Monday, November 22, 2010

Tuhan Adalah Roh


TUHAN ADALAH ROH

“ Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran." Jawab perempuan itu kepada-Nya: "Aku tahu, bahwa Mesias akan datang, yang disebut juga Kristus; apabila Ia datang, Ia akan memberitakan segala sesuatu kepada kami." ( Yohanes 4:23-25 )


Saudara yang dikasihi Tuhan Yesus !


Allah adalah Roh. Allah bukan manusia. Ia tidak tampak oleh mata jasmaniah. Ia hanya dapat dilihat dengan iman. Ia hanya dapat didekati melalui kehidupan spiritual yang benar. Yohanes mencatat ucapan Yesus, ketika perempuan Samaria meminta pendapat Yesus tentang diri-Nya. Yesus berkata : “ Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian “ ( Yohanes 4:23 ). Ucapan Yesus itu menunjuk pada realitas spiritual. Hubungan Allah dengan manusia itu diletakkan Yesus dalam alur berpikir tentang spiritualitas. Mengapa hal itu dikaitkan dengan roh manusia ? Alkitab memberikan dua kesaksian utama :

  1. Allah menghembuskan nafas (roh) ke dalam lubang hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi mahluk yang hidup ( Kejadian 2:7 ).
  2. Manusia hidup bukan dari roti saja; tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan TUHAN ( Bdk. Ul 8:3; Mat 4:4; Luk 4:4 ).

Kedua pernyataan Alkitab itu menunjuk pada makna kehidupan spiritualitas. Makanan dan minuman adalah materi pembangun tubuh biologis. Akan tetapi tubuh yang sehat tidak dapat menjamin pemiliknya mampu bertahan terhadap berbagai permasalahan kehidupan. Kekuatan jasmaniah tidak akan sanggup mempertahankan kehidupan pemiliknya. Manusia tergantung dari ketahanan spiritual, ketangguhan mental dan kemantapan iman. Jika seseorang memiliki iman yang mantap, spiritualitas yang tinggi dan mental yang tangguh, maka meskipun masalah menyerang bertubi-tubi ia pasti sanggup bertahan dan mampu mengatasinya.

Kemampuan spiritual itu hanya dapat bertumbuh, jikalau orang percaya membangun dan membina hubungan dengan Allah. Dalam proses menyatu (manunggal) dengan Allah hanya oleh iman melalui Kristus; maka Allah mengalirkan kekuatan Roh-Nya, sehingga manusia mengalami kuasa Allah. Ketika manusia mengalami kuasa Roh Kudus, ia memiliki kemampuan spiritual untuk mengatasi dan menghadapi masalah yang sedang mengancam.

Perempuan Samaria dikejutkan oleh pernyataan Yesus Kristus. Orang Samaria sama seperti orang Yahudi, mereka menyembah Allah berdasarkan tradisi yang diwariskan secara turun temurun. Ibadah penyembahan bagi orang-orang itu merupakan suatu tradisi. Padahal yang dimaksudkan Yesus “menyembah dalam roh” berarti menerima Yesus Kristus selaku TUHAN dan Perantara manusia di hadapan Allah. Yesus Kristus adalah Firman Allah yang inkarnasi menjadi manusia yang dikandung dari Roh Kudus. Karena Firman Allah adalah Allah sendiri, maka Yesus Kristus adalah Allah yang inkarnasi menjadi manusia. ( Bdk. Yoh 1:1, Yoh 1:14, Mat 1:18-20).

  • “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah” ( Yohanes 1:1 )

  • “ Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran” ( Yohanes 1:14 )

  • “Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri. Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: "Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus” ( Matius 1:18-20 )

Yesus hendak menekankan, bahwa Ibadah umat Perjanjian Baru terpusat ( berkiblat) pada diri-Nya. Yesus Kristus adalah pusat ibadah Gereja. Dahulu, dalam Perjanjian Lama ibadah umat Allah berpusat pada sistem persembahan korban dan Bait Allah. Tetapi setelah kehadiran Yesus Kristus, tidak ada lagi imam-imam perantara, sebab Yesus Kristus adalah Imam Agung yang mempersembahkan diri-Nya sendiri selaku korban penghapus dosa. Tidak ada lagi anak domba yang tidak bercacat cela, sebab Yesus Kristus sendirilah Anak Domba Allah yang membasuh dosa manusia. Kematian-Nya telah merobek “tirai” Bait Allah yang memisahkan manusia. Semua yang berbeda disatukan. Semua yang “jauh” dijadikan “dekat” di dalam Tuhan. Kristus Yesus adalah Allah yang inkarnasi menjadi manusia yang mempersatukan manusia dengan manusia dan manusia dengan Allah.


Saudara Yang Dikasihi Tuhan Yesus !


Tradisi memang baik dalam usaha mengembangkan Gereja. Tetapi orang Kristen suka memakai tradisi untuk mempertahankan kepentingannya. Yesus tidak menentang tradisi yang baik dan benar. Yesus mau mengatakan, bahwa tradisi itu baik, motivasi manusialah yang dapat memanfaatkan tradisi untuk kepentingan sendiri.Tradisi dapat dipolitisir untuk mencapai tujuan. Tradisi pun dapat menghalangi suatu prosesi penyembahan yang benar terhadap Allah.

Jika tradisi Yahudi dipakai, maka keselamatan tidak dapat mencapai berbagai suku bangsa, sebab menurut tradisi Perjanjian Lama, keselamatan hanya diperuntukkan bagi orang Israel saja. Melalui kehadiran Kristus Yesus, Allah membuat terobosan baru. Kristus Yesus menjadi jalan masuk bagi semua orang dari berbagai suku bangsa kepada Allah. Melalui Kristus Yesus setiap orang dapat datang kepada Allah, sekalipun tanpa perantara.

Sekarang ketika Kristus Yesus datang ke dalam dunia, seluruh tradisi yang menunjuk pada Kristus telah dipenuhi-Nya. Dengan demikian semua orang dapat sampai kepada Bapa. Kita bersyukur atas karya Kristus yang agung dan mulia itu. Amin.


Doa : Bapa, kami bersyukur bahwa Engkau telah mengaruniakan kepada kami Yesus Kristus sebagai Tuhan, Perantara dan Juruselamat kami. Di dalam Kristus kami berdoa dan bersyukur kepada-Mu...Amin.


Sunday, November 7, 2010

Anak Manusia Dalam Awan-Awan Kemuliaan Sorgawi


Anak Manusia Dalam Awan-Awan Kemuliaan Sorgawi


“ Sebab sama seperti kilat memancar dari sebelah timur dan melontarkan cahayanya sampai ke barat, demikian pulalah kelak kedatangan Anak Manusia.Di mana ada bangkai, di situ burung nazar berkerumun." "Segera sesudah siksaan pada masa itu, matahari akan menjadi gelap dan bulan tidak bercahaya dan bintang-bintang akan berjatuhan dari langit dan kuasa-kuasa langit akan goncang. Pada waktu itu akan tampak tanda Anak Manusia di langit dan semua bangsa di bumi akan meratap dan mereka akan melihat Anak Manusia itu datang di atas awan-awan di langit dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya. ( Matius 24:27-30 )


Agaknya tidak seorangpun mengartikan kilat sebagai sesuatu yang menyenangkan. Sebaliknya kita pasti melihatnya sebagai sesuatu yang mengerikan, berbahaya, dan bisa menimbulkan ancaman serius. Energi yang dipancarkan oleh kilat dapat menghasilkan tegangan listrik sampai ratusan ribu volt.

Tuhan Yesus memakai kilat untuk menggambarkan kedatangan-Nya dengan dua pengertian yang paradoks. Untuk memahami, mari simak kisah ini. Seorang hamba Tuhan bersaksi tentang pelayanannya di daerah terpencil. Acap kali ia harus berjalan melalui daerah sepi, gelap, dan mungkin berbahaya, atau paling tidak menimbulkan rasa takut. Suatu kali dalam kegelapan luar biasa Tuhan menjawab doanya dengan kilat. Sepanjang perjalanan gelap melalui tempat sepi, cahaya kilat yang sambung menyambung memancar menerangi perjalanan si hamba Tuhan hingga ia tiba ke tujuan dengan selamat. Sebaliknya, sambaran kilat di wilayah pemukiman yang terkenal dengan kilatnya di musim hujan telah membuat banyak penghuni menderita kerusakan televisi, telepon, atau komputer.

Yesus datang kelak bukan lagi sebagai Anak Manusia bersahaja, tetapi dalam gambaran visi Daniel yaitu Anak Manusia dalam awan-awan kemuliaan sorgawi. Yesus datang dalam kemuliaan Bapa-Nya dan dengan para malaikat-Nya. Yesus menggambarkan dirinya sebagai Terang Dunia. Ia datang untuk mengenyahkan kegelapan. Siapapun yang membuka hidup kepada-Nya akan diubah oleh kasih dan kuasa penebusan-Nya. Ini kontras dari si jahat dan para pengikutnya yang keadaan dan sifatnya yang tepat digambarkan dengan kegelapan. Ketika Ia datang lagi kelak, seluruh kasih, kuasa, dan kemuliaan-Nya akan terlihat penuh. Saat itu pancaran kilat kemuliaan-Nya akan sedemikian dahsyat sehingga membawa kesukaan bagi umat milik-Nya. Kepenuhan terang-Nya akan mengenyahkan tuntas dengan sempurna semua yang gelap dan jahat. Sebaliknya, kemuliaan-Nya akan membuat mereka yang tidak menerima-Nya menerima penghakiman yang mengerikan.

Kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya kelak bukan lagi mengawali, tetapi mengakhiri. Yaitu dengan dampak untuk merampungkan keselamatan bagi mereka yang percaya kepada-Nya, dan menghukum mereka yang menolak-Nya. Jika ingin bersuka dalam terang kedatangan-Nya, mari berpihaklah kepada-Nya sekarang.


Soli Deo Gloria


Sunday, October 31, 2010

Kesaksian dan kisah nyata bukti pertolongan Tuhan : "Renungan indah tentang jalan Tuhan yg tak pernah kita duga...dan selalu indah pada waktunya "


Kesaksian dan kisah nyata bukti pertolongan Tuhan : "Renungan indah tentang jalan Tuhan yg tak pernah kita duga...dan selalu indah pada waktunya "

Oleh : Andy F. Noya.

Malam itu saya gelisah. Tidak bisa tidur. Pikiran saya bekerja ekstra keras. Dari mana saya bisa mendapatkan uang sebanyak itu? Sampai jam tiga dini hari otak saya tetap tidak mampu memecahkan masalah yang saya hadapi. Tadi sore saya mendapat kabar dari rumah sakit tempat kakak saya berobat. Menurut dokter, jalan terbaik untuk menghambat penyebaran kanker payudara yang menyerang kakak saya adalah dengan memotong kedua payudaranya. Untuk itu, selain dibutuhkan persetujuan saya, juga dibutuhkan sejumlah biaya untuk proses operasi tersebut.Soal persetujuan, relatif mudah.

Sejak awal saya sudah menyiapkan mental saya menghadapi kondisi terburuk itu. Sejak awal dokter sudah menjelaskan tentang risiko kehilangan payudara tersebut. Risiko tersebut sudah saya pahami. Kakak saya juga sudah mempersiapkan diri menghadapi kondisi terburuk itu. Namun yang membuat saya tidak bisa tidur semalaman adalah soal biaya. Jumlahnya sangat besar untuk ukuran saya waktu itu. Gaji saya sebagai redaktur suratkabar tidak akan mampu menutupi biaya sebesar itu. Sebab jumlahnya berlipat-lipat dibandingkan pendapatan saya. Sementara saya harus menghidupi keluarga dengan tiga anak. Sudah beberapa tahun ini kakak saya hidup tanpa suami. Dia harus berjuang membesarkan kelima anaknya seorang diri. Dengan segala kemampuan yang terbatas, saya berusaha membantu agar kakak dapat bertahan menghadapi kehidupan yang berat. Selain sejumlah uang, saya juga mendukungnya secara moril. Dalam kehidupan sehari-hari, saya berperan sebagai pengganti ayah dari anak-anak kakak saya.

Dalam situasi seperti itu kakak saya divonis menderita kanker stadium empat. Saya baru menyadari selama ini kakak saya mencoba menyembunyikan penyakit tersebut. Mungkin juga dia berusaha melawan ketakutannya dengan mengabaikan gejala-gejala kanker yang sudah dirasakannya selama ini. Kalau memikirkan hal tersebut, saya sering menyesalinya. Seandainya kakak saya lebih jujur dan berani mengungkapkan kecurigaannya pada tanda-tanda awal kanker payudara, keadaannya mungkin menjadi lain. Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Pada saat saya akhirnya memaksa dia memeriksakan diri ke dokter, kanker ganas di payudaranya sudah pada kondisi tidak tertolong lagi. Saya menyesali tindakan kakak saya yang "menyembunyikan" penyakitnya itu dari saya, tetapi belakangan -- setelah kakak saya tiada -- saya bisa memaklumi keputusannya. Saya bisa memahami mengapa kakak saya menghindar dari pemeriksaan dokter. Selain dia sendiri tidak siap menghadapi kenyataan, kakak saya juga tidak ingin menyusahkan saya yang selama ini sudah banyak membantunya. Namun ketika keadaan yang terbutruk terjadi, saya toh harus siap menghadapinya. Salah satu yang harus saya pikirkan adalah mencari uang dalam jumlah yang disebutkan dokter untuk biaya operasi.

Otak saya benar-benar buntu. Sampai jam tiga pagi saya tidak juga menemukan jalan keluar. Dari mana mendapatkan uang sebanyak itu? Kadang, dalam keputus-asaan, terngiang-ngiang ucapan kakak saya pada saat dokter menganjurkan operasi. "Sudahlah, tidak usah dioperasi. Toh tidak ada jaminan saya akan terus hidup," ujarnya. Tetapi, di balik ucapan itu, saya tahu kakak saya lebih merisaukan beban biaya yang harus saya pikul. Dia tahu saya tidak akan mampu menanggung biaya sebesar itu.

Pagi dini hari itu, ketika saya tak kunjung mampu menemukan jalan keluar, saya lalu berlutut dan berdoa. Di tengah kesunyian pagi, saya mendengar begitu jelas doa yang saya panjatkan. "Tuhan, sebagai manusia, akal pikiranku sudah tidak mampu memecahkan masalah ini. Karena itu, pada pagi hari ini, aku berserah dan memohon Kepada-Mu. Kiranya Tuhan, Engkau membuka jalan agar saya bisa menemukan jalan keluar dari persoalan ini." Setelah itu saya terlelap dalam kelelahan fisik dan mental

Pagi hari, dari sejak bangun, mandi, sarapan, sampai perjalanan menuju kantor otak saya kembali bekerja. Mencari pemecahan soal biaya operasi. Dari mana saya mendapatkan uang? Adakah Tuhan mendengarkan doa saya? Pikiran dan hati saya bercabang. Di satu sisi saya sudah berserah dan yakin Tuhan akan membuka jalan, namun di lain sisi rupanya iman saya tidak cukup kuat sehingga masih saja gundah.

Di tengah situasi seperti itu, handphone saya berdering. Di ujung telepon terdengar suara sahabat saya yang bekerja di sebuah perusahaan public relations. Dengan suara memohon dia meminta kesediaan saya menjadi pembicara dalam sebuah workshop di sebuah bank pemerintah. Dia mengatakan terpaksa menelepon saya karena "keadaan darurat". Pembicara yang seharusnya tampil besok, mendadak berhalangan. Dia memohon saya dapat menggantikannya.

Karena hari Sabtu saya libur, saya menyanggupi permintaan sahabat saya itu. Singkat kata, semua berjalan lancar. Acara worskshop itu sukses. Sahabat saya tak henti-henti mengucapkan terima kasih. Apalagi, katanya, para peserta puas. Bahkan pihak bank meminta agar saya bisa menjadi pembicara lagi untuk acara-acara mereka yang lain. Sebelum meninggalkan tempat workshop, teman saya memberi saya amplop berisi honor sebagai pembicara. Sungguh tak terpikirkan sebelumnya soal honor ini. Saya betul-betul hanya berniat menyelamatkan sahabat saya itu. Tapi sahabat saya memohon agar saya mau menerimanya. Di tengah perjalanan pulang hati saya masih tetap risau. Rasanya tidak enak menerima honor dari sahabat sendiri untuk pertolongan yang menurut saya sudah seharusnya saya lakukan sebagai sahabat. Tapi akhirnya saya berdamai dengan hati saya dan mencoba memahami jalan pikiran sahabat saya itu. Malam hari baru saya berani membuka amplop tersebut. Betapa terkejutnya saya melihat angka rupiah yang tercantum di selembar cek di dalam amplop itu. Jumlahnya sama persis dengan biaya operasi kakak saya! Tidak kurang dan tidak lebih satu sen pun. Sama persis!

Mata saya berkaca-kaca. TUHAN, Engkau memang luar biasa. Engkau Maha Besar. Dengan cara-MU, Engkau menyelesaikan persoalanku. Bahkan dengan cara yang tidak terduga sekalipun. Cara yang sungguh ajaib!

Esoknya cek tersebut saya serahkan langsung ke rumah sakit. Setelah operasi, saya ceritakan kejadian tersebut kepada kakak saya. Dia hanya bisa menangis dan memuji kebesaran Tuhan. Tidak cukup sampai di situ. Tuhan rupanya masih ingin menunjukkan kembali kebesaran-Nya. Tanpa sepengetahuan saya, Surya Paloh, pemilik harian Media Indonesia tempat saya bekerja, suatu malam datang menengok kakak saya di rumah sakit. Padahal selama ini saya tidak pernah bercerita soal kakak saya. Saya baru tahu kehadiran Surya Paloh dari cerita kakak saya esok harinya. Dalam kunjungannya ke rumah sakit malam itu, Surya Paloh juga memutuskan semua biaya perawatan kakak saya, berapa pun dan sampai kapan pun, akan dia tanggung. TUHAN Maha Besar!

Tuhan YESUS mengasihi Anda..


Tuesday, October 19, 2010

Ajarilah Anak Mencintai Yesus


Ajarilah Anak Mencintai Yesus


“Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan mendoakan mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu. Tetapi Yesus berkata: "Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga." Lalu Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan kemudian Ia berangkat dari situ.” ( Matius 19:13-15 )


Secara umum kita selalu berpikir dan bekerja untuk memberi kesejahteraan kepada keluarga apalagi jika ada anak-anak di dalamnya. Kita menyerahkan tugas pengajaran agama Kristen kepada pelayan anak di dalam gereja. Pemahaman demikian telah mendorong kita mencukupi kebutuhan material dan intelektual anak, saja. Lalu kita melupakan kebutuhan rohani mereka yang mana hal tersebut tidak kalah penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Sebagai orang tua mari kita mengevaluasi diri untuk merenungkan fungsi dan peran kita sebagai orangtua dalam membina dan membangun kepribadian anak/anak-anak menuju masadepan.

Tuhan Yesus berekata : “ Biarlah anak-anak itu datang kepada-Ku, janganlah menghalang-halangi mereka” ( Matius 19:14). Memang kita tidak pernah menghalangi anak untuk bertemu dengan Tuhan Yesus. Itu benar ! Akan tetapi pemahaman itu tidak disertai dengan perilaku hidup sehari-hari. Bagaimana mungkin seorang anak mengikuti ibadah sekolah Minggu, jika orangtua tidak mengantarnya ke Gereja atau ke tempat kegiatan sekolah Minggu di sektor ? Kita rindu anak-anak diberkati Tuhan Yesus. Kerinduan itu telah dinyatakan ketika kita mengantar anak-anak untuk menerima tanda perjanjian : Baptisan. Di depan banyak saksi kita mengucapkan janji : Bersedia menjadi teladan dan membimbing anak-anak sampai mereka mengakui Kristus Yesus selaku Tuhan dan Juruselamatnya. Padahal, dalam realisasinya, kita kurang berinisyiatif mendorong anak-anak menghadiri kegiatan ibadah. Oleh karena itu, sebagai orang tua marilah kita mengubah sikap kita sehingga kita dapat menjadi fasilitator serta motivator, supaya anak-anak kita selalu mencintai Yesus dengan mengikuti ibadah-ibadah.


Doa : Bapa , ajar dan bimbinglah kami sebagai orang tua untuk mendidik anak-anak kami untuk selalu mencintai Yesus dan rindu untuk mengikuti ibadah-ibadah. Dalam Kristus kami berdoa. Amin


Thursday, October 14, 2010

BAPTISAN ANAK



Refleksi Teologis

BAPTISAN ANAK

“Jawab Petrus kepada mereka: "Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus. Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu dan bagi orang yang masih jauh, yaitu sebanyak yang akan dipanggil oleh Tuhan Allah kita." ( Kisah Rasul 2:38-39 )

A. Kata Pengantar

Haruskah anak-anak kecil dibaptis ? Atau, haruskah orang-orang tua yang beriman menunda pelayanan baptisan anak sampai mereka sendiri mulai bisa percaya ? Tentang hal ini ada beberapa perbedaan pendapat. Bahkan ini terjadi di kalangan orang-orang Kristen yang mengasihi Tuhan Yesus dengan sepenuh hati dan mau hidup menurut ketetapan Firman-Nya.
Ada yang berpendapat bahwa baptisan anak adalah sesuatu hal yang tidak baik. Misalnya dari golongan Injili, Gereja Baptis atau Penthakosta/ Kharismatik. Tetapi ada juga yang berkeyakinan bahwa baptisan anak adalah perintah Allah. Menurut pendapat mereka yang mendasarkan diri pada Alkitab, semua anak-anak orang percaya harus menerima tanda baptisan.
Pendapat manakah yang benar ? Dalam artikel ini penulis akan meneliti apa yang difirmankan Tuhan tentang permasalahan ini. Firman Allah, bukan sejarah gereja, harus menentukan apa yang benar. Bukan berarti sejarah gereja tidak penting, melainkan Firman Allah sajalah yang meyakinkan dan memutuskan kebenaran permasalahan ini. Jadi, Firman Tuhan merupakan titik tolak bagi kita.
Dewasa ini merajalela ajaran baru yang mengatakan bahwa baptisan bayi (anak-anak) yang dilaksanakan di dalam gereja-gereja Protestan tidak syah (valid) dan tidak Alkitabiah. Mereka mengajarkan bahwa baptisan yang syah (valid) dan menurut Alkitab adalah ketika seorang telah menjadi dewasa dan harus “diselamkan” ke dalam sungai, kolam, danau, bak air, dll.Oleh karena itu, kita perlu memberi penjelasan yang bersifat teologis dan alkitabiah tentang arti, makna, hakekat dan kedudukan baptisan yang dilaksanakan oleh gereja-gereja Protestan sebagai institusi (lembaga Kristus). Tujuannya untuk meneguhkan iman semua warga gereja tentang nilai dan berkat yang dia terima melalui baptisan, dan dengan demikian tak seorangpun dari mereka jatuh kepada tipuan dan rayuan sesat yang meminta mereka menerima kembali baptisan berulang-ulang, hanya oleh karena ketidaktahuannya tentang makna baptisan ini. Baptisan adalah salah satu sakramen yang kita imani dan yakini di dalam Alkitab yang adalah Firman Allah. Sakramen adalah tanda dan meterai yang kudus serta kasatmata, yang telah ditetapkan oleh Allah. Melalui penerimaan sakramen, diterangkan-Nya dan dimeteraikan-Nya kepada kita secara lebih jelas lagi janji Injil, yaitu bahwa Dia menganugerahkan kepada kita pengampunan semua dosa dan hidup yang kekal, hanya berdasarkan rahmat, karena kurban Kristus yang satu- satunya, yang telah terjadi di kayu salib.

B. Etimologi Baptisan

Kata Baptisan berasal dari kata Yunani, yaitu bapto, atau baptizo yang memiliki arti membersihkan atau membenamkan atau mencelupkan yang artinya :
  1. to dip : mandi, masuk ke dalam air,mencedok air
  2. immerce : membenamkan, mencelupkan
  3. to cleance or purify by washing = membersihkan atau memurnikan melalui pembasuhan
Dari makna kata baptisan tersebut jelaslah kepada kita bahwa pembersihan dalah makna yang penting dari sakramen baptisan. Alkitab menggunakan sitilah baptis” baik secara literal maupun secara figuratif. Sebagaimana yang dinyatakan dalam makna kiasan (metafora) di dalam Kis 1:5, dimana dinyatakan kelimpahan dari anugerah yaitu Roh Kudus. Dan juga di dalam Luk 12:50, dimana makna baptisan disini menyatakan penderitaan Kristus dalam kematian-Nya.
Sebaliknya di dalam Perjanjian Baru, pada pihak lain akar kata dari asal mula kata baptisan (etimologi baptisan) diambil kata baptizo, tidak menuntut selam, misalnya pembaptisan Roh juga digambarkan sebagai “pencurahan” (Kis 2:33, bd Yes 36:25,26). Dalam istilah gerejawi, bagaimanapun juga, ketika istilah baptis, baptisan digunakan tanpa kata yang bersyarat, adalah bermaksud menunjuk kepada sakrament pembersihan yang mana olehnya jiwa disucikan dari dosa dan pada saat yang sama air tersebut dicurahkan (dituangkan) kepada tubuh. Banyak istilah lain dari baptisan telah digunakan sebagai deskripsi sinonim untuk baptisan baik di dalam Alkitab dan umat Kristen mula-mula seperti permandian kelahiran kembali, pencerahan, tanda materai dari Allah, air Allah untuk hidup yang kekal, sakramen Trinitas, dan sebagainya. Di dalam bahasa Inggris, istilah Kristen adalah biasa digunakan untuk baptis. Maksudnya kata Kristen menunjuk hanya kepada akibat dari baptisan, yaitu menjadikan seseorang menjadi umat Kristen.

C. Defenisi Baptisan

Katekismus gereja Roma (Ad parochos, De bapt.,2,2,5) mendefenisikan baptisan sebagai berikut : “ Baptisan adalah sakramen kelahiran kembali oleh air di dalam firman.”(per aquam in verbo). St. Thomas Aquinas memberikan istilah ini : “Baptisan adalah penyucian luar daripada tubuh, yang diselenggarakan dengan ketentuan firman”.
Secara umum para teolog kemudian membedakan defenisi sakramen ini secara formal yaitu antara fisik dan metafisik.Oleh para teolog sebelumnya, mereka mengerti formula sakramen ini mengungkapkan tindakan penyucian dan upacara doa Tritunggal. Kemudian oleh para teolog memberikan defenisi baptisan adalah : Sakramen kelahiran kembali” , atau pernyataan Kristus yang mana kita lahir kembali kepada kehidupan rohani. Istilah “regenerasi” atau kelahiran kembali membedakan baptisan dari setiap sakramen lainnya, karena meskipun penebusan dosa memperbaharui manusia secara rohani (spiritual), agaknya ini lebih dimaksudkan kepada suatu kesadaran membawa kembali dari kematian daripada suatu kelahiran kembali secara jasmani (rebirth).
Baptisan menjadikan kita sebagai orang Kristen; dan itu diartikan bahwa kita sudah dilahirkan dari air dan Roh Kudus kepada hidup oleh anugerah. Sedangkan baptisan disisi lain ditentukan untuk memberikan anugerah kepada manusia suatu hidup rohani yang mula-mula, untuk mengubah mereka dari status seteru (musuh) Allah, menjadi status pengangkatan sebagai anak-anak Allah.
Pengertian baptisan menurut katekismus Roma, adalah kombinasi dari pengertian phisik dan metaphisik. Sakramen “kelahiran kembali” (regenerasi) adalah esensi metaphisik dari sakramen, sedangkan esensi phisiknya diungkapkan oleh bagian kedua dari defenisi baptisan yaitu pencucian dengan air (unsurnya) disertai dengan doa Trinitas Kudus (formulanya). Dengan demikian baptisan adalah : peristiwa sakral (suci) yang mana kita dilahirkan kembali dari air dan Roh yaitu kita menerima suatu kehidupan baru dan rohani dan menerima martabat pengangkatan sebagai anak-anak Allah dan ahli waris kerajaan sorga”.
Tuhan Yesus Kristus telah menetapkan permandian lahiriah (baptisan Kudus) ini disertai janji yaitu : sebagaimana tubuh kita pasti dibasuh secara lahiriah oleh air, yang biasa dipakai untuk menghilangkan kotoran tubuh, sepasti itu pula kita telah dibasuh dengan “darah dan Roh-Nya “ dari kecemaran jiwa kita, yaitu mendapat pengampunan semua dosa kita dari Allah, berdasarkan rahmat, karena darah Kristus yang telah ditumpahkan-Nya bagi kita pada kayu salib, dan pembaruan oleh Roh Kudus serta pengudusan oleh-Nya menjadi anggota tubuh Kristus .(Bdk Kis 2:38, Mat 28:19, 1 Pet 3:21, Rm 6:3-4).

D. Formula dan Unsur Baptisan

D.1. Formula Baptisan

Formula satu-satunya dan diharuskan dari baptisan yang valid (syah) adalah : “ Aku membaptismu(atau orang ini dibaptis) dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.” Ini adalah formula baptisan yang diberikan oleh Kristus kepada murid-murid-Nya ( Mat 28 : 19). Di dalam pelayanan sakramen baptisan kudus tentunya penting menggunakan kata “baptis”, jikalau tidak upacara baptisan tersebut tidak valid (syah). Hal ini adalah yang tetap dilakukan oleh gereja-gereja baik Latin dan Yunani untuk membuat pemakaian kata baptis sebagai bentuk formula baptisan. St. Ambrose (De Myst, IV) menyatakan : “Kalau seorang telah dibaptis tidak di dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dia tidak akan mendapat pengampunan dari dosa-dosanya.” St. Cyprian, menolak validitas dari baptisan yang diberikan hanya dalam nama Kristus saja, dimana ia menegaskan bahwa pemberian nama dari seluruh Pribadi Allah Tritunggal diperintahkan oleh Tuhan. ( in plena et adunata Trinitate ). Dan bapak-bapak gereja percaya bahwa para rasul membaptis orang percaya dengan formula nama Allah Tritunggal (Bapa dan Anak dan Roh Kudus) karena itu diperintahkan langsung oleh Tuhan Yesus Kristus sebagai kepala gereja sebelum Dia terangkat kesorga (Bdk.Mat 28 :19, Mark 16 : 16-20). Pernyataan yang sama banyak dinyatakan oleh penulis-penulis primitif, seperti St.Jerome (IV,in Matt), Origen (de Princ., i,ii), St.Athanasius (Or.iv,Contr.Ar), St.Augustine (De Bapt.,vi,25).

D.2. Unsur Baptisan

Dalam sakramen baptisan unsur alami yang digunakan adalah air yang benar. Beberapa dari bapak-bapak gereja mula-mula, seperti Tertullian (De Bapt.,i) dan St. Augustine menyebutkan adalah bidat-bidat yang menolak air secara keseluruhan sebagai unsur pokok dari baptisan”. Alkitab adalah begitu positif di dalam pernyataannya yaitu menggunakan air alami dan benar untuk baptisan. St. Augustine secara positif menyatakan bahwa tidak ada baptisan tanpa air (Tr.XV in Joan). Tidakkah kita melihat apa yang dikatakan Kristus begitu jelas dalam Injil Yoh 3:5 ?
Unsur alamiah dalam baptisan adalah air. Para teolog mengatakan kepada kita secara konsekuen bahwa biasanya orang akan menyatakan bahwa air adalah unsur yang sah (valid) untuk baptisan, apakah air dari air laut, air minum, air sumur,air sungai, jernih atau keruh, segar atau asin, panas atau dingin. Air yang diperoleh dari es yang mencair adalah valid (sah).

E. Baptisan Mengganti Sunat

Apa yang diwujudkan pada Perjanjian Lama oleh tanda sunat, pada masa kini diwujudkan oleh tanda baptisan. Ada kesejajaran. Baptisan pun merupakan tanda perjanjian, tanda materai janji Allah akan pengampunan dosa. Sunat adalah tanda bahwa orang selalu terikat dengan Allah (“ Aku akan menjadi Allahmu”). Demikianlah halnya dengan baptisan (Mat 28:19). Dengan kata lain, menjadi manusia Allah Tritunggal, karena terikat dengan Bapa, Anak dan Roh Kudus.
Dalam Kejadian 17 menunjukkan bahwa sunat pertama-tama mewujudkan tanda rohani. Kedua, mempunyai arti kebangsaan. Bahwa sunat bersifat kebangsaan, yang mencirikan keanggotaan bangsa Israel, tidak dapat disangkal. Umat Israel pemilik sunat tersebut disamakan dengan bangsa Israel (PL). Dalam Kej 17 : 10,11,13,14 sunat disamakan dengan perjanjian yang dibuat oleh Abraham (Bnd Kis 7:8). Artinya, sunat menandai gerakan yang penuh kasih karunia dari Allah menuju manusia. Selanjutnya Perjanjian Lama berbicara tentang sunat sebagai materai”( Rm 4:11) atas pemberian kebenaran Allah. Karena itu sunat menjadi tanda kasih karunia dimana Allah memilih dan menandai orang-orang milik-Nya. Abraham adalah pokok zaitun yang asli yang ditanam TUHAN YAHWEH. Sebagai bapak orang beriman, Abraham dipilih Allah dan memberikan tanda perjanjian” dengan keturunannya yaitu sunat”. Keturunan Abraham adalah bangsa Israel, umat pilihan Allah. Perjanjian sunat bekerja atas dasar kesatuan rohani antar anggota rumah tangga dan kepalanya( Bdk.Kel 38:8, Im 10:14, Im 12:2-6,Ul 13:6). Yang artinya atas dasar kesatuan rohani antar anggota rumah tangga dan kepalanya ini, maka seisi rumah baik laki-laki maupun perempuan menjadi anggota dari perjanjian tersebut dan menjadi umat Israel yaitu umat pilihan Allah, keturunan Abraham (Bil 18:19). “ Perjanjian itu diadakan antara Aku dan engkau serta keturunanmu turun-temurun” (Kej 17:7). Allah memisahkan bangsa Israel umat pilihan-Nya dari bangsa lain supaya anak laki-laki Israel tidak mengambil wanita kafir menjadi istrinya dan juga anak perempuan Israel haruslah kawin dengan seorang dari salah satu kaum yang termasuk suku ayahnya yaitu suku Israel (Bdk.Bil 36:8). Dalam perjanjian sunat, hanya anak laki-laki keturunan Abraham yang disunat yang akan menjadi kepala dalam rumah tangganya sebagai milik pusaka TUHAN. Sunat Israel adalah pertanda kedudukan di hadirat Allah, dan bahwa kasih karunia Allah mendahului perbuatan manusia”. Dalam masa Perjanjian Lama, pergaulan dengan Allah dan pengampunan dosa serta hidup yang kekal hanya bisa diwujudkan oleh orang yang “bukan hanya bersunat, tetapi juga mengikuti jejak iman Abraham, bapa leluhur kita, pada masa ia sebelum disunat”( Bdk. Rom 4:12, Yoh 4:1-26, Yoh 8:56). Perjanjian Allah dengan Abraham tidak dihentikan, tetapi tanda perjanjian itu yakni sunat,yang diberikan Allah dalam Kejadian 17 ,itulah yang dihentikan.
Dalam suratnya kepada jemaat di Galatia, Paulus melawan kaum penyesat,bidat-bidat (Bdk. Gal 2:4,8 16-21). Mereka menuntut sunat bagi orang Kristen. Bukan dalam pengertian arti sunat, melainkan tanda lahiriah yang mereka alami, yakni sunat (Bdk. Rm 2:28,29). Apa yang diwujudkan pada Perjanjian Lama oleh tanda sunat,pada masa kini diwujudkan oleh tanda baptisan sebagai materai dari kebenaran berdasarkan Iman. Ada kesejajaran. Baptisan pun tanda perjanjian, tanda materai janji Allah akan pengampunan dosa. Jika kita memperhatikan cara Rasul Paulus membandingkan sunat dan baptisan, maka jelas bahwa bagi orang Kristen, baptisan telah ditetapkan untuk menggantikan sunat.( Bdk. Rm 6:1-14, Kolose 2 : 11-12 ). Dalam baptisan baik baptisan bayi (anak-anak) orang percaya maupun baptisan dewasa (orang kafir yang bertobat dan percaya oleh penginjilan) jelaslah terlihat bahwa :” Bukan kita yang yang memilih Tuhan, melainkan Tuhanlah yang memilih kita“(Bdk.Yoh 15:16). Dalam karya pelepasan-Nya, Allah senantiasa berjalan di depan manusia. Sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita, Ia telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus ( Eff 2:1-10).
Dibawah ini saya akan mencatumkan perbandingan antara sunat dan baptisan sbb: 

Perjanjian Lama :
  • Sebelum Kristus
  • Sunat
  • Sifat sementara : Hukum Taurat 
  • Anak-anak Allah ( Bapa )
  • Hamba-hamba Taurat 
  • Belum akil balig 
  • Terbatas pada Israel ( Yahudi )
  • Posisi khusus untuk tanah Kanaan 
Perjanjian Baru : 

 • Sesudah kelahiran Kristus
• Baptisan
• Sifat tak sementara : Injil yang kekal (kelepasan)
• Anak-anak Allah (Bapa)
• Akil balig, dewasa
• Baik “Yahudi dan Yunani”
• Gereja tersebar di seluruh dunia 


Maka ,setiap orang yang dibaptis menerima kebenaran dan kehidupan kekal berdasarkan iman, karena ia bersama dengan Kristus. Jadi, hanya oleh iman saja seseorang dapat memperoleh apa yang ditandakan dan dimateraikan melalui baptisan berkenaan dengan dikuburkan dan dibangkitkan bersama dengan Kristus, yaitu janji-janji Allah : kemenangan atas maut,kemenangan atas iblis,pengampunan dosa,kemurahan Allah, Kristus seutuhnya, karunia Roh Kudus dan pemberian-pemberian-Nya yaitu kekuatan untuk menekan manusia lama, kebahagiaan yang kekal dan kesukaan yang kekal.

F. Apakah Baptisan Anak Berlawanan Dengan Markus 16:16 ?

Para penentang baptisan anak-anak biasanya menunjuk kepada Markus 16:16 yang berbunyi : “ Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.” Dari ayat ini, bukankah jelas-demikianlah menurut mereka-bahwa harus percaya dulu baru kemudian dibaptis ?
Jika kita mau menyelidiki nas ini secara seksama, maka kita harus menilai kondisi pada saat Yesus mengungkapkan kalimat ini. Kondisinya sebagai berikut : Tuhan Yesus telah mengutus kesebelas murid-Nya untuk mengabarkan Injil Kerajaan Sorga. Dia yang adalah Tuhan dan Raja, berkata : “ Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada seluruh mahluk”. (Markus 16:15 ). Selanjutnya Dia berkata : “ Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan….”
Para murid harus memberitakan Yesus Kristus. Hanya jika orang percaya kepada Yesus, maka mereka boleh melayankan baptisan. Bagaimana mungkin seseorang yang tidak percaya bisa menerima tanda dan materai, bahwa ia telah diangkat ke dalam perjanjian Allah dan bahwa ia telah dipersatukan dengan Kristus, yakni berbagian dalam kematian dann kebangkitan-Nya ? Bagaimana mungkin seorang yang tidak percaya dapat menerima tanda dan materai pengampunan dosa ? Memang tidak bisa.
Dengan demikian baptisan anak tidaklah salah. Nas ini sama sekali tidak ditujukan kepada baptisan anak-anak, sebab Tuhan Yesus berbicara tentang baptisan berkenaan dengan pemberitaan Injil. Pemberitaan Injil memang tidak ditujukan kepada anak-anak kecil yang belum mengerti, tetapi kepada orang-orang dewasa yang bisa mengerti isi pemberitaan itu. Orang-orang tersebut hanya boleh menerima tanda dan meterai perjanjian Allah jika mereka sungguh-sungguh percaya dan berjanji untuk hidup saleh dalam perjanjian itu.
Jadi Rasul Petrus tidak berlawanan dengan Markus 16:16, ketika ia berkata tidak lama setelah Tuhan Yesus terangkat ke sorga : “ Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu…” (Kis 2 :39 ). Rasul Paulus pun tidak salah ketika ia membaptiskan Lidia yang beriman itu bersama-sama dengan seisi rumahnya, seluruh keluarganya ( Kis 16:15). Lidia memang harus percaya sebelum dibaptis. Demikian halnya dengan kepala penjara di Filipi. Karena setelah ia bertobat, ia bersama-sama keluarganya dibaptiskan ( Kis 16:33). Kis 16 :31 menyatakan, “ Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu…”. Dan lagi, Paulus menceritakan bahwa ia telah membaptiskan keluarga Stefanas ( 1 Kor 1:16 ).

G. Anak-anak Dibaptiskan Agar Memperoleh Karunia Roh Kudus.

Pada masa Perjanjian Lama Allah tidak memberikan janji-Nya hanya kepada orang dewasa saja, karena anak-anak Israel pun menerima janji Allah dan karenanya menerima tanda perjanjian. Jika janji Allah pada masa kini tidak berlaku bagi anak-anak kecil, maka kita harus menyimpulkan adanya satu perubahan besar dalam sifat perjanjian. Jika ada perubahan sebesar itu, maka Allah pasti telah menyatakan adanya perubahan itu dengan jelas, bukan ?
Jika seseorang menolak baptisan anak berdasarkan anggapan bahwa pada masa kini Allah tidak memberikan janji-janji-Nya kepada anak-anak kecil, maka dia harus menunjukkan secara jelas bagian Alkitab yang menyebutkan tentang perubahan tersebut. Keharusan tersebut membuktikan hal ini bukan bagi pihak yang menerima baptisan anak, melainkan kepada pihak yang menolaknya. Karena orang Kristen yang menerima baptisan anak-anak bertitik tolak dari kenyataan bahwa Tuhan masih tetap mengadakan perjanjian-Nya dengan orang-orang percaya dan anak-anak mereka.
Apakah Perjanjian Baru menyatakan secara jelas bahwa anak-anak orang percaya termasuk jemaat Kristus dan bahwa janji pengampunan dosa berlaku juga bagi mereka ? Mari kita melihat Kisah Para Rasul 2:39. Di situ Rasul Petrus berkata kepada orang-orang Yahudi (ayat 22 ), yaitu umat perjanjian Allah yang hidup pada masa itu: “ Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu dan bagi orang yang masih jauh, yaitu sebanyak yang akan dipanggil oleh Tuhan Allah kita. Janji apakah yang dimaksudkannya ? Bagian ini secara jelas ( Kis 2:38) menunjuk kepada janji pengampunan dosa dan karunia Roh Kudus.
Rasul Paulus pun memandang anak-anak orang percaya sebagai anggota-anggota jemaat Kristus. Misalnya dalam Efesus 1:1 dikatakan, “…kepada orang-orang kudus di Efesus, orang-orang percaya dalam Kristus Yesus”. Selanjutnya dia juga berbicara secara khusus kepada anak-anak, “ Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikan”. ( Efesus 6:1). Hal ini terjadi hanya oleh karena Allah telah mengikatkan diri-Nya kepada mereka dan memberikan janji pengampunan dosa serta Roh Kudus kepada mereka. Jadi, anak-anak ini telah diangkat ke dalam perjanjian oleh karena kasih karunia-Nya.
Dengan demikian kita melihat bahwa baptisan anak-anak bisa diterima sebagai perintah Tuhan Allah dalam firman-Nya. Perintah ini memang tidak tersurat dalam salah satu nas, melainkan tersirat dalam perjanjian Allah dengan bangsa-Nya (dengan umat-Nya). Dan dengan demikian, dapat dikatakan bahwa baptisan anak-anak merupakan hal yang sangat penting. Sebab semua hal yang diperintahkan Allah merupakan hal yang penting bagi kita. Ada beberapa hal penting berkenaan dengan ajaran Alkitab mengenai baptisan anak ini sebagai berikut :
  1. Dalam baptisan anak-anak ini jelas terlihat bahwa bukan kita yang memilih Tuhan, melainkan Tuhanlah yang telah memilih kita. Dalam karya pelepasan-Nya, Allah senantiasa berjalan di depan manusia. Sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita, Ia telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus ( Bdk Efesus 2:1-10 ). Jadi, baptisan bukan satu tanda dan meterai kepercayaan kita, melainkan tanda meterai janji-janji Allah.
  2. Tentang anak-anak orang percaya yang menerima tanda perjanjian ini, menekankan pertanggungjawaban orang tua untuk mendidik anak-anak mereka untuk “takut akan Tuhan”. Pendidikan yang baik akan mendorong anak-anak sehingga semakin mereka bertumbuh, semakin membalas kasih Allah dengan kasih dan kepercayaan mereka.
  3. Tanda baptisan memperlihatkan bahwa anak-anak telah menerima segala janji Allah, sekaligus harus memenuhi tuntutan perjanjian itu. Jika setelah mereka beranjak dewasa dan kemudian tidak percaya, maka mereka sendiri telah memutuskan perjanjian itu. Sebagai orang yang mengingkari perjanjian, mereka akan menerima hukuman yang lebih berat.
  4. Seseorang yang telah dibaptis sejak kecil boleh melihat kasih Allah yang memberikan janji-janji-Nya itu. Jika dalam pertumbuhannya dia mulai percaya, tetapi ada pergumulan dengan dosa-dosanya dan keragu-raguannya, maka dia mendapat topangan yang kuat oleh karena baptisan anak yang diterimanya. Karena Tuhan Allah telah berfirman kepadanya pada waktu masih kecil : “ Engkaulah anak-Ku ; Aku senantiasa akan membasuh dosa-dosamu dalam darah Kristus”. Oleh sebab itulah setiap orang percaya dapat mengangkat kepalanya.

H. Kesimpulan dan Penutup

Haruskah anak-anak kecil juga dibaptis ?
Jawab : Ya, harus. Mereka termasuk dalam perjanjian Allah dan dalam jemaat-Nya. Sama seperti orang-orang dewasa. Lagi pula, melalui darah Kristus dijanjikan kepada mereka, tidak kurang daripada orang dewasa menerima janji kelepasan dari dosa-dosa dan menerima karunia Roh Kudus yang bekerja menciptakan iman. Maka mereka pun perlu dimasukkan dalam Gereja Kristen dan dibedakan dari anak-anak orang tidak percaya, melalui Baptisan, sebagai tanda perjanjian itu, sebagaimana dalam Perjanjian Lama dilakukan melalui sunat, yang dalam Perjanjian Baru diganti dengan Baptisan.

DAFTAR PUSTAKA :

  1. “Pengajaran Agama Kristen : Katekismus Heidelberg” oleh : Zakharias Ursinus & Caspar Olevianus. ( PT. BPK Gunung Mulia Jl. Kwitang 22 Jakarta 1420 ).
  2. “Baptisan Anak” oleh : Drs. J.J. Schreuder. Penerbit LITINDO ( Momentum Christian Literature ).
  3. “ Baptisan Ulang Itu Dosa “ oleh : Pdt. Rudolf H. Pasaribu, S.Th. Penerbit PT. Atalya Rileni Sudeco Jakarta 2002.
  4. “Tafsiran Alkitab : Surat Roma” oleh Pdt. DR.Th. Van Den End. Cetakan ke-6- Jakarta : Gunung Mulia, 2008.
  5. “The New Bible Dictionary” Published by Inter-Varisty Press Leicester LEI 7GP, England ( Esiklopedia Alkitab Masa Kini)- Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF.