktu itu, walaupun tidak terlalu tampak pada raut wajah saya. Saat itu, walaupun gelombang duka melanda begitu keras, saya merasa Tuhan sedang membelai-belai kepala saya sambil menghibur dan menguatkan saya lewat keberadaan dan setiap perkataan dari ibu pendeta. Ada kekuatan yang lebih besar dari gelombang duka tersebut yang mengalir menghangatkan hati dan jiwa saya. Saya sadar bahwa sebagai manusia tidak ada yang dapat saya lakukan saat ini selain berserah sepenuhnya kepada Tuhan. Andaipun saya punya uang segudang saya tetap tidak dapat membeli kesehatan dan hidup bagi anak saya. Oke, sekarang saya cukup kuat untuk diri saya sendiri, tapi bagaimana dengan isteri saya? Oh Tuhan, berilah saya hikmat dan bijaksana dalam membicarakan hal ini dengan isteri saya. Beberapa saat setelah isteri saya sadar, saya menemaninya didorong ke kamarnya di 511-B. Isteri saya bertanya tentang keadaan anak kami. Saya pikir belum saatnya untuk berterus terang sepenuhnya, jadi saya cuma mengatakan bahwa anak kami secara fisik dikategorikan sebagai bayi prematur karena berat badannya yang kurang dan dirawat secara khusus, sehingga dalam beberapa hari ini belum bisa dibawa ke mamanya. Terlihat wajah yang agak penasaran dari isteri saya karena katanya dia belum melihat sama sekali anaknya ketika selesai operasi. Dia hanya mendengar percakapan antara para dokter yang mengatakan bahwa anaknya kecil. Dia juga mendengar tangisan bayi sejenak, tapi kemudian tidak sadarkan diri karena dokter membiusnya total. Saya berusaha untuk bisa terlihat gembira oleh isteri saya agar dia tidak menjadi khawatir. Ada saudara-saudara dan beberapa sahabat dekat yang datang dan mengucapkan selamat hari ini, tapi hanya dua orang sahabat dan dua orang saudara yang saya beritahu kondisi anak saya yang sebenarnya, dengan harapan mereka dapat mendukung saya dalam doa agar saya dapat lebih dikuatkan dalam menghadapi semuanya ini. Beberapa kali saya datang melihat anak saya yang tempat perawatannya cukup jauh dari tempat perawatan isteri saya. Timothy Gabriel, yang saya panggil Timmy, terbaring lemah di dalam inkubator, sementara saya hanya bisa melihatnya dari balik kaca ruang perawatan bayi prematur. Saya tidak dapat menahan air mata saya lagi saat itu. Saya merasa seperti anak kecil yang sedang mengadu kepada orangtuanya sambil menangis. Sayapun mengadukan perkara saya kepada Bapa saya yang di Sorga, dan saya yakin Dia mendengar segala keluhan dan tangisan saya. Hampir semua saudara datang untuk mengucapkan selamat kepada kami hari ini.

Ya ... hari ini adalah hari yang sangat melelahkan. Bukan cuma fisik saya yang lelah, tapi jiwa saya juga. Tetapi saya terus berharap pada kekuatan yang dari Tuhan dan memang Dia memberikan kekuatan itu kepada saya. Setelah semua tamu pulang, malam itu sebelum saya pun pulang, saya mengajak isteri saya berdoa. Dalam doa itu kami mengucap syukur atas Timmy, dan kami juga mendoakannya supaya kondisinya cepat normal kembali. Hari ini saya belum dapat menceritakan sepenuhnya pada isteri saya masalah anak kami, karena memang keadaan isteri saya belum memungkinkan untuk itu. Malam itu saya pulang ke rumah mertua saya dan tidur di sana.


Hari Kedua, Minggu, 9 April 2000


Pagi-pagi saya bangun dan segera pergi ke gereja untuk mengikuti kebaktian pertama. Firman Tuhan pagi itu benar-benar menguatkan saya karena sangat relevan dengan situasi yang sedang saya hadapi. Pendeta Iwan mengatakan, mudah bagi kita untuk memberikan sekadarnya atau menurut kerelaan kita, tapi amat sangat sangat sulit bila kita harus memberikan yang terbaik bagi Tuhan atau sesama kita. Dan itulah yang Tuhan sudah berikan pada kita, Yang Terbaik, yaitu Putra Tunggal-Nya sendiri, Yesus Kristus. Apakah kita rela, jika saat ini kita diminta untuk memberikan yang terbaik bagi Tuhan? Apakah kita bisa berkata seperti Ayub berkata, "Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil. Terpujilah nama Tuhan!"? Sekaget terkena setrum saya mendengar pertanyaan itu. Seolah secara langsung Tuhan menanyakan hal itu pada saya. Saya menundukkan tubuh dan jiwa saya untuk merendahkan diri di hadapan Tuhan saat itu, dan saya katakan, "Tuhan, Engkau tahu yang terbaik untuk saya dan bagi keluarga saya, juga bagi anak saya, Timmy yang baru lahir. Biarlah kehendak Tuhan yang terjadi dan terima kasih ya Tuhan, karena telah mengingatkan saya agar saya siap sedia dan rela atas hal terburuk apapun yang akan terjadi karena saya percaya, Tuhan akan selalu menuntun dan memberi saya kekuatan untuk menghadapi semuanya."

Ketika kemarin ibu pendeta mengingatkan saya untuk menyiapkan diri bila Tuhan ingin mengambil kembali anak saya, saya belum bisa menerima hal tersebut, tapi saat ini, walaupun dengan sangat berat dan hancur hati, saya merelakan Timmy untuk pulang kembali kepada Bapa di Sorga. Setelah dari gereja saya mengantar-jemput anak pertama saya ke sekolah minggu. Inilah kesulitan saya yang berikutnya. Begitu berat rasa hati ini karena belum dapat berterus terang pada anak pertama saya, bagaimana kondisi adiknya. Saya menjanjikan anak pertama saya untuk langsung menjenguk mamanya di rumah sakit sepulang sekolah minggu. Dia senang sekali dan mengatakan mau melihat 'dede'-nya. Saya tidak bisa bilang apa-apa selain mengiyakan anak saya itu, padahal dalam hati saya menangis mendengarnya. Setiba di rumah sakit, sudah ada seorang sahabat dekat saya bersama isterinya datang menjenguk. Walaupun kondisi sahabat saya ini masih kurang baik karena sekitar bulan lalu terkena stroke, tapi dia tetap meluangkan waktunya untuk memberi selamat pada kami. Kami sungguh bersyukur punya sahabat yang begitu memperhatikan. Saya tidak mau merepotkan sahabat saya lebih banyak lagi, sehingga saya tidak memberitahukannya tentang keadaan anak kami. Anak pertama saya penasaran dan terus menanyakan keadaan adiknya. Saya beritahu bahwa adiknya belum boleh dibesuk, karena kondisinya belum sehat. Untunglah dia punya cukup pengertian, sehingga saya tidak terlalu bersusah hati menjelaskan. Sepanjang hari ini saya lebih mengorientasikan waktu yang ada untuk melihat Timmy. Beberapa kali saya menengok Timmy. Saya lihat kesehatannya hari ini lebih baik dari kemarin. Napasnya jauh lebih teratur dan dia bisa tidur dengan pulas. Ah Tuhan, bila Kau ijinkan Timmy bertahan, sembuhkanlah dia secara total karena kasihan sekali bila si kecil ini harus menanggung derita sakit penyakit berlarut-larut. Begitu inginnya saya memeluk serta menggendong anak saya itu, pasti lebih lagi isteri saya. Kasihan dia, hari ini tetangga sebelah ranjangnya sudah mulai diberikan anaknya untuk disusui sedangkan dia hanya melihatnya saja. Tidak banyak tamu yang datang hari ini, sehingga banyak kesempatan saya untuk bisa bercakap-cakap dengan isteri saya. Hari ini dia belum bisa buang gas, jadi masih belum boleh makan dan minum, infusnya juga belum dicabut. Karena kondisi kesehatannya belum stabil itulah, saya rasa belum waktunya untuk membicarakan masalah anak kami kepadanya.


Hari Ketiga, Senin 10 April 2000


Hari ini saya senang sekali melihat perkembangan kesehatan isteri saya. Dia sudah bisa buang gas, tapi para suster belum memperbolehkan dia melepas infus dulu. Satu botol infus yang sedang dipakai harus dihabiskan dulu, baru infus dapat dicabut. Sejak dari hari Sabtu hingga sekarang, isteri saya cuma minum air beberapa tetes saja hanya untuk membasahi bibir dan kerongkongan. Dia begitu senang karena sudah normal kembali boleh makan dan minum. Air susu isteri saya juga sudah mulai keluar, karena itu tiap beberapa jam dia juga mulai disibukkan memerasnya untuk disimpan di botol dan diserahkan ke suster agar dikirim ke tempat perawatan Timmy. Karena infus belum dicabut dan juga saya lihat dia masih kesakitan bekas operasinya, saya urungkan niat untuk memberitahu isteri tentang keadaan anak kami. Saya lihat hari ini Timmy buang air kecil, wah ... seperti air mancur. Maklum anak lelaki. Senang juga melihatnya, tapi saya juga melihat kondisi anak saya menurun hari ini. Napasnya agak tersengal dan tidurnya pun agak gelisah. Bilirubin anak saya juga tinggi hari ini, sehingga dia mulai disinar. Tubuhnya yang masih sangat kecil itu belum juga bertambah beratnya hingga hari ini. Beberapa kali saya menengok anak saya. Ada suster jaga yang baik, dan ada yang agak judes karena mungkin merasa agak terganggu oleh saya yang sering bolak-balik ke tempat itu. Melihat perkembangan kesehatan anak saya yang bukannya positif tapi malah negatif, saya hanya dapat mendoakannya. Saya tetap yakin bahwa Tuhan tahu yang terbaik, dan Ia juga bekerja dalam segala perkara untuk mendatangkan kebaikan bagi saya. Saya tidak berharap banyak untuk dapat mengetahui rencana Tuhan, tapi saya sungguh mengharapkan dapat dikuatkan dan menerima apapun yang Tuhan rancangkan dalam hidup saya dan apapun itu, pasti bukan rancangan yang buruk atau rancangan kecelakaan. Saya juga berharap besok bisa memberitahu isteri saya akan keadaan anak kami ini dan meminta hikmat dari Tuhan agar dapat memberitahukannya dengan bijak dan dapat pula menguatkan isteri saya.


Hari Keempat, Selasa 11 April 2000


Hari yang ditunggu-tunggu untuk memberitahukan keadaan Timmy pada isteri saya tiba. Saya sangat menghawatirkan isteri saya, takut kalau-kalau ia terguncang dan sangat sedih sehingga membuat kesehatannya terganggu. Saya mula-mula bingung harus mulai dari mana dan kapan saat yang tepat untuk membicarakannya. Tapi sungguh, Tuhan menolong dan menyiapkan segalanya. Pada sore hari sekitar pk. 16.30 saya punya kesempatan berdua dengan isteri. Saat itu tetangga sebelah kiri isteri saya sudah pulang tadi pagi, sedangkan yang sebelah kanan sedang mandi. Mama mertua saya sedang turun membeli sesuatu. Sebelum mulai berbicara, saya berdoa dalam hati, "Ya Tuhan Yesus, tolonglah saya!" Isteri saya menangis mendengar cerita saya tentang Timmy, tapi dia sungguh adalah isteri yang sangat tabah hati. Saya katakan, besok pagi kita semua akan menengok keadaan Timmy, juga anak pertama kami boleh melihat adiknya yang belum pernah dilihatnya selama ini. Saya sangat bersyukur karena hari ini kami sebagai suami-isteri sudah bisa berbagi dalam mengatasi masalah keluarga dan dengan kekuatan dari Tuhan, kami sanggup mengatasinya. Saya sungguh lega karena beban yang saya pikul sendiri sejak dari hari Sabtu yang lalu, akhirnya dapat kami share bersama. Setelah itu, bersama kami membawanya di dalam doa, dan menyerahkannya pada Tuhan Yesus yang kami yakin mengerti apa yang terbaik bagi kami semua.


Hari Kelima, Rabu 12 April 2000


Hari ini sesuai dengan rencana, saya mengajak isteri dan anak pertama saya untuk melihat keadaan Timmy. Kami menjenguknya setelah waktu besuk pagi sudah berakhir agar tidak terlalu menyolok perhatian orang-orang lain yang juga membesuk. Saya mendorong isteri saya yang duduk di kursi roda, karena memang tempat perawatan Timmy yang agak jauh dan isteri saya juga baru bisa berjalan perlahan-lahan sekali. Anak pertama saya sangat senang sekali membantu mendorong mamanya. Dalam hati, saya terus berdoa agar Tuhan menolong isteri saya, supaya dia bisa kuat dan tabah dalam menghadapi semua ini. Saya sadar, pasti isteri saya sangat prihatin dengan kondisi Timmy dan sangat ingin untuk menggendong dan memeluk anak yang baru saja dilahirkannya itu. Saya meminta kekuatan dari Tuhan agar saya dapat dikuatkan dan juga membantu menguatkan isteri saya, yang saat ini pasti sangat lemah baik secara fisik maupun mental. Saya pun berdoa terus agar Tuhan menjadikan isteri saya kuat dan sanggup bertahan di badai yang sedang melanda keluarga kami ini. Saya yakin, saat itu juga Tuhan menjawab doa saya dan meluluskan permintaan saya, karena saya dapat langsung melihat dan merasakan ketabahan isteri saya yang sungguh di luar perkiraan saya saat itu. Dia hanya sedikit menitikkan air mata, dan cepat-cepat menghapusnya agar tidak membingungkan anak pertama kami. Anak pertama kami belum dapat memahami kondisi adiknya, jadi dia tidak banyak bertanya. Terima kasih ya Tuhan, atas segala kebaikan-Mu. Sekitar setengah jam lebih kami berada di tempat itu, kemudian kami kembali ke tempat perawatan isteri saya. Tidak lama kemudian anak pertama kami pulang bersama saudara isteri saya. Setelah makan siang, isteri saya memompa air susunya dan saya membawanya ke tempat Timmy. Saya sangat terkejut melihat kondisi Timmy yang sangat merosot bila dibandingkan dengan tadi pagi. Napasnya sangat susah dan diapun menangis di sela-sela desahan napasnya yang sulit itu. Saya sangat sedih melihat hal itu, tapi tidak ada yang dapat saya lakukan untuk membantu. Hanya doa yang dapat saya naikkan pada Tuhan, karena Dia adalah Allah yang bukan hanya mengerti tapi juga Allah yang peduli. Saya berlari kembali ke tempat perawatan isteri saya, dan membicarakan kondisi Timmy padanya. Isteri saya menangis, tapi tidak berlama-lama. Saya minta dia mendoakan anak kami dan saya segera kembali ke tempat Timmy. Saya terus mendampingi anak saya dari sejak saat itu. Saya diijinkan untuk memasukkan tangan saya ke kotak inkubator anak saya. Baru saat itulah saya dapat menjamah anak saya sejak dia dilahirkan empat hari yang lalu.

Siang itu, dokter anak saya datang dan saya berkonsultasi dengannya. Dokter memeriksa kondisi anak saya dan mengatakan bahwa agak sulit bagi anak saya untuk bisa bertahan. Setelah dokter pergi, saya hanya bisa menangis, berdoa dan menyanyi pada saat itu. Saya menangis bukan karena menyesalkan semua ini, tapi saya minta Tuhan mengasihani anak saya agar dia tidak menderita berlarut-larut. Saya berdoa, bila memang Tuhan mau sembuhkan anak saya biarlah Timmy bisa sembuh total, tapi kalaupun rencana Tuhan lain biarlah penderitaannya tidak berkepanjangan. Saya juga menyanyikan lagu-lagu yang dapat menguatkan, menghibur dan agar saya dapat lebih berserah bersandar pada kekuatan Tuhan. Dari sekitar banyak lagu-lagu yang saya nyanyikan, ada dua yang sangat berkesan dan sangat menguatkan saya, yaitu:


1. Mataku Tertuju Pada-Mu

Kata-katanya adalah:

Mataku tertuju pada-Mu, seg'nap hidupku kus'rahkan pada-Mu

Bimbing aku masuk rencana-Mu, 'tuk membesarkan kerajaan-Mu

'Ku mau mengikuti kehendak-Mungkin, ya Bapa,

'ku mau s'lalu menyenangkan hati-Mu

2. Bapa Surgawi

Kata-katanya adalah:

Bapa Surgawi, ajarku mengenal betapa dalamnya kasih-Mu

Bapa Surgawi, buatku mengerti betapa kasih-Mu padaku

Semua yang terjadi di dalam hidupku, ajarku menyadari Kau selalu sertaku.

B'ri hatiku s'lalu bersyukur pada-Mu, kar'na rencana-Mu indah bagiku.


Sampai sekitar pk. 17.00 sore saya terus menangis, berdoa dan menyanyi. Saya melihat anak saya sudah lebih tenang dan dapat tidur dengan pulas. Napasnya sudah lebih teratur, dan dia sudah tidak menangis lagi. Saya bersyukur pada Tuhan dan memasrahkan anak saya ini pada-Nya. Melihat keadaan yang membaik, ibu suster jaga juga senang, dan dia menganjurkan saya untuk melihat kondisi isteri saya sambil meyakinkan saya bahwa anak saya pasti akan dijaganya dengan baik. Saya sudah lebih tenang ketika saya meninggalkan anak saya untuk melihat keadaan isteri saya. Waktu bertemu dengan isteri saya, saya menceritakan kondisi anak saya dan juga mengatakan apa yang dokter katakan pada saya, bahwa kemungkinan untuk Timmy bertahan sangat kecil. Organ tubuhnya di bagian dalam sudah banyak kelainan dan komplikasi. Isteri saya, walaupun sangat sedih, pada akhirnya dapat memasrahkan Timmy pada Tuhan. Hanya beberapa saat setelah dia menyatakan penyerahannya pada Tuhan atas diri Timmy, suster memanggil saya untuk segera ke tempat perawatan anak saya itu. Sesegera mungkin saya berlari. Ketika saya tiba, saya langsung menghampiri anak saya. Saya berkata padanya, "Timmy, ini papa. Pulanglah ke rumah Bapa yang di Sorga. Papa dan mama sudah merelakanmu. Selamat jalan, Sayang." Masih ada dua kali Timmy menarik dan menghembuskan napasnya, untuk kemudian diam selama-lamanya. Mata saya hanya sedikit berkaca-kaca. Tidak banyak lagi air mata yang tersisa, karena memang sudah sangat banyak yang terbuang sejak siang tadi. Walaupun demikian, ada kelegaan yang Tuhan berikan di tengah badai duka yang sangat hebat melanda saat itu. Seolah saya dapat merasakan seperti yang Timmy rasakan, yaitu fisik yang sangat terasa sakit kemudian tidak lagi terasa sakit, bahkan terasa sangat ringan dan nyaman. Terima kasih Tuhan, walaupun saya sangat berduka tapi Tuhan sudah mengangkat segala kesakitan dan penderitaan anak saya. Saya juga sangat yakin, bahwa Timmy saat ini juga sudah bersama-sama dengan Bapa yang di Sorga.


Penutup


Lima hari bersama Timmy mengajarkan pada saya banyak hal. Hal pembaharuan penyerahan diri saya kepada Tuhan. Hal untuk menyadari bahwa Tuhan selalu ada dan memberi kekuatan pada saat kita membutuhkan. Hal bahwa Tuhan itu sangat baik. Hal bahwa seharusnya kita dapat berkata seperti Ayub berkata "Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil. Terpujilah nama Tuhan!". Hal bahwa bila kita sepenuhnya berserah pada Tuhan, kita akan menerima limpahan kekuatan dan kecukupan untuk dapat menanggung segala perkara yang harus kita tanggung, seburuk apapun perkara itu. Saya sangat bersyukur karena Tuhan sudah mengabulkan semua kerinduan saya untuk bisa lebih mengenal dan mengerti kasih Tuhan, serta menyadari rencana Tuhan yang indah bagi saya, seperti lagu Bapa Surgawi yang sering saya nyanyikan. Saya tuliskan semua yang saya alami dan rasakan ini, supaya bila suatu saat saya lupa atau merasa sulit untuk bersyukur kepada Tuhan, saya dapat membacanya, sehingga kembali diingatkan akan kebaikan-Nya dan dapat bersyukur pada-Nya selalu, apapun yang terjadi. Saya juga berharap tulisan ini dapat menjadi berkat bagi semua yang membacanya.

SEGALA PUJI, HORMAT DAN SYUKUR ADALAH HANYA BAGI TUHAN SELAMA-LAMANYA. Amin.


Note:


Tulisan ini disampaikan oleh Sdr. Tjiong Kim Gwat (M'ben) kepada saya untuk sharing dan boleh disebar-luaskan untuk bahan kesaksian. Sdr. Tjiong Kim Gwat adalah aktivis, koordinator Vocal Group kami di GKI Samanhudi dan telah melayani sejak lebih 25 tahun yang lalu. Terima kasih buat semua pembaca, semoga menjadi berkat yang juga menguatkan disaat kita mengalami hari-hari yang sulit.

Saturday, June 20, 2009

Pujilah TUHAN, Hai Jiwaku !


PUJILAH TUHAN, HAI JIWAKU !

( Mamur 103 )

Dari Daud


103:1 Dari Daud. Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku!


103:2 Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!


103:3 Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu,


103:4 Dia yang menebus hidupmu dari lobang kubur, yang memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat,


103:5 Dia yang memuaskan hasratmu dengan kebaikan, sehingga masa mudamu menjadi baru seperti pada burung rajawali.


103:6 TUHAN menjalankan keadilan dan hukum bagi segala orang yang diperas.


103:7 Ia telah memperkenalkan jalan-jalan-Nya kepada Musa, perbuatan-perbuatan-Nya kepada orang Israel.


103:8 TUHAN adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia.


103:9 Tidak selalu Ia menuntut, dan tidak untuk selama-lamanya Ia mendendam.


103:10 Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita,


103:11 tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia;


103:12 sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita.


103:13 Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia.


103:14 Sebab Dia sendiri tahu apa kita, Dia ingat, bahwa kita ini debu.


103:15 Adapun manusia, hari-harinya seperti rumput, seperti bunga di padang demikianlah ia berbunga;


103:16 apabila angin melintasinya, maka tidak ada lagi ia, dan tempatnya tidak mengenalnya lagi.


103:17 Tetapi kasih setia TUHAN dari selama-lamanya sampai selama-lamanya atas orang-orang yang takut akan Dia, dan keadilan-Nya bagi anak cucu,


103:18 bagi orang-orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan yang ingat untuk melakukan titah-Nya.


103:19 TUHAN sudah menegakkan takhta-Nya di sorga dan kerajaan-Nya berkuasa atas segala sesuatu.


103:20 Pujilah TUHAN, hai malaikat-malaikat-Nya, hai pahlawan-pahlawan perkasa yang melaksanakan firman-Nya dengan mendengarkan suara firman-Nya.


103:21 Pujilah TUHAN, hai segala tentara-Nya, hai pejabat-pejabat-Nya yang melakukan kehendak-Nya.


103:22 Pujilah TUHAN, hai segala buatan-Nya, di segala tempat kekuasaan-Nya! Pujilah TUHAN, hai jiwaku!