Tuesday, January 5, 2010

Allah Yang Setia Pada Janji-Nya


ALLAH YANG SETIA PADA JANJI-NYA


“Bersyukurlah kepada TUHAN, serukanlah nama-Nya, perkenalkanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa! Bernyanyilah bagi-Nya, bermazmurlah bagi-Nya, percakapkanlah segala perbuatan-Nya yang ajaib! Bermegahlah di dalam nama-Nya yang kudus, biarlah bersukahati orang-orang yang mencari TUHAN! Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu! Ingatlah perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukan-Nya, mujizat-mujizat-Nya dan penghukuman-penghukuman yang diucapkan-Nya, hai anak cucu Abraham, hamba-Nya, hai anak-anak Yakub, orang-orang pilihan-Nya! Dialah TUHAN, Allah kita, di seluruh bumi berlaku penghukuman-Nya. Ia ingat untuk selama-lamanya akan perjanjian-Nya, firman yang diperintahkan-Nya kepada seribu angkatan, yang diikat-Nya dengan Abraham, dan akan sumpah-Nya kepada Ishak; diadakan-Nya hal itu menjadi ketetapan bagi Yakub, menjadi perjanjian kekal bagi Israel, firman-Nya: "Kepadamu akan Kuberikan tanah Kanaan, sebagai milik pusaka yang ditentukan bagimu." Ketika jumlah mereka tidak seberapa, sedikit saja, dan mereka orang-orang asing di sana, dan mengembara dari bangsa yang satu ke bangsa yang lain, dari kerajaan yang satu ke suku bangsa yang lain, Ia tidak membiarkan seorang pun memeras mereka, raja-raja dihukum-Nya oleh karena mereka: "Jangan mengusik orang-orang yang Kuurapi, dan jangan berbuat jahat kepada nabi-nabi-Ku!" ( Mazmur 105: 1-15 )


“ Pak Pendeta, saya kecewa sekali, karena cinta kasih saya dikhianati kekasihku. Ia hanya mengobral janji, tetapi tidak mampu memenuhi” ujar si Gadis putus asa. “ Anda tidak perlu putus asa, sebab TUHAN selalu menyertaimu. Dia akan memberikan lelaki yang terbaik kepadamu. Pahamilah kegagalan cintamu ini sebagai pengalaman indah yang dikaruniakan TUHAN. Ingatlah tidak seorang manusia pun setia pada janjinya. TUHAN saja yang selalu setia pada janji-Nya. Dia akan memenuhi janji-Nya padamu, anakku” Pak Pendeta berusaha menghibur gadis muda yang putus asa itu.

Manusia dapat mengingkari janji dalam sedetik saja, tetapi Allah tetap setia sekalipun keturunan berganti keturunan. ( Bdk. 2 Tim 2:11-13 ). Marilah kita baca, renungkan ayat Firman Tuhan di bawah ini :

  • “Benarlah perkataan ini: "Jika kita mati dengan Dia, kita pun akan hidup dengan Dia; jika kita bertekun, kita pun akan ikut memerintah dengan Dia; jika kita menyangkal Dia, Dia pun akan menyangkal kita; jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya." ( 2 Tim 2:11-13 )

Perjanjian yang dianugerahkan Allah kepada Abraham dilanjutkan kepada keturunannya, malahan dikaruniakan juga kepada semua manusia dari segala suku bangsa. Berdasarkan perjanjian-Nya Allah mengerjakan penyelamatan atas manusia di dalam karya Yesus Kristus. Meskipun kita sering mengecewakan dan mendukakan hati-Nya. Dia sabar terhadap kita, bahkan Dia memberikan kesempatan bertobat, supaya kita diselamatkan baik di dunia sekarang ini maupun di dunia yang akan datang ( Bdk Roma 2:4 )

  • “Maukah engkau menganggap sepi kekayaan kemurahan-Nya, kesabaran-Nya dan kelapangan hati-Nya? Tidakkah engkau tahu, bahwa maksud kemurahan Allah ialah menuntun engkau kepada pertobatan?” ( Roma 2:4 )

Dalam kehidupan sosial sekarang ini kita tidak dapat mengharapkan manusia. Manusia saling mengkhianati dan menyakiti. Tidak seorangpun yang sanggup menjadi sahabat setia dan sejati mendampingi kita kecuali Tuhan Yesus. Manusia tidak pernah berbicara dan menanggapi keluhan doa dan permohonan kita. Akan tetapi Tuhan Yesus selalu bertindak menyelamatkan. Tindakan Yesus Kristus itulah yang kita sebut “ jawaban Allah” atas doa permohonan yang dipanjatkan. Oleh karena itu, marilah kita selalu mencari hadirat-Nya. Marilah kita memuliakan nama-Nya dan setia melakukan kehendak-Nya. Jikalau kita berbuat demikian. Niscaya Allah ( yang disembah di dalam Kristus Yesus ) pasti memenuhi semua janji-Nya atas hidup kita !


Soli Deo Gloria

Friday, January 1, 2010

Kuasa Doa : " Terlalu Sibuk ? Justru Harus Berdoa "


KUASA DOA : “ Terlalu Sibuk ? Justru Harus Berdoa “


“ Sesungguhnya, Allah telah mendengar, Ia telah memperhatikan doa yang kuucapkan. Terpujilah Allah, yang tidak menolak doaku dan tidak menjauhkan kasih setia-Nya dari padaku” (Mazmur 66:19-20 )


Ada sebuah penelitian yang cukup unik, yang membuktikan bahwa kuasa doa itu luar biasa bila diterapkan dalam dunia kerja. Sebuah perusahaan asuransi Amerika mengharuskan kepada seluruh salesman yang dipekerjakan untuk berdoa setiap pagi sebelum memulai kerja dan memprospek orang. Faktanya adalah mereka yang dengan tulus melakukan hal itu memiliki kinerja yang luar biasa dan mencapai hasil tiga kali lipat dibandingkan mereka yang tidak melakukannya !

Apa yang membuat doa menjadi sedemikian efektif ? Dengan doa kita merasa yakin bahwa Tuhan akan memberkati dan membuka jalan bagi kita. Dengan doa kita yakin bahwa Tuhan akan memberikan kekuatan ketika kita sedang menghadapi masalah berat. Rasul Paulus mengungkapkan hal tersebut kepada kita melalui suratnya kepada jemaat di Roma. Dia berkata jikalau kamu menderita ya berdoalah ! Anjuran dan saran tersebut tertulis di dalam Roma 12 : 12 :


  • “Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!” (Roma 12:12 )

Dengan doa kita yakin bahwa tidak ada perkara yang mustahil bagi Tuhan dan tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya kepada-Nya !


  • “Jawab Yesus: "Katamu: jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!" ( Markus 9:23 )

Doa memang hal sederhana yang bisa dilakukan oleh semua orang. Meski demikian kuasa doa adalah luar biasa, hingga membuat kehidupan kita menjadi lebih baik dari sebelumnya ! Rasul Yakobus menuliskan hal tersebut dan memberitahukannya kepada kita sebagaimana tertulis di dalam Yakobus 5 : 16 :


  • “Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya” ( Yakobus 5:16 )

Sebelum kita melakukan aktifitas pekerjaan, adalah baik jika kita mengawali dulu dengan berdoa kepada Tuhan. Itu tanda bahwa kita benar-benar mengandalkan Tuhan di dalam pekerjaan kita. Dengan kita berdoa, percayalah bahwa hikmat Tuhan akan turun ke atas kita, hingga kita bisa berpikir dengan jernih, merasa percaya diri dan tenang, mengambil keputusan dengan tepat dan melangkah dengan pasti.

Bagaimana dengan Anda ? Apakah Anda selalu mengawali pekerjaan Anda dengan doa terlebih dahulu ? Ataukah sebaliknya selama ini kita menganggap bahwa doa hanyalah sebuah ritual di gereja saja ? Libatkanlah Tuhan di tempat kerja Anda dan buktikanlah bahwa akan ada begitu banyak hal luar biasa yang Anda akan alami. Orang-orang tertarik untuk berdoa karena mereka tahu bahwa kuat kuasa Allah terutama mengalir kepada orang yang berdoa. Hudson Taylor berkata : “ Bahwa kalau kita bekerja, kita yang bekerja ; tetapi kalau kita berdoa, Tuhanlah yang bekerja”. Semakin Anda meyakini kemahasanggupan Allah, semakin diperlihatkan-Nya kesanggupan-Nya kepada Anda.Hal ini telah dikatakan Tuhan Yesus dalam Firman-Nya sebagai berikut :


  • “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! Asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya” ( Markus 11:23 )

Bila Anda berdoa, percayalah Anda akan melihat satu pameran kuat kuasa Allah.Anda akan melihat betapa mengagumkannya kuasa doa itu. Doa akan mengubah segalanya. Doa akan mengubah kehidupan Anda !


Soli Deo Gloria


Thursday, December 31, 2009

Pemilihan Allah Menjadi Sumber Kekuatan Dan Penghiburan Kita


Refleksi Teologis


Pemilihan Allah Menjadi Sumber Kekuatan Dan Penghiburan Kita


“Dengan jalan demikian seluruh Israel akan diselamatkan, seperti ada tertulis: "Dari Sion akan datang Penebus, Ia akan menyingkirkan segala kefasikan dari pada Yakub.Dan inilah perjanjian-Ku dengan mereka, apabila Aku menghapuskan dosa mereka." Mengenai Injil mereka adalah seteru Allah oleh karena kamu, tetapi mengenai pilihan mereka adalah kekasih Allah oleh karena nenek moyang” ( Roma 11 : 26-28 )


Pemilihan Allah dapat menjadi sumber kekuatan dan penghiburan. Kalau pemilihan kita berdasarkan perbuatan amal, kita bisa saja kehilangan status kita sebagai orang pilihan Allah begitu perbuatan itu menjadi berkurang. Kita mau tidak mau akan hidup dalam ketegangan dan ketidakpastian karena hasil yang defenitif ( Hasil yang pasti) tidak dapat diketahui. Sebaliknya kalau pemilihan Allah oleh karena kasih karunia-Nya, hal itu berarti kasih karunia itu menjadi jaminan. Dia akan memelihara kita, dan kita tidak mungkin lepas dari tangan-Nya ( Bdk Efesus 2:8-9, Yoh 15:16).

  • “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu” ( Yoh 15:16).

  • “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri” ( Efesus 2:8-9 )

  • “Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman” ( Yoh 6:44)

  • “Lalu Ia berkata: "Sebab itu telah Kukatakan kepadamu: Tidak ada seorang pun dapat datang kepada-Ku, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya." ( Yohanes 6:65)

Soli Deo Gloria


Doa : Bapa kami yang bertahta di dalam kerajaan sorga. Ya Allah Abraham, Ishak dan Yakub. Ya Allah Israel, Allah yang kami sembah dan kami kenal di dalam nama Tuhan Yesus. Kami bersyukur buat kasih karunia-Mu yang berkenan memilih kami di dalam Kristus menjadi umat pilihan-Mu sebelum dunia ini dijadikan.Berikanlah kami kekuatan dan pertolongan agar kami tetap setia untuk melayani dan menyembah-Mu. Dan peliharalah iman percaya kami ya Bapa yang baik. Ajarlah dan bimbinglah kami supaya kami tidak menyombongkan kedudukan kami sebagai umat pilihan-Mu, karena itu semua hanyalah berkat kasih karunia-Mu dan oleh karena jasa Kristus semata dan bukan ada jasa-jasa dari pihak kami.Dan berkati serta lindungilah kiranya umat-Mu Israel keturunan asli Abraham, Ishak dan Yakub yang adalah kekasih-kekasih-Mu dimanapun mereka berada di dunia ini ya Bapa, oleh karena kasih karunia-Mu dan oleh karena kasih setia-Mu. Di dalam nama Tuhan Yesus kami datang berdoa dan bersyukur kepada-Mu. Amin.


Thursday, December 17, 2009

Benarkah Kelahiran Tuhan Yesus Tanggal 25 Desember ? Apakah Natal Itu Kafir ?


BENARKAH KELAHIRAN TUHAN YESUS TANGGAL 25 DESEMBER ? APAKAH NATAL ITU KAFIR ?


“Lalu kata malaikat itu kepada mereka: "Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud” ( Lukas 2:10-11 ).


Bagaimana dengan perayaan Natal, perayaan mengenang kelahiran Yesus di Betlehem ( Mat 1:18, Mat 2:12 , Luk 2:1-20 ), yang umumnya dirayakan umat Kristen pada tanggal 25 Desember setiap tahun ? Ada yang menganggap perayaan ini sebagai perayaan kafir sebab :


Yesus tidak dilahirkan pada bulan Desember, tetapi bulan Tishri ( September-Oktober ), dan tanggal 25 Desember adalah hari peringatan Dewa Matahari ( Saturnalia ).


Pada bulan apakah Yesus dilahirkan ? Benarkah seperti yang dikatakan tradisi gereja yang menyebutkan Yesus dilahirkan pada tanggal 25 Desember ? Kelihatannya tanggal dan bulan ini memang tidak tepat, soalnya pada bulan Desember-Januari, di Yudea, iklimnya cukup dingin dengan beberapa tempat bersalju sehingga agaknya tidak mungkin para gembala bisa berada di Padang Efrata dalam keadaan musim demikian ( Bdk Luk 2:8). Demikian juga Kaisar Agustus tentunya tidak akan mengeluarkan kebijakan sensus dan menyuruh penduduk Yudea melakukan perjalanan jauh dalam suasana musim dingin yang mencekam.

Ada pendapat lain yang mengemukakan bahwa Yesus mungkin dilahirkan pada sekitar bulan Tishri ( September- Oktober ), yaitu pada saat hari raya Pondok Daun pada saat iklimnya menunjang. Argumentasi bulan Tishri dikemukakan karena masa penugasan Zakharia masuk ke Bait Allah adalah sekitar bulan Siwan ( Mei-Juni). Dengan memperhitungkan lama kandungan Elizabeth dan Maria, diperkirakan kelahiran Yesus terjadi pada sekitar Hari Raya Pondok Daun ( September- Oktober ).

Sekalipun kemungkinan kelahiran Yesus pada bulan Desember adalah jauh mengingat musimnya dan ada yang memperkirakan sekitar bulan September-Oktober, kita tidak akan tahu secara pasti pada bulan apa Yesus lahir di dunia dan yang perlu dikenang oleh umat Kristen bukan perayaannya pada hari tertentu, melainkan makna kelahiran Juruselamatnya.

Umat Kristen pada abad pertama tidak merayakan Natal seperti umat Kristen sekarang. Mereka lebih terpukau untuk merayakan hari kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus yang dikenal sebagai hari Paskah, dan belum memikirkan hari kelahiran-Nya. Sebenarnya, hari Epifani (manifestasi ) yang dirayakan oleh Gereja Timur (Ortodoks) pada tanggal 6 Januari dimaksudkan untuk merayakan hari pembaptisan Yesus di Sungai Yordan. Perayaan Epifani juga masih dirayakan saat ini dengan memberkati air baptisan di gereja Timur dan Sungai Yordan. Hal ini sudah dilakukan sejak abad ke 3.

Di Gereja Barat ( Katolik ), hari Epifani itu dirayakan juga untuk mengingat kunjungan orang Majus untuk menyembah bayi Yesus. Sejak abad ke-4, perayaan ini dilakukan untuk mengenang peristiwa yang terjadi sekitar manifestasi kelahiran Yesus di Betlehem. Dalam kaitan dengan perayaan pembaptisan Yesus itu, pada malam tanggal 5 Januari sekaligus dirayakan peringatan kelahiran Yesus. Data tertulis yang mencatat perayaan kelahiran Yesus itu sudah ada pada abad ke-4.

Pada tahun 274, hari kelahiran Dewa Matahari mulai dirayakan di Roma khususnya pada tanggal 25 Desember sebagai penutup festival Saturnalia ( 17-24 Desember) di mana matahari mulai kembali menampakkan sinarnya dengan kuat pada akhir salju tanggal itu. Menghadapi perayaan kafir yang sangat kuat ini, umat Kristen umumnya meninggalkannya dan tidak lagi mengikuti upacara tersebut. Namun dengan adanya proselitasi ( Pengkristenan ) orang Roma secara massal sejak Kaisar Konstantin menjadi Kristen, banyak orang Roma yang tetap merayakan hari Dewa Matahari itu sekalipun telah mengikuti agama Kristen. Kenyataan ini mendorong para pemimpin gereja kala itu berusaha mengalihkan penyembahan Dewa Matahari itu dan menggantinya menjadi perayaan Matahari Kebenaran, yang kemudian menggantinya menjadi “Perayaan Natal”.

Sejak tahun 336, secara resmi perayaan Natal dilakukan pada tanggal 25 Desember sebagai pengganti tanggal 5-6 Januari. Ketentuan ini diresmikan oleh Kaisar Konstantin yang kala itu menjadi lambang Raja Kristen. Perayaan Natal kemudian dirayakan di Anthiokia ( Tahun 375 ), Konstantinopel ( tahun 380), dan Aleksandria, Mesir ( tahun 430), yang kemudian menyebar ke tempat-tempat lain.

Dari data sejarah tersebut kita dapat mengetahui bahwa Natal bukanlah perayaan Dewa Matahari. Namun, untuk mengalihkan orang Roma dari perayaan Dewa Matahari ke arah Tuhan Yesus Kristus, tradisi perayaan Natal tanggal 5-6 Januari digeser ke sini, agar umat Kristen tidak lagi mengikuti tradisi kafir dengan merayakan hari Dewa Matahari.

Sekalipun kala itu masih ada umat Kristen yang mendua hati dengan masih merayakan hari Dewa Matahari, namun umat Kristen yang bertobat tidak lagi mengartikan hari itu sebagai hari Dewa Matahari, tetapi sebagai peringatan kelahiran Tuhan Yesus Kristus .


PENUTUP


Merayakan hari Natal sebagai perayaan Kristen baik sekali untuk mengenang kelahiran Immanuel, Allah yang inkarnasi menjadi manusia Yesus, agar sekeluarga dapat menghormati-Nya dan menganut ajaran-Nya dengan sepenuh hati karena Tuhan Yesus yang menjadi Juruselamat manusia telah hadir di bumi dan mendatangkan sukacita dan damai sejahtera bagi manusia, sesuai berita sukacita Natal sebagai berikut :

“ Kemuliaan bagi Allah di tempat yang maha tinggi dan damai sejahtera di bumi diantara manusia yang berkenan kepada-Nya…Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka…” ( Luk 2:14,20)


Soli Deo Gloria

Sunday, November 15, 2009

Pernikahan Dan Keluarga Kristen : " Cerai ! Bolehkah ? "


PERNIKAHAN DAN KELUARGA KRISTEN : “ CERAI ! BOLEHKAH ? “


“Dan sekarang tentang hal-hal yang kamu tuliskan kepadaku. Adalah baik bagi laki-laki, kalau ia tidak kawin, tetapi mengingat bahaya percabulan, baiklah setiap laki-laki mempunyai isterinya sendiri dan setiap perempuan mempunyai suaminya sendiri. Hendaklah suami memenuhi kewajibannya terhadap isterinya, demikian pula isteri terhadap suaminya. Isteri tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi suaminya, demikian pula suami tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi isterinya. Janganlah kamu saling menjauhi, kecuali dengan persetujuan bersama untuk sementara waktu, supaya kamu mendapat kesempatan untuk berdoa. Sesudah itu hendaklah kamu kembali hidup bersama-sama, supaya Iblis jangan menggodai kamu, karena kamu tidak tahan bertarak “ ( 1 Korintus 7:1-5 )


Apa jalan keluar terbaik bagi pasangan suami istri yang konfliknya sudah memuncak ? Firman Tuhan dalam Matius 19:6 “….mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia “ ( Mat 19:6).

Kalau begitu tidak perlu menikah, hidup bersama saja tanpa ikatan perkawinan, tanpa komitmen. Gaya hidup seperti ini tidak sesuai dengan firman Tuhan. Di mata Tuhan adalah dosa. Rasul Paulus berkata, daripada jatuh dalam dosa, lebih baik menikah ( Bdk 1 Kor 7:2 ).

Ingatkah dulu waktu anda belum punya pacar, setiap hari khawatir kapan mendapat pacar ? Waktu anda sedang pacaran, anda selalu mennatikan kabar dari dia dan hati anda selalu berbunga-bunga. Anda selalu menantikan saat bertemu si dia.

Lalu setelah menikah, masakan anda berkata : “ Ia sudah terlalu menyakiti hatiku. Aku tak tahan lagi hidup bersama dia. Aku mau cerai saja ! “

Siapa yang berhak memutuskan ikatan perkawinan ? Suami ? Atau istri ? Tidak ada! Tak ada satupun manusia yang berhak memutuskan ikatan perjanjian perkawinan. Rasul Paulus dalam 1 Kor 7:5 dengan tegas menulis, “ Janganlah kamu saling menjauhi,….” Tentunya hal ini berlaku untuk pasangan yang diberkati di gereja yaitu bagi suami dan istri yang sudah mengucapkan janji pernikahan di hadapan Allah dan di hadapan jemaat.

Pernikahan kudus adalah ikatan perjanjian ( covenant ) seperti perjanjian Allah dengan umat-Nya. Salah satu penyataan Allah kepada umat Israel adalah “ Janganlah takut, sebab Aku telah menebus engkau, Aku telah memanggil engkau dengan namamu, engkau ini kepunyaan-Ku “ ( Yes 43:1 ).

Hanya oleh karena anugerah-Nya pasangan suami istri (pasutri) dapat saling memberi diri, saling menerima apa adanya, saling mengampuni, dan saling menguduskan. Kalau anda sedang mengalami konflik dengan pasangan hidup anda, berdoalah ! Mintalah kasih setia Allah memenuhi kembali hati anda. Ingatlah Tuhan Yesus sudah memberi diri-Nya untuk anda dan pasangan hidup anda. Anda dan dia adalah satu di dalam Tuhan. Hai pasutri Kristen, janganlah sedetikpun berpikir untuk cerai. Tidak ada kata “cerai” dalam kamus pernikahan Kristen !

Pernikahan diciptakan sebagai hubungan yang permanen ( Bdk Kej 2;24, Mat 19:4). Alkitab juga berkata bahwa perceraian adalah dosa dan dibenci Tuhan ( Mal 2:16 ).

Cobalah kita baca dan renungkan ayat Firman Tuhan dibawah ini :


“Sebab Aku membenci perceraian, firman TUHAN, Allah Israel -- juga orang yang menutupi pakaiannya dengan kekerasan, firman TUHAN semesta alam. Maka jagalah dirimu dan janganlah berkhianat!” ( Maleakhi 2:16 )


Perceraian tidak berasal dari Allah dan tidak pernah direstui Allah baik melalui para nabi maupun melalui para rasul. Perceraian terjadi oleh buatan manusia dan karena kedegilan hati manusia. Umat Israel yang seharusnya menjadi teladan bagi bangsa-bangsa lain justru gagal dan meniru kebiasaan buruk dari bangsa kafir untuk mempraktekkan perceraian di tengah-tengah umat Israel. Tuhan Yesus sendiri melarang perceraian dan pernikahan kembali setelah perceraian.

Membuat pernikahan menjadi lebih baik itu berarti menjauhkan diri dari pemikiran perceraian dari setiap pasangan Kristen. Perceraian bukan jalan yang terbaik dalam pemecahan permasalahan suami istri, melainkan penyelesaian dengan cinta kasih dari Kristus, dengan perdamaian dan usaha keras dari pasutri untuk menjaga pernikahan. Suami-istri harus berusaha menyelamatkan pernikahan dengan sedalam-dalam dan sesempurnanya. Pernikahan yang tetap berdasarkan Firman Allah akan tetap diberkati Allah. Kasih, kesetiaan dan ketaatan terhadap Firman Allah akan melindungi pernikahan Kristen dari segala pengaruh buruk dan kehancuran dari dunia yang berdosa dimana orang percaya diutus. Oleh sebab itu keluarga Kristen harus menolak perceraian dan pernikahan kembali.


Friday, November 6, 2009

Serahkanlah Perkaramu Dan Kuatirmu Kepada Tuhan


SERAHKANLAH PERKARAMU DAN KUATIRMU KEPADA TUHAN


“Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Jangan memusnahkan. Miktam dari Daud, ketika Saul menyuruh orang mengawasi rumahnya untuk membunuh dia. Lepaskanlah aku dari pada musuhku, ya Allahku; bentengilah aku terhadap orang-orang yang bangkit melawan aku. Lepaskanlah aku dari pada orang-orang yang melakukan kejahatan dan selamatkanlah aku dari pada penumpah-penumpah darah. Sebab sesungguhnya, mereka menghadang nyawaku; orang-orang perkasa menyerbu aku, padahal aku tidak melakukan pelanggaran, aku tidak berdosa, ya TUHAN, aku tidak bersalah, merekalah yang lari dan bersiap-siap. Marilah mendapatkan aku, dan lihatlah! Engkau, TUHAN, Allah semesta alam, adalah Allah Israel. Bangunlah untuk menghukum segala bangsa; janganlah mengasihani mereka yang melakukan kejahatan dengan berkhianat! Pada waktu senja mereka datang kembali, mereka melolong seperti anjing dan mengelilingi kota. Sesungguhnya, mereka menyindir dengan mulutnya; cemooh ada di bibir mereka, sebab -- siapakah yang mendengarnya? Tetapi Engkau, TUHAN, menertawakan mereka, Engkau mengolok-olok segala bangsa. Ya kekuatanku, aku mau berpegang pada-Mu, sebab Allah adalah kota bentengku. Allahku dengan kasih setia-Nya akan menyongsong aku; Allah akan membuat aku memandang rendah seteru-seteruku. Janganlah membunuh mereka, supaya bangsaku tidak lupa, halaulah mereka kian ke mari dengan kuasa-Mu, dan jatuhkanlah mereka, ya Tuhan, perisai kami! Karena dosa mulut mereka adalah perkataan bibirnya, biarlah mereka tertangkap dalam kecongkakannya. Oleh karena sumpah serapah dan dusta yang mereka ceritakan, habisilah mereka dalam geram, habisilah, sehingga mereka tidak ada lagi, supaya mereka sadar bahwa Allah memerintah di antara keturunan Yakub, sampai ke ujung bumi.Pada waktu senja mereka datang kembali, mereka melolong seperti anjing dan mengelilingi kota. Mereka mengembara mencari makan; apabila mereka tidak kenyang, maka mereka mengaum. Tetapi aku mau menyanyikan kekuatan-Mu, pada waktu pagi aku mau bersorak-sorai karena kasih setia-Mu; sebab Engkau telah menjadi kota bentengku, tempat pelarianku pada waktu kesesakanku. Ya kekuatanku, bagi-Mu aku mau bermazmur; sebab Allah adalah kota bentengku, Allahku dengan kasih setia-Nya” ( Mazmur 59 : 1-18 )


Bagaimana cara kita memandang masalah ? Seberapa sering kita menyerahkan masalah kita kepada Tuhan ? Apakah kita percaya bahwa Tuhan Yesus lebih besar dari masalah kita ? Daud menghadapi masalah yang sangat berat. Ia dikejar-kejar dan nyawanya terancam. Yang memburu dia adalah Saul, raja Israel. Ironisnya ia sama sekali tidak melakukan perbuatan yang membuat dia layak diperlakukan sebagai buronan dengan ancaman hukuman mati ( Mazmur 59 : 4-5a ). Lalu kenapa Saul begitu bernafsu menghabisi nyawanya ? Karena Saul merasa kedudukannya terancam akibat keberhasilan Daud dalam perang. Daud tidak dianggap sebagai pahlawan bangsa, tetapi justru sebagai rival yang mengancam tahta. Ia khawatir jabatannya beralih ke tangan Daud. Maka satu-satunya cara untuk mengatasi hal itu, Daud harus disingkirkan.

Bagaimana Daud menanggapi ancaman maut dari Saul ? Ia berseru kepada Allah dan memohon kelepasan dari penyerangannya, orang yang bermaksud membunuh dia ( Mazmur 59: 2-3, 5b-8 ). Ia mengibaratkan orang itu seumpama anjing yang memanfaatkan senja untuk menyerang orang ( Mazmur 59: 7-8, ayat 15-16). Bagaimana Daud memandang masalahnya dari sudut pandang Tuhan ? Ia tahu bahwa Tuhan menertawakan orang itu ( Mazmur 59:9). Artinya Tuhan memandang remeh tindakan orang itu. Maka tidak ada keraguan bagi Daud untuk menyerahkan perkaranya kepada Tuhan ( Mazmur 59:10-14). Ia berharap Tuhan memakai mereka sebagai pelajaran agar orang tahu bagaimana Allah menghukum orang yang melawan Dia dan yang diurapi-Nya ( Mazmur 59:12 ).

Masalah berat dengan ancaman nyawa tidak membuat Daud panik dan melupakan Tuhan. Meski berhadapan dengan penguasa yang bisa saja membinasakan dirinya, Daud tahu bahwa semua itu tidak berarti apa-apa bagi Tuhan.

Mazmur Daud ini kiranya menguatkan kita tatkala kita menghadapi orang-orang yang memusuhi kita. Kita dapat berdoa dan meminta Tuhan campur tangan dalam setiap masalah dan pergumulan hidup kita. Percayalah bahwa Allah tidak akan tinggal diam. Dia tidak akan membiarkan kejahatan berjaya dan tidak akan membiarkan sesuatu apapun yang dapat memisahkan kita dari kasih setia-Nya ( Bdk. Roma 8: 31-39 ).


Soli Deo Gloria